[Indonesia Timur Bagian VIII] Memutar Kenangan di Mataram

Bagian 8

Yuk menjelajah indahnya alam Nusa Tenggara.

Mataram: Maju, Religius, Berbudaya

Seperti biasa, kayuhan pertama penuh semangat. Shifter sementara off dulu. Jalan dari Lombok Barat menuju Timur via jalur selatan cenderung datar. Tidak banyak tanjakan berarti selain naik turun karena keberadaan jembatan dan sungai. Trek yang harus dilahap hari ini juga tergolong kategori sedang. Menempuh 90 Km, secara teori dapat di selesaikan dengan waktu 4 jam dengan rata-rata kecepatan 22.5 Km/jam. Tidak terlalu jauh.

Let's go!
Let’s go!

Dari Lembar menuju jalan utama di Lombok. Jalan raya itulah yang nantinya mengantarkanku menuju Mataram, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Ingatan dua tahun lalu muncul. Dahulu pernah ke Mataram untuk mengikuti perhelatan akbar karya tulis ilmiah tingkat mahasiswa se-Indonesia. Bertempat di Universitas Mataram (Unram). Harap-harap bisa mampir atau paling tidak lewat bagian depannya saja sudah bahagia. Disana pula dulu tergoreh kenangan indah.

Lanjut dulu, jangan pikir yang tidak-tidak.

Bundaran menuju pelabuhan, bandara dan Mataram
Bundaran menuju pelabuhan, bandara dan Mataram

Seiring perjalanan, kanan kiri berupa sawah dan ladang. Jalan utama menuju Mataram sangat rimbun. Lumayan ramai daripada jalan dari pelabuhan tadi hingga menuju Bundaran Bypass dari Bandara Internasional Lombok (BIL) yang baru diresmikan tahun 2011 kemarin. Dahulu bundaran ini menjadi tempat yang paling aku ingat ketika perjalanan dari Bandara menuju ke Kota Mataram. Dahulu dari balik kaca bus, sekarang bisa sentuh sendiri.

Sepedaku dan Monumen Lombok Barat Bangkit
Sepedaku dan Monumen Lombok Barat Bangkit

Terdapat Monumen Lombok Barat Bangkit (MLBB) sebagai tonggak pembangunan di Kabupaten Lombok Barat. Bangunan menara dengan kubah berwarna kuning emas berada diatas kolam air. Terdapat taman dan ruang hijau untuk bersantai. Sayang, matahari sedang terik, bundaran ini lenggang.

Pembangunan infrastruktur memang menjadi tolak ukur kemajuan sebuah wilayah. Lombok rupanya mulai berbenah, menyusul kemajuan ibukotanya. Pemerataan mulai dilakukan. Lombok Barat tak mau kalah.

Bangunan tersebut juga sudah mengisyaratkan religiusnya Mataram. Masjid-masjid megah berada dipinggir jalan. Sudah berapa lagi masjid yang masih dalam tahap pembangunan, renovasi, atau pemegahan. Tak kesampaian untuk menghitungnya, saking banyaknya. Cocoklah kalau disebut, Lombok: Pulau 1001 Masjid.

Damai terasa berada di pulau Lombok.

Setelah keluar dari bundaran, masuk ke Ampenan kota pelabuhan. Terus melaju menuju Cakranegara. Keduanya merupakan distrik dalam naungan kota Mataram. Kendaraan berlalu lalang. Ramai lalu lintas terasa sekali daripada perjalanan dari pelabuhan tadi. Apalagi di lampu merah pertigaan, kalau lurus menuju pusat pemerintahan Kota Mataram, dan kekanan menuju Lombok Timur melalui pusat perekonomian dan perdagangan.

Di Pasar Cakranegara banyak ditemukan penjual sovenir khas Lombok, seperti: kaos, tas, dan pernak-pernik kerajinan. Pasar ini juga merupakan sentra oleh-oleh Lombok. Sayang, aku tidak berkesempatan mampir, selain terbatas waktu, uang pun sudah mepet.

Bersepeda menyusuri seluk beluk kota Mataram mengingatkan tragedi tahun 15 tahun silam, pergantian tahun 2000-2001. Bom meledak di beberapa gereja di pusat kota bertepatan dengan natal 25 Desember 2000. Selang sebulan, tepatnya Januari 2001, terjadi perusakan tempat ibadah dan gereja-gereja. Ketegangan itu tak lagi ada sekarang. Etnis asli sasak, etnis cina, umat hindu, muslim, dan kristen hidup rukun. Sesuai dengan salah satu motto Kota Mataram, yaitu religius.

Suasana tradisionalitas terasa sekali disini. Alat transportasi dokar bertenaga kuda masih digunakan untuk jarak dekat dan menengah. Terlihat ibu-ibu pergi ke pasar membawa sayur mayur yang dibelinya dari pasar dengan menumpang dokar. Anak-anak sekolah dan orang yang bepergian juga duduk rapi di belakang pak kusir. Tentu saja, jalan-jalan dipenuhi kotoran kuda yang mengering.

Terus saja menuju timur. Aku memang tak sempat mampir ke jantung kota Mataram. Ternyata masih harus berjalan ke utara beberapa kilometer lagi. Tak juga berkesempatan jalan-jalan ke Senggigi, apalagi mau ke Gili Trawangan atau Gili Air. Atau sunset paling mengena dalam hidup, entah dibagian mana, lupa.

Sudahlah. Biarkan kenangan itu berkembang.

Bersambung..

Advertisements

3 thoughts on “[Indonesia Timur Bagian VIII] Memutar Kenangan di Mataram

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s