[Indonesia Timur Bagian IV] Berbelok ke Kiri Melupakan Jejak Sejarah Klungkung menuju Padang Bai

Bagian 4

Setelah perjuangan menggapai puncak Kota Amlapura dalam “mengejar timur“.

Sambutan hangat penjual air mineral dan sejuknya berada dalam kota dengan nuansa islami telah aku rasakan. Saatnya meluncur dari kota Amlapura menuju titik terendah Kabupaten Karangasem, Pelabuhan Padang Bai. Pelabuhan ini terletak di ujung timur pulau Bali, melayani penyebrangan dari Bali ke Pulau Lombok, Nusa Penida, dan kepulauan lain di sekitar Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Nyatanya, aku sudah sampai dititik terendah daratan. Telah terlewatkan hiruk pikuk dunia Turis yang identik dengan kesenangan. Dive resort, restourant, villa yang dipenuhi turis asing. Tepat berada di bibir pantai Candidasa, aku hanya bisa melihat Padang Bai masih nun jauh disana. Aku berdiri ditepian dengan tegap menunggu tenggelamnya matahari diantara gumpalan awan tebal yang menghiasi lautan. Melihat siluet nelayan diantara gelombang lirih lautan tenang. Cahaya kekuningan memantul diantaranya.

Pantai Candidasa, Bali ketika sore
Pantai Candidasa, Bali ketika sore

Matahari telah mengingatkan melalui senja. Aku belum sholat asyar. Ah aku harus mengayuh sepeda lagi. Perjalanan belum usai..

Bunyi keroncongan di perut juga menjadi saksi bahwa aku belum makan sedari pagi. Lambung melilit menjadi-jadi.

Tak jauh dari kawasan wisata pantai, aku menemukan rumah singgah. Warung Muslim Banyuwangi. Ini dia yang ane tunggu-tunggu sedari 12 jam yang lalu. Makan yok makan sebanyak mungkin. Mie ayam dengan kuah panas, enak kali ya. Sruput dengan kaldu ayam, minyak, dan saus. Belum makan udah kebayang yang enggak-enggak.

Warung Muslim Banyuwangi milik Bu Suryati
Warung Muslim Banyuwangi milik Bu Suryati

Disini pula aku curhat pada Allah, tentang betapa susahnya perjalanan di Bali. Meminta ampunan dari-Nya karena telah banyak lalai dan mengulur janji sholat lima waktu tepat waktu.

Warung ini dikelola oleh orang Banyuwangi asli. Bu Suryati namanya. Hidup eksodus dari tanah kelahiran bersama suami. Mereka membuka warung Bakso, Soto, Lalapan, dan Mie Ayam diatas tanah yang ia sewa.

Salah satu sajian di Warungnya, Mie Ayam
Salah satu sajian di Warungnya, Mie Ayam

”Penghasilannya tak seberapa, tetapi Alhamdulillah setiap hari ada pemasukan sehingga dapat menyekolahkan anak semata wayang kami”, jelasnya mendayu-dayu. Cara bicaranya sesuai dengan hijab dan kacamatanya yang kalem.

Anaknya perempuan di sekolahkan di Madrasah Aliyah Amlapura, pusat kampung islam di Bali. Dan ingin meneruskan pondok pesantren disana juga.

Suaminya biasa membantu untuk pekerjaan berat. Orangnya tidak terlalu tinggi, berjenggot tipis, coklat kulitnya menambah kesan garang. Tapi sarung yang tak pernah lepas dari tubuhnya membuat aku sedikit merasa aman.

Banyak warga Banyuwangi memang di Bali untuk mengadu nasib. Mengais rejeki dari rupiah yang dihasilkan dengan jalan berdagang. Mereka kebanyakan muslim dari suku Osing. Tapi darah Osingnya sudah mulai luntur. Hanya bisa Jawa, atau bahkan beberapa menguasai bahasa Madura.

Sembari santai menunggu Maghrib yang satu jam lebih lama daripada di Jawa, kami berbincang-bincang tentang pribadi, asal muasal, dan tujuan hidup.

”Perjalanan sampeyan sudah dekat, kok” ungkapnya dengan logat Jawa kental.

Dia menambahkan, ”Naik sedikit ke Manggis kemudian sebelum Klungkung, sampeyan belok ke kiri menuju pelabuhan tujuan”

Daftar menu di pinggir jalan menuju Klungkung
Daftar menu di pinggir jalan menuju Manggis

Teringat sebelum memulai berpacu dengan lengsernya matahari, aku bertanya pada orang di pinggir jalan,

“Bisakah lewat sini (jalan Kubutambahan-Tianyar) sampai di Padang Bai?”

“Tentu saja, nanti kamu akan lewat Klungkung”

“Jalannya datar lewat pinggir pantai“, tambahnya.

”Kalau lewat Kintamani?” tanyaku lagi.

