Lulus ’Dengan Pujian’ tanpa Banyak Pengorbanan

Hasil riil mengenai

Perbedaan Mengerti dan Mengingat

Pemahaman adalah pendalaman sebuah pengetahuan. Tingkatan understand berada diatas know. Untuk memperjelas, perhatikan contoh berikut,

”Seorang mahasiswa sedang mendengarkan penjelasan dosen di kelas mata kuliah Metalurgi Ekstraksi. Dari sana, dia tahu salah satu tahapan proses ekstraksi tembaga adalah pemurnian (refining)”

Mahasiswa hanya sebatas mengetahui. Tingkatan yang menuntut hafalan. Wajib, tidak bisa ditawar lagi.

”Kemudian, ia memperdalam ilmu pemurnian logam dengan membaca buku Copper Extraction. Dari buku, dia mengerti bahwa pemurnian tembaga dilakukan dengan prinsip electrorefining. Prosesnya menggunakan elektrolisis. Elektroda yang dipakai, elektrolit, produk sampingan, energy consumtion, dan standar operasional dari proses pemurnian sudah dia ketahui. Pun demikian dengan mekanisme electrorefining hingga terbentuk tembaga dengan kemurnian 99.99%”

Dalam tahapan ini, mahasiswa sudah mencapai pemahaman tentang ilmu pemurnian logam tembaga. Tingkatan yang menuntut ngerti lan faham mengenai What’s the topic and its fundamental? Why this phenomena must occur? When this process Works optimum? How does the mechanism?

Sudah jelas kan perbedaannya?

Bagaimana dengan Pendidikan di Indonesia?

Nah, sekarang mari bercermin pada pendidikan di negeri ini. Seberapa banyak murid dituntut untuk mengetahui dan menghafal materi? Sebagian besar proses belajar di kelas menuntut kapasitas memori yang besar. Itu sangat melelahkan.

Contoh kongkretnya sebagai berikut,

”Di sebuah mata kuliah materials science, mahasiswa dituntut untuk menghafal struktur kimia berbagai macam polimer komersial. Mahasiswa diuji dengan menuliskan struktur kimia polimer di kertas. Sesekali, penguji datang mengecek jawaban mahasiswa. Yang salah nulis ulang lima kali sembari dipaksa untuk mengingatnya”

Pekerjaan itu akan berat dan sia-sia. Berat karena harus ekstra kuat perjuangan untuk mengingat struktur kimia yang melilit seperti cacing memenuhi kertas. Sia-sia karena hafalan manusia sifatnya mudah hilang. Sifat manusia adalah pelupa.

Metode belajar hafalan menyebabkan siswa tidak mengerti yang sedang dipelajari. Benar, dia sudah tahu dan hafal tetapi tidak mengerti maksudnya. Dia mungkin mendapatkan nilai A dan menjadi jawara kelas.

Dia pasti bisa menjawab soal sejenis ini,

Gambarkan struktur kimia PET Polyester Terephthalate?

Tetapi mustahil bisa menjelaskan detail jawaban soal pemahaman berikut,

Bagaimana cara mensintesis PET dari penyusun berupa Asam Isophthalic, Maleic Anhydride, dan Propilen Glicol? Reaksi apa yang terjadi? Dan spesifikasi teknik yang diinginkan serta operasionalnya manufakturnya?

Mayoritas mahasiswa salah ketika manulis struktur kimia rumit PET. Selain tidak hafal penyusunnya. Tidak mengetahui reaksi dan dasar keilmuan kimia organik adalah penyebabnya.

Dengan memahami dasar ilmu kimia, misalnya: sifat unsur dalam tabel periodik, ikatan kimia, stoikiometri, dan kimia organik, sudah dapat membuat mahasiswa mengetahui struktur kimia polimer terbentuk. Bahkan dia juga tahu proses sintesis, karakteristik reaksi, proses manufaktur, dan sifat polimer tersebut. Lihat Tips Bagaimana Belajar Yang Baik Berdampak Pada Hasil Yang Maksimal.

