Sekolah, Butuh nggak sih?

Sekolah seolah menjadi wajib ‘ain (wajib yang tidak bisa ditawar lagi) bagi setiap manusia lahir di Nusantara. Orang tua jarang sekali berpikir, menyekolahkan anak atau tidak ya? Kalau pun jawabannya tidak karena faktor lain, misalnya keuangan, dalam hati orang tua pasti ingin menyekolahkan anaknya. Hampir-hampir mereka taklid –tidak berpikir lagi– mengenai sekolah ini.

Berangkat Sekolah Yuk! (Sumber: aai.uns.ac.id)
Berangkat Sekolah Yuk! (Sumber: aai.uns.ac.id)

Nggak menyekolahkan anak, gengsi sama tetangga.

Ditanya, ”Mau dikemanakan anak umur 4 tahun begini?”

Dengan PD-nya mereka jawab, ”Masuk sekolah lah. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan TK (Taman Kanak-Kanak)”

Ironisnya, mereka tidak berpikir tentang perlu tidaknya sekolah usia dini. Bisa jadi mereka berpikir. Tapi, berpikir tentang karena kurangnya pengetahuan mereka tentang parenting dan kebutuhan interaksi yang lebih terjamin, mereka memilih menyekolahkan buah hatinya.

Keputusan mereka menyekolahkan anaknya tidak salah. Masa usia dini (0-6) adalah usia emas. Penentu kepribadian dan pola kebiasaan dibentuk pada masa ini. Guru atau mentor berpengalaman siap membantu perkembangan aspek kognitif dan afektif anak pada masa vital anak. Memperlebar jaringan sosial anak. Pengenalan terhadap lingkungan juga.

Namun, semua itu tetap harus dibarengi dengan pantauan keluarga. Bagaimana pun keluarga tetap harus punya andil terbesar terhadap perkembangan anak. Porsi gizi dan umpan yang meningkatkan kecerdasan otak anak harus dijaga. Yang tak kalah penting adalah memantau lingkungan tempat mereka bersosialisasi.

Schooling more but education less

Tidak sekolah, label / cap ’tidak terpelajar’ akan melekat seumur hidup. Begitulah teori sosiologi tentang labeling yang beredar di masyarakat kini.

Padahal yang dibutuhkan anak sebenarnya bukan sekolahnya tetapi pendidikannya. Sekolah adalah salah satu jalan menempuh pendidikan. – Hafidh Frian Perdana

Dewasa ini, sekolah makin tidak menunjukkan mendidiknya. Minat dan bakat siswa makin ditenggelamkan. Penyeragaman atas mutu dan standar terus menggerusnya. Parameter dibuat dan harus dicapai. Tanpa peduli kemampuan lain siswa.

Penyeragaman kualitas lulusan ini sangat menguntungkan bagi industri. Pengusaha butuh standar SDM sesuai dengan kebutuhan. Revolusi industri menuntut buruh memiliki skill minimum sesuai ketentuan. Buktinya, lulusan sekolah SD, SMP, dan SMA di Indonesia berbondong-bondong memadati kawasan padat karya untuk melamar menjadi karyawan.

Jarang yang punya inisiatif untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Karena apa? Bakat, minat, dan kreativitasnya mati ketika harus berhadapan dengan standar kompetensi.

Contoh sederhananya demikian. Ujian matematika tiba. Seluruh siswa mengerjakan soal mengenai luas bidang 2D. Keesokan harinya, si A mendapatkan nilai baik dan si B mendapatkan nilai buruk. Karena nilainya jelek terus, si B akhirnya tidak naik kelas. Padahal dibalik itu, si B adalah anak yang memiliki kemampuan menghitung laba, menentukan harga jual berdasarkan usaha dan biaya modal yang dikeluarkan, merencanakan pembelian, menetapkan sasaran bisnis ikan milik orang tuanya.

Dalam kasus ini, guru hendaknya menjadi garda terdepan menentukan kebijakan untuk murid. Bukan malah menjatuhkan.

Kalau ditelisik lagi, yang dibutuhkan adalah keragaman bukan penyeragaman. Siswa diapresiasi bukan hanya dari aspek akademik saja. Hendaknya prestasi di bidang lain juga diberi penghargaan. Misalnya, murid yang memenangi pekan olahraga nasional. Jangan lantas dimarahi ketika di kelas karena tidak bisa mengerjakan soal pengetahuan alam misalnya. Biarkan, beri kebebasan sedikit. Dia mungkin lemah di hafalan. Asal tidak keterlaluan ya diluluskan saja.

Pun tentang pendidikan karakter. Pendidikan ini harusnya menjadi fokus utama. Bukan pelajaran eksakta. Pendidikan yang dinomor satukan. Bukan disisipkan dalam pengajaran sub bab. Seperti yang diterapkan di kurikulum 2013 yang gagal itu. Akan rancu. Guru menjadi bingung atas penilaiannya, siswa akan bingung karena tidak menangkap benang merah materi.

