[Indonesia Timur Bagian V] Melompat ke Negeri Seberang

Bagian 5

Edisi Penyebrangan Kapal Ferry Padang Bai – Lembar.

Gelap malam itu tertutup oleh mendung menggumpal hitam. Gerimis tak kunjung reda. Rintiknya membawa suasana pilu. Entah mengapa, badanku terasa berat. Malas untuk berkeliling-keliling seperti biasanya, melihat sekitar. Kantuk tak tertahankan. Aku harus cari tempat berlindung.

Ferry bersandar di pelabuhan Padang Bai ketika malam
Ferry bersandar di pelabuhan Padang Bai ketika malam

Ide muncul untuk berlindung di ruang tunggu pelabuhan. Sayang, harus beli tiket dahulu sedangkan aku kan harus menunggu teman. Tidak mungkin. Firasat mencari suaka ke rumah makan islam pun tercetus. Sayang, restoran untuk musafir muslim itu terlihat gagah. Mau masuk pun jadi malu dengan segenggam uang yang tersisa dikantong. Uh.

Masjid adalah opsi terakhir.

”Pak, dimana ada masjid disni?” tanyaku pada pak polisi.

Sebenarnya agak ragu tanya pada petugas pelabuhan karena bau dupa yang semerbak dimana-mana. Sumbernya tak lain dari pojok tempat sesajen pos polisi tersebut. Aku tak tahan baunya.

”Masuk saja ke belakang kantor polisi ini” dengan senyum ramah dia menjelaskan.

”Oh terima kasih banyak, pak”

Sambil melamun karena kelelahan juga heran dengan keramahan orang Bali, aku berjalan menenteng sepeda besi ditangan kanan. Aku menuju belakang pos polisi. Sebuah bangunan mirip masjid dengan atap berundak dan berpagar putih tak terkunci. Aku buka pintu dengan hati-hati dan menyusuri lorong. Dalam hatiku sudah berprasangka, sepertinya aku tidak yakin ini masjid. Sial! Aku masuk rumah orang.

Ternyata masjid pelabuhan terletak di dalam parkiran. Agak lupa, saking rumitnya lorong jalan yang harus dilewati. Akhirnya seperti biasa, aku dikerumuni banyak orang. Seperti semut ketika ada gula. Pertanyaan pertama selalu seputar, dari mana? Pake sepeda? Kekaguman orang berujung pada tanggapan bahwa aku sudah gila. Memang ya, unik dekat dengan gila.

Adzan isya’ berkumandang membubarkan kerumunan orang. Sholat isya’ pun khidmad. Sudah habis pertanyaan bertubi-tubi. Ending-nya, aku juga ditinggal sendiri dalam masjid yang sepi ini. Begitulah orang, datang dan pergi begitu saja. Bekasnya sedikit saja.

Pakaian kotor telah aku tanggalkan. Sekarang waktunya mengenakan pakaian kering, tebal, dan hangat. Ini sudah cukup mengingatkan pada hangat dan empuk kasur di rumah. Di balik sehelai kantung tidur, aku berlindung dari dingin hembusan angin pantai. Rintik hujan semakin deras terlihat turun dari atap masjid, aku terlelap dalam letih akibat beratnya medan yang telah tertempuh.

”Mau kemana?”, Suara nyaring terdengar kasar dengan pita suara yang sepertinya tersedak oleh riak. Mataku masih lengket dan berkunang.

”Nyeberang”, jawabku kesal dengan pikiran setengah tertidur.

”Sebentar lagi mushola akan tutup”, dengan logat Bali-Sasak bercampur kental, dia menunjuk jam dinding mushola dan tulisan ”mushola tutup jam 10 malam”.

Terbelalak lah mataku. Siapa pula orang yang menyuruhku keluar dari masjid dikala hujan deras seperti ini. Tak genap dua jam aku tidur. Berkemaslah aku dengan malas. Rasanya tidak rela diri berselimut jas hujan lagi. Dingin menusuk melalui sela jas hujan yang terkondendasi. Aku bertekad menguatkan hati mencari naungan di lain tempat.

Aku duduk dipinggiran pelabuhan dalam pikiran kosong.

Tiba-tiba ada orang menghampiri. Mulanya percakapan mengalir. Tapi lama-lama menjurus pada kecurigaan. Dia bercerita tentang jalan, rumah, dan budaya orang Lombok dan Sumbawa. Disana rawan, banyak rampok, dan yang dipertegas adalah guna-guna. Pernah sanak familinya berkendara ke Sumbawa, mampir di suatu desa dan diberi jamuan makan dan minum yang lengkap seolah penduduk menyambut. Akan tetapi, sepeninggal dari desa, dia dikejar api.

Wih, bulu kuduk pun berdiri. Aku termakan oleh omongannya.

Seperti dugaan awal, dia akhirnya menjajakan sesuatu padaku. Dia punya penangkal yang manjur, katanya. Batu berwarna coklat mengkilap. Bersinar dalam kelam malam dan rintik hujan pinggir pelabuhan. Pernah satu dibeli orang seharga 250ribu.

Ah badan sudah remuk, ada saja oknum nakal jaman batu. Lalu lalang kendaraan tak kunjung tiba juga temanku. Aku putuskan untuk beranjak ke seberang pulau. Pulau yang lebih nyaman.

Bersambung..

Selanjutnya Pengalaman Pertama Naik Ferry

Advertisements

7 thoughts on “[Indonesia Timur Bagian V] Melompat ke Negeri Seberang

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s