Naik Kapal Ferry Pertama Kali

Bagian tambahan dari perjalanan Indonesia Timur “Melompat dari Bali-Lombok

Awalan pelayaranku dari Padang Bai – Lembar sangat jelek. Oknum nakal dan tidak dapatnya tumpangan menginap memberi kesan jengkel pada keseluruhan pengalaman di Bali. Semua yang buruk terangkat. Yang baik tenggelam.

Ditengah gerimis tengah malam, aku membeli tiket penyebrangan. Tukang karcis terlihat lelah dan mengantuk. Begitu pula aku. Sekarang tepat tengah malam. 00.00 WITA.

Sepedaku makin keras saja untuk dinaiki. Sendi-sendi beku akan dingin. Ayolah, cepat masuk kapal. Aku sudah tak tahan untuk merasakan kehangatan dan keempukan kursi kapal Ferry.

Mau masuk kapal, oh tunggu dulu. Masih harus tunggu kapal datang. Kemudian menunggu kapal bersandar dan menetapkan posisi yang stabil. Belum lagi bongkar muat. Dan kalau kamu beruntung maka bisa langsung masuk ke kabin ketika sudah mendapat ijin pengecekan tiket di pintu masuk kapal.

Ditinggal kapal itu rasayanya...
Ditinggal kapal itu rasayanya…

Sayang, aku apes, tak beruntung. Antrian terlalu panjang. Terpotong tepat didepanku. Konsekuensinya, aku harus menunggu satu jam lagi untuk kapal berikutnya dengan segala proses yang menjenuhkan itu. Kapal penyebrangan Padang Bai – Lembar selalu melintas setiap satu jam sekali. Huh.

Tak kekurangan akal, aku membunuh waktu dengan mecermati sekitar. Melihat air yang bergelombang naik turun tak pernah lelahnya. Ikan-ikan yang lapar meminta makanan ditengah deburan ombak. Terombang-ambing oleh kerasnya air laut. Aku perhatikan pula orang-orang yang masih hidup disekeliling. Mereka juga sedang menundukkan kepala, menggendong anak yang pulas tertidur. Beberapa orang masih tegap di sepeda dengan harapan-harapan semu bunyi bel kapal menunjukkan tanda kapal sudah dekat.

Mereka juga sama sepertiku. Dalam keputus-asaan menunggu datangnya kapal yang tak tentu kehadirannya. Kecemasan semakin memuncak kala datang informasi bahwa jalur pelayaran sedang mengalami cuaca buruk. Sedari tadi hujan tak kunjung reda. Terlihat petir menyambar dari lautan gelap sana.

DLU Ferry, kapalku menunggu untuk berangkat
DLU Ferry, kapalku menunggu untuk berangkat

Bongkar muat usai. Penumpang kalap berebut tempat parkir. Aku juga tak mau kalah. Sesampainya di parkiran, sepedaku harus ditali pada bagian pipa dalam kapal. Kondisi Selat Lombok sedang mencekam. Salah-salah sepeda roboh terombang-ambing ganasnya lautan.

Kursi nyaman plus fasilitas audio karaoke di dalam dek kapal
Kursi nyaman plus fasilitas audio karaoke di dalam dek kapal

Seperti dalam anganku, bagian dalam kapal sungguh mirip hotel. Tempat duduk kenyal dan nyaman. Di depan terdapat hiburan karaoke dan studio musik. Lampu temaram berwarna-warni. Ah, saatnya melepas kegundahan dalam mimpi indah pelayaran perdanaku dengan kapal Ferry.

Dengan meronggoh gocek 65ribu, aku sudah bisa menyebrangi lautan Bali-Lombok selama 5 jam plus 2 jam menunggu. Perjalanan panjang 7 jam ini terjadi dengan asumsi ombak besar / badai di laut dan menimbulkan antrian panjang, serta aktivitas bongkar muat yang lama. Waktu normal 3-4 jam di laut dan menunggu 30-60 menit.

Pemandangan dari balik jendela kapal
Pemandangan dari balik jendela kapal

Kini aku benar-benar berada di tanah yang aku harapkan menjadi surga pelipur laraku di Bali. Meskipun sunrise tak menyambut. Langit biru tertutup gumpalan awan putih. Basah aspal pelabuhan sudah menyejukkan pijakan langkah kakiku di tanah sasak. Dendang lagu bahasa sasak menggairahkan jiwa.

Selamat tinggal kelam
Selamat tinggal kelam

Aku disambut patung orang berpakaian adat sasak. Dia menghaturkan jempol untuk mempersilahkan pengunjung masuk ke Lombok.

Selamat Datang Lombok
Selamat Datang Lombok

Bersambung..

Kesepakatan yang gonta-ganti membikin benang perjalanan makin kusut. Ini cerita kelanjutannya.

Advertisements

19 thoughts on “Naik Kapal Ferry Pertama Kali

    1. Hi kak Winny,
      Kalo langsung sepertinya nggak ada kak. Harus Transit surabaya dulu terus ganti KM Awu.
      Kalo dari Jakarta adanya paling ke Larantuka atau Kupang pake Km KM Bukit Siguntang dan Km Sirimau,

      1. Kurang lebih 2 hari tergantung lama bongkar muat tiap pelabuhan dan cuaca. Pake KM Awu. Tapi kalau menurutku membosankan di dalam kapal pelni tuh. Mending kalo mau lebih menikmati laut, sailing trip aja dari LBJ – Lombok. Bisa mampir pulau cantik disekitar Komodo, P. Moyo, Lombok. Berasa jadi orang laut dah.

      2. Pake kapal pinisi, biasanya sewa rame2, kalo nggak gitu share cost ama wisatawan lain. Ini recommended video gambaran sailing komodo, keren ala lost packernya mas sutikyo. https://www.youtube.com/watch?v=NLclHWHVN7M
        Kalo dari jakarta mending ambil penerbangan aja ke Lombok, nanti ke LBJ bisa pake kapal pinisi, atau jalur darat dulu ke LBJ terus sailing ke lombok, pulang pake pesawat.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s