Cukup tahu dan paham tanpa menghafal. – Hafidh Frian Perdana

Pengalaman Pribadi

Pengalaman tentang kelas menghafal sudah melekat dalam diri. Saya paling tidak nyaman kalau ada kelas yang mengandalkan hafalan. Ingin sekali cepat menyudahi. Sudahlah, menghafal itu akan menyedot banyak energi tetapi minim konsistensi.

Prinsip tersebut mengantarkan pada cara belajar yang kolot. Ketika kelas berlangsung, saya catat poin-poin yang dibahas. Sepulang kelas, barulah saya menggali lebih dalam materinya. Dirangkum dan dipahami pondasi ilmunya.

Begitulah cara belajar saya. Untuk tahu lebih dalam, pelajari pola penulis dalam menyerap ilmu disini dan disini.

Metode itu agaknya kurang efektif, cenderung membuang banyak waktu, dan perjuangan berat. Cara belajar seperti itu bukan tanpa kekurangan. Prinsip ’asal paham tak perlu menghafal’ adalah kesalahan fatal. Alhasil, kemampuan hafalan saya kacau.

Namun, saya sangat bersyukur karena beberapa mata kuliah sukses tanpa belajar menghafal, tanpa energi yang besar. Itu karena dasar ilmu yang kuat. Mottonya adalah sedikit usaha, hasil maksimal. Hasilnya meroket seperti ini.

mahasiswa-taman
Mahasiswa (Sumber: lpminkams-feb.trunojoyo.ac.id)

Enak mana, paham atau hafal?

Memang, mempelajari ilmu secara dalam itu sulit. Dasar ilmu pengetahuan harus dipelajari dalam waktu yang lama. Namun, segala jenis permasalahan yang berhubungan dapat diselsaikan dengan cepat dan tepat. Lifetime pemahaman juga lebih panjang ketimbang hafalan.

Lain lagi, menghafal hanya butuh waktu H-1 sebelum ujian. Mengulang-ulang kembali membaca catatan. Dua tiga kali pun sudah tertancap dalam otak. Dengan begitu, pelajar memang mudah sukses menempuh ujian. Juga akan banyak tahu. Tetapi minim pendalaman. Pun gampang hilang ditelan usia.

Kesimpulannya:

Dalam menimba ilmu, pelajar perlu banyak mengetahui hal baru dan menyimpannya dalam memori. Untuk mencapai pemahaman, pelajar harus mempelajari dasar keilmuan yang terkait. Mengetahui dan memahami sesuatu akan mengantarkan pada penguasaan ilmu yang menyeluruh. Tidak hanya kulitnya saja. Pun dangkal seperti riak di pantai.

Jika dihadapkan dengan permasalahan yang mirip, maka pelajar dapat menyelsaikannya dengan mudah.

Warning: Isi tulisan berbeda dengan judulnya

Kok udah kesimpulan aja, jawaban atas judulnya mana? Tipu-tipu ya? Hahaha

Oiya, kalau ingin lulus dengan nilai yang baik dan ilmu yang luas maka pahami dasar ilmunya. Pengorbanannya tidak banyak. Sakit di awal memang. Kedepan, kemudahan akan datang. Dan berusahalah mengetahui metode belajar yang efektif dan efisien sesuai dengan karaktermu.

###

Sebenarnya pengetahuan dan pemahaman terhadap ilmu akan sempurna ketika ilmu tersebut diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari dan disebarkan untuk kebermanfaatan umat manusia. Ilmu yang demikian itu disebut ilmu yang bermanfaat. Amalan yang akan dicatat sebagai amal baik meskipun si Alim (Orang yang berilmu) tersebut sudah meninggal dunia.

Sesuai dengan Hadist berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Daripada Abu Hurairah bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Apabila seseorang itu meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara, sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang soleh mendoakan untuknya.[1][1]

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s