Mencicipi Taman Surga Watu Lapis

Lagi, Lumajang bagian barat menyuguhkan pesona alamnya. Lereng Semeru memberikan keuntungan daerah di sekelilingnya, salah satunya adalah dengan adanya keberadaan air terjun Watu Lapis.

Wajah watu lapis dari dekat
Wajah watu lapis dari dekat

Air terjun Watu Lapis terletak di desa paling barat Kecamatan Pasrujambe, yaitu Ds. Tawonsongo. Segar dan jernih airnya, belum digunakan oleh manusia karena tidak ada rumah di atas aliran sungainya. Air mengalir diantara bebatuan  hitam pekat yang tersusun berlapis-lapis dengan tekstur yang unik. Kesan dramatis air jatuh dengan gemuruh kian terasa membahana.

Tekstrur dan alirannya
Tekstrur dan alirannya

Dari kejauhan, setapak demi setapak bambu terus terlalui. Di kanan dan kiri disambut oleh tanaman kecil yang berjajar menyerupai pagar. Macam-macam jenisnya bikin hati ceria. Segerombol bambu memang dibiarkan hidup untuk menjaga kelestarian alam dan sumber airnya.

Bersantai diantara taman bukit berbunga
Bersantai diantara taman bukit berbunga
Bunga yang bermekaran
Bunga yang bermekaran

Tempat duduk tersebar diantara taman yang terpisah oleh sungai kecil. Tempat duduknya terbuat dari bambu. Dilengkapi dengan gubuk serba bambu pula. Berada diantara tanaman hijau dengan bunga yang berwarna warni akan mampu menyejukkan mata dan merindangkan hati.

Jalan setapaknya :)
Jalan setapaknya 🙂

Apalagi ditambah dengan air terjun yang gagah sebagai pusatnya. Deras alirannya menimbulkan bulir lebat angin disekitarnya. Werr.. dingin menerpa wajah.

Duduk santai sembari menikmati cemilan yang tersedia di warung yang berada tepat disamping air terjun. Dapat pula memesan minuman hangat, seperti kopi dan teh serta aneka gorengan.

Kecil dibandingkan dengan megahnya air terjun
Kecil dibandingkan dengan megahnya air terjun

Atau kalau ingin berbasah-basahan, kegiatan mandi di bawah air terjun juga sayang untuk dilewatkan. Selain bermain dengan air, terlebih menengadahkan bagian badan ke arah arus air juga bisa menjadi alternatif pijat refleksi. Khasiat air yang alami dan gaya gravitasi alam diyakini mampu mengusir berbagai macam penyakit, seperti pegal-pegal.

Terlepas dari itu, merasakan energi alam secara langsung memang membuat jasmani dan rohani menjadi rileks kembali. Yang tegang menjadi santai kembali. Yang penat menjadi segar kembali. Relax and refresh, ya.

Bapak tukang penjaga, pengunjung, gubuk, dan tempat parkir
Bapak tukang penjaga, pengunjung, gubuk, dan tempat parkir

Aksesabilitinya tergolong mudah. Sekitar 35 Km dari pusat kota. Sekitar 7 Km dari pasar Pasrujambe. Sepanjang perjalanan akan disuguhi oleh pemandangan khas desa di kaki gunung Semeru. Jalan aspal berkelok-kelok menyusuri sawah, ladang, gunung, gubuk, dan segala tradisionalitas manusianya. Sesampainya di Tawonsongo, badan jalan menyempit hingga satu lajur saja dengan medan tanah liat menyusuri kebun kopi warga sekitar 1 Km.

Jalan setapak dipenuhi warna-warni taman ditambah dengan kali kecil yang mengalir
Jalan setapak dipenuhi warna-warni taman ditambah dengan kali kecil yang mengalir

Dan semua akan menjadi sempurna ketika melewati pematang kanan jalan berupa taman dan kali yang bermercik dibagian kirinya. Melewati gladak dari bambu, bahkan terkadang harus nyebur ke kali untuk sampai ke tujuan. Wahana pipa bocor yang menyembur ke jalan dan melintang di jalan juga akan mendramatisir perjalanan.

Menjajal hidup berdampingan sementara dengan warga di pedesaan juga akan menjadi pengalaman tak terlupakan. Saya sendiri ketika pulang, mendapati momen tak terlupakan.

Ada segerombolan bapak-bapak dengan sepeda trail-nya menyalip. ”Nun sewu..” Sapaan adat jawa dan senyuman mendarah daging menjadi tradisi.

Mereka juga dalam perjalanan pulang dengan membawa dahan dan dedaunan untuk makanan hewan ternaknya. Jalan menanjak sedangkan beban berat tak mampu ditopang sepedanya.

Bruugg..

Salah satu sepeda jatuh menyamping dan hampir terseret ke bawah. Saya robohkan sepeda motor diantara semak-semak, dan ikut menahan sepeda. Eh ada pemuda lain yang turut membantu mendorong dan menyemangati sehingga sepeda bangun dan mampu menggapai puncak tanjakan.

Warga pulang dengan sayur mayur untuk ternaknya
Warga pulang dengan sayur mayur untuk ternaknya

Matur nuwun.. Salam perpisahan dari dataran tinggi Tawonsongo.

Tip: Perhatikan cuaca. Ketika musim hujan jalan menjadi berlumpur dan licin. Tidak disarankan sepeda dibawa masuk hingga ke tempat parkir. Kalau ingin berkunjung bisa jalan kaki saja dari rumah terakhir. Sekitar 1 Km.

Note: Tempat ini sejalur dengan Air Suci Watu Klosot. Cocok untuk dijadikan satu itinerary perjalanan.

Further Information: Klik disini.

Tarif masuk : 3.000,-

Parkir : 2.000,-

Jangan lupa buang sampah pada tempatnya!

Ingat! Alam bukan tempat sampah
Ingat! Alam bukan tempat sampah

Tempat sampah sudah tersedia disana berkat beberapa komunitas peduli alam yang menyambangi salah satu aset wisata Lumajang yang sedang populer ini.

Alam bukan tempat maksiat

Update: Maret 2015

Selamat berlibur.

Advertisements

12 thoughts on “Mencicipi Taman Surga Watu Lapis

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s