Diam-Diam Aku Mengagumimu

Dia yang Jujur, Pantang Curang.

Pernah ketika ujian salah satu matakuliah. Diasudah belajar dengan maksimal pada malam sebelumnya. Tetapi ketika ujian, yang dipelajari tidak keluar. Dia blank, lupa pada bagian-bagian tertentu. Lantas apa yang dilakukan? Mengumpulkan lembar jawaban apa adanya dan keluar kelas. Meskipun waktu ujian masih lama. Baru saja 15 menit berjalan. Pantang sekali berbuat kecurangan. Pernah dia berpikir kalau kamu lulus dengan hasil mencontek, kemudian mendapatkan ijasah. Lalu, ijasah tersebut gunakan untuk mencari pekerjaan. Maka hasil dari pekerjaan itu adalah haram.

Kalau saya simpulkan kalau kemampuannya segitu ya ngapain dipaksakan? Mencontek atau membuka catatan kecil ketika ujian berarti membohongi diri sendiri. Hasilnya tak akan mencerminkan kemampuan diri. Tujuan ujian salah satunya kan mengetahui seberapa materi yang sudah dikuasai. Kalau belum ya tinggal belajarnya diulangi lagi toh. Nyatanya banyak mahasiswa yang ogah mengulang kalau tidak bisa. Memilih instan dan lulus dengan kecurangan.

Dengan keras dia bilang, ”Kalau tidak siap, saya akui, dan saya anti-kecurangan”

Dia yang biasa saja dalam hal agama. Tetapi punya amal andalan.

Mungkin pengetahuan agamnya dalam kategori standar muslim lah. Sama saja dengan mahasiswa rata-rata misalnya kalau menjadi imam masih gerogi, bacaannya tidak terlalu fasih, tidak menunjukkan tanda-tanda memiliki hafalan yang luar biasa. Tetapi ada satu hal yang mengagumkan darinya. Dia mampu menjaga sholat lima waktunya tepat dan berjamaah. Hebat untuk kelas mahasiswa yang super sibuk sepertinya. Dikombinasikan dengan istiqomah dalam sholat dhuha. Istimewa. Sejauh itu saya menilainya. Bisa saja diluar pengetahuan yang terbatas ini, dia lebih dari apa yang saya bayangkan.

Dia yang berpemikiran kritis.

Hal sepele misal mencontek ketika ujian, bolos kuliah dan titip absen selalu dia kritisi. Apalagi masalah rokok dan dunia malam yang tidak baik itu. Tak sudi ia mendekatinya. Pun, terhadap politik dalam negeri. Kebijakan pemerintah yang melenceng, kewajiban mahasiswa, dan solusi yang simple, mengena, tapi patut diiyakan juga. Pemikirannya terkesan nyelneh tapi sebenarnya filosofinya dalam. Betul, keyword-nya adalah filosofi atas sebuah pesan dan setiap perkataannya.

Dia yang kuliah dengan sepenuh hati niat untuk belajar.

Tidak kenal apa itu menggantungkan diri kepada orang lain. Diam-diam mengerjakan tugas sendiri dalam senyap. Mandiri dan tak terduga kinerjanya. Tiba-tiba dengan santainya berkata pada teman lain yang sedang panik dengan tugasnya, ”Saya sudah mengerjakan kok, tapi ngawur”. Batin saya, ”Ah, mana mungkin kamu dengan enteng begitu bilang ngawur”. Nilainya terhadang bagus diantara teman yang lain. Usahanya sepertinya nol. Tetapi saya yakini betul, di kamar kostnya pasti banyak catatan motivasi belajar. Dia belajar banting tulang untuk mendapatkan yang terbaik. Namun, terakhir saya dapati dia tidak terlalu banting tulang juga kok. Biasa saja, menyesuaikan dengan kemampuan dan waktu. Kalau capek dan waktunya tidur ya istirahatlah dia. Itu pun hanya estimasi dari hasil ujian tengah semesternya kemarin dan beberapa ceritanya ketika mengerjakan ujian tersebut.

Dia pemimpin yang amanah.

Tanggung jawabnya sangat besar sebagai seorang direksi utama di salah satu ukm prestis di kampus. Dia mengembannya dengan tenang. Diam orangnya. Tetapi kinerjanya sungguh menghanyutkan. Tak terlihat dari luar tetapi diam diam menyelsaikan tugasnya sebagai pemimpin. Memerintahkan bawahannya dengan rapi.

Ada yang menarik. Ketika suatu waktu, saya memutar video di youtube. Kebetulan saya memutar Ost. Shincan. Dia bernyanyi. Saya bilang, ”kamu cocok nyanyi ini, kamu kan mirip Shincan”. Dia menjawab dengan nada yang nggak enak, ”wih ngecene rek”. (’ngece’ means mengejek)

Sial! Lagi-lagi salah ucap. Padahal niat hati ingin bercanda eh ditanggapi serius. Manusia oh manusia. Saya tak sampai memahami dengan kaffah. Sulit sekali, anda punya emosi yang naik turun tergantung mood. Dan itu membuat bingung dan sampai sekarang tak juga mampu memodelkan secara matematis pengaruh sikap saya terhadap reaksi anda.

Dia yang Superhemat, Tapi tidak Pelit

Satu hal lagi yang membikin terkagum sangat. Dia hemat dan tahu kemampuan orang tua. Saya tidak tahu pasti dia dapat beasiswa bidikmisi atau beasiswa biasa. Tapi yang jelas dia tak ingin lama lama kuliah, takut membebani orang tuanya terlalu berat. Ada lagi kebiasaan anehnya, membuat struk/nota/bon setiap transaksi keuangan. Dicatat dan dibukukan. Nantinya akan dilaporkan pada orang tuanya. Pernah saya tanya tentang kebiasaannya itu. katanya, diajarkan dari orang tuanya. Keluarga yang ketat namun tetap dinamis. Hingga akhirnya terbentuk pribadi yang seperti dia kini.

Orangnya santai, tekun dalam beribadah, takut melakukan dalam kecurangan dan kemaksiatan, tapi juga punya sifat dasar manusia pada umumnya misal malas, moody, lelah akan banyaknya tugas, tergoda kalau ada perempuan, dan kadang keceplosan dalam mengucap.

Sekali lagi, saya kagum. Maaf atas kediam-diaman ini.

Advertisements

3 thoughts on “Diam-Diam Aku Mengagumimu

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s