”Jangan deh mas, nanti tanjakannya panjang dan mengerikan. Kalau lewat Klungkung datar tapi memang lebih panjang. Paling sedikit tanjakan nanti menuju Amlapura”, jelasnya.

Klungkung memang sejalur dengan perjalanan Singaraja-Padang Bai. Tetapi tidak sampai melewatinya. Kalau di peta tepat dibawah (selatan) Padang Bai. Jika mau singgah ya harus lurus jangan belok ke Pelabuhan.

Seingatku Kerajaan Klungkung adalah sejarah yang melegenda di Bali. Bukti tulisan sejarah menceritakan tentang edisi awal perang puputan (perang habis-habisan) di Bali terjadi di Klungkung. Peristiwa itu juga memperlihatkan keagungan adat Bali yang suci dan luhur tentang dharmaning ksatria yang hingga sekarang tetap dipertahankan.

Klungkung pada tahun 1908 dipimpin oleh Dewa Agung Jambe menyatakan perang terhadap Belanda. Perlakuan monopoli perdangan Belanda dengan patroli di Gelgel –wilayah kedaulatan Kerajaan Klungkung kala itu– melukai hati para raja. Serangan mendadak pada pasukan Belanda menyebabkan beberapa serdadu gugur.

Ultimatum Belanda kepada Klungkung untuk menyerah dilakukan pada tanggal 22 April 1908, tetapi tak dihiraukan oleh rakyat. Mulai tanggal 21 April 1908, Belanda mengoyak istana Smapura, Gelgel, dan Satria hingga serangan enam hari berturut-turut. Pada tanggal 27 April 1908, pasukan khusus yang datang dari Batavia dengan persenjataan lengkap tiba di Kusamba dan Jumpai. Pasukan Belanda menggempur maju dengan perlawanan sengit rakyat Klungkung. Akhirnya, Rakyat, Raja, dan Putra Mahkota (12 tahun) pun gugur tak bersisia. Klungkung pun jatuh ke tangan Belanda.

Tanah Klungkung memang pernah diduduki oleh penjajah. Namun tak lantas menjadikannya ’kotor’. Kesucian Pura Gelgel tetap terjaga hingga kini sebagai simbolik perjuangan suci umat Hindu Bali terdahulu.

Sayang, aku harus berbelok kekiri melupakan jejak sejarah Klungkung menuju Pelabuhan Padang Bai karena gelap malam mulai menakutkan. Jalan ini makin terasa berat. Mulus aspal telah terganti tambalan yang berlubang entah untuk keberapa kalinya. Cukup menyiksa dikala tak ada penerangan sedikitpun. Lentera bulan pun tak mampu menembus lebatnya pohon dan hutan bambu.

Pelabuhan Padang Bai ketika malam terpantau lalu lalang yang masih ramai. Kendaraan besar masih mendominasi pemandangan di pelbagai tempat pelabuhan. Kendaraan roda dua, silih berganti mengambil tiket. Petugas dengan sabar melayani.

Ferry bersandar di pelabuhan Padang Bai ketika malam
Ferry bersandar di pelabuhan Padang Bai ketika malam

Pelabuhan ini sebenarnya begitu impressive ketika siang. Padang adalah nama asli desanya, Bai didapuk dari kosakata turis asing dalam Inggris dengan menyebut teluk sebagai Bay. Jamak lah khalayak menyebutnya pelabuhan Padang Bai.

Bentuknya benar-benar berupa lautan yang menjorok ke darat meciptakan teluk. Disisi timur dikenal sebagai Tanjung Sari yang terkenal dengan pantai pasir putihnya. Di bagian barat dibatasi oleh pantai Padang Kurungan yang terkenal akan keindahan bawah lautnya.

Sayang, segalanya menjadi kacau dan kesan buruk lah yang aku kantongi sebagai cap untuk ending di Bali dan secara khusus terhadap Padang Bai.

Bersambung…

Selanjutnya mengenai kesan buruk dan pengalaman yang menyertai. Kelanjutannya disini.

Bagian V Melompat ke Negeri Seberang

Advertisements

11 thoughts on “[Indonesia Timur Bagian IV] Berbelok ke Kiri Melupakan Jejak Sejarah Klungkung menuju Padang Bai

      1. bersih fidh gak kliatan sampahnya, kalo rimbun itu alami… 🙂

        masih lebih murah fidh, di jakarta harga segitu udah gak lagi

        salam
        /kayka

    1. Yup, katanya disana masih banyak sisa kerajaan, istana dan isinya. Masih gagah. Sayang harus lanjut perjalanan ke Lombok dulu. Next semoga kesampaian biar ceritanya nggak miss.
      Salam,

  1. Di padangbai ada pantai Blue Lagoon, posisinya sebelum pelabuhan belok ke kiri. Wahh sayang ya ngga kesan. Viewnya bagus, air lautnya jernih. Mungkin balik dr lombok bisa main kesana ^.^

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s