Karakter ya karakter. Misalnya jujur ya harus diajarkan mengenai penerapan kejujuran. Dengan tidak mencontek ketika ujian contoh kecilnya. Ketercapaian ini dan itu dalam bidang eksakta dan teori karakter akan jadi bullshit jika penerapannya nol.

Jalan lain menimba ilmu sangat banyak, kawan. Jangan terkungkung dalam tempurung. Bisa homeschooling. Bisa juga dari bimbingan langsung ulama’ atau kyai. Bisa bimbingan langsung orang tua. Atau bisa juga memilih pendidikan khusus.

Cobalah tengok sejarah. Siapa yang tidak kenal dengan Penakluk Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih. Tidak ada catatan mengenai studi atau riwayat sekolahnya. Tetapi dia bisa menjadi sejarah besar, panglima sekaligus pemimpin terbaik. Dia dibesarkan dari bimbingan dua ulama’ terkemuka pada masanya. Syaikh Aaq Syamsuddin mendidik dan membimbing Al-Fatih kecil hingga membentuk kepribadian tangguh dan taat pada Allah. Bukti nyata keberhasilan yang luar biasa.

Saya juga punya cerita tentang pendidikan khusus ala guru sekolah menegah dulu. Beliau pernah bercerita tentang sebuah perkampungan yang mana anak mudanya tidak menempuh jalur sekolah. Tetapi mereka sukses dalam kehidupannya.

Apa rahasianya? Usut punya usut, ternyata mereka tiap hari berkunjung ke sebuah rumah yang disana disediakan buku dan segala media berbagai macam ilmu. Murid bebas memilih apa yang ingin dipelajari, tidak terkungkung pada aturan dan standar yang ditetapkan di sekolah. Mereka belajar atas kesadaran pentingnya ilmu. Mereka belajar tanpa paksaan. Benar-benar atas dasar ketertarikan dan kesenangan penuh terhadap topik tertentu.

Atas asas itulah mereka memegang teguh kedisiplinan. Mereka berangkat ke rumah itu dengan gegap gempita. Dengan semangat penuh untuk belajar. Tak kenal lelah.

Ada kah murid sekarang yang punya semangat demikian? Sulit menemukan siswa yang berangkat sekolah atau kuliah dengan semangat tinggi, keriangan, dan keceriaan tentang apa yang ingin dipelajarinya. Keterpaksaan telah membunuh kecerdasan mereka.

Jadi butuh nggak sih sekolah? Menurutku nggak butuh-butuh amat kok. Yang mutlak dibutuhkan adalah ilmu dan pengetahuan. Pendidikannya. Bukan sekolah.

Pendidikan karakter yang ada di agama lebih utama daripada ilmu dunia.

Tulisan ini didapuk dan terinspirasi oleh kolom opini Jawa Pos, Tulisan Pak Daniel M Rosyid yang berjudul “Merayakan Belajar” (1/5/2015) dan tulisan Aristiana P Rahayu yang berjudul “PAUD dan Harapan Generasi Unggul” (2/5/2015)

Masih dalam suasana Hardiknas 2015, Baca juga: Regenerasi Pendidikan

Advertisements

4 thoughts on “Sekolah, Butuh nggak sih?

  1. Secara garis besar saya setuju. Namun demikian memang tergantung orientasi amsa depannya kelak.

    Kalo orientasi masa depannya adalah sebagai karyawan apalagi abdi negara, maka sekolah mutlak perlu, karena untuk masuk ke sana harus memenuhi kualifikasi latar belakang pendidikan yang dipersyaratkan, dokumen yang harus dilampirkan adalah ijazah dan sertifikat.

    Namun kalo masa depannya kelak adalah pengusaha, maka sekolah tidaklah perlu-perlu amat, karena yang dibutuhkan adalah ilmu dan pengetahuannya.

    1. Komentar yang bagus pak, cuma mau meluruskan saja, kalo orientasi mau jadi karyawan atau PNS, sekolah nggak mutlak-mutlak amat kok, yang mutlak adalah ikut ujian, ujiannya namanya penyetaraan. Disanalah letak standarisasinya. Jd bisa kok homeschool terus ikut ujian itu dan jadilah dia abdi negara. 🙂 Yg jelas kalau ingin sukses jadi manusia, berilmu kuncinya. Entah caranya bagaimana, bukan begitu pak?

  2. anak pertama saya sept nanti genap 6 tahun. anak kedua, agustus nanti genap 5 tahun. Semuanya belum sekolah. Setiap ketemu teman, sodara, dan bertanya anak2 sekolah dimana, mereka selalu berekspresi sama (kaget, heran) waktu saya bilang kalau anak2 belum sekolah.
    waktu saya jawab homeschooling, ada yang langsung bertanya “Tapi ini anak-anak normal kan? mereka nggak kenapa-napa?” jadi dikiranya saya pilih HS karena anak2 mengalami “sesuatu”

    1. Itu persepsi yang jamak di masyarakat bu, memang sulit kalau khlayak memandang HS itu sebagai sekolah untuk anak abnormal. Itu yang harus dilawan dan setidaknya diluruskan lagi pandangannya. Selagi tujuannya terbaik bagi keluarga dan anak, why not? Lanjut terus sudah. 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s