[Indonesia Timur Bagian X] Lombok dan Keunikannya

Bagian 10

Aku sudah sampai di Pringgabaya, kecamatan di Lombok Timur. Pusat perdagangan masih sangat ramai meskipun panas hawa laut menyengat. Lagi-lagi banyak ditemukan dokar. Dan yang unik adalah angkutan umum yang digunakan.

Model angkutan di Lombok (Ini akan banyak ditemukan di Sumbawa)
Model angkutan di Lombok (Ini akan banyak ditemukan di Sumbawa)

Angkot disini bukan seperti di Jawa yang memang menggunakan mobil bertipe Suzuki Carry 1000. Disini, menggunakan Pick up L300 yang dimodifikasi bagian atas dengan penutup dari lembaran logam. Lengkap dengan jendela dibagian kanan dan kiri. Mirip sekali dengan angkot, hanya saja pintu dibagian belakang dan tulisan L-300 yang membikin dia beda.

Mungkin dengan jenis angkutan yang demikian itu lebih murah dan berkapasitas lebih besar. Bagian ekstra diatas untuk barang, kadang juga untuk orang. Angkutan jenis seperti ini akan lebih banyak ditemui di Sumbawa. Di daerah yang jauh dari ibukota, keterbatasan daya akibat ketidakmerataan ekonomi membuat akal semakin kreatif.

Sejenak melepas lelah agak jauh dari keramaian pusat ekonomi Pringgabaya. Sholat dhuhur dengan nikmat, tanpa bingung air suci dan tempat untuk sujud. Saudara muslim disekitar juga taat beribadah. Beberapa motor dan bahkan mobil, rela sejenak berhenti di Masjid untuk sholat dhuhur berjamaah.

Masjid di Lombok, tinggal pilih. Mungkin setiap 100 meter rumah terdapat mushola atau masjid berdiri. Terserah deh mau ibadah dimana dan model seperti apa.

Lho kok model seperti apa? Dan kenapa Lombok malah didominasi muslim sedang Bali tidak? Pertanyaan serupa dan senada sering kali terbesit dipikiran orang umum.

Masyarakat Sasak terbagi beberapa kelompok berdasarkan kepercayaannya, yaitu: Sasak Boda, Wetu Telu, dan Wetu Lima. Terpecahnya suku sasak tidak lepas dari perkembangan Lombok itu sendiri.

Sebelum pengaruh asing masuk, orang asli Lombok menganut animisme dan dinamisme, menyembah nenek moyang. Ajarannya berupa Boda. Sepintas mirip Budha, tetapi mereka beda, tidak mengenal Sidharta Gautama.

Kemudian pengaruh Hindu Majapahit datang pada abad 13 sebagai realisasi Sumpah Palapa oleh Mahapatih Gajah Mada. Dia meratakan Lombok dengan ajaran Hindu.

Pengaruh Jawa yang dibawa pada saat invansi Majapahit di Lombok sangat terasa pada Bahasa. Aku merasakan sekali. Ketika belajar bahasa sasak pada orang-orang di jalan, aku tidak asing. Misalnya memanggil orang dengan Tiang. Dalam bahasa krama (alus) Jawa, Tiyang biasa digunakan untuk menyebut orang.

Tiyang pundi njenengan?” Orang mana kamu? (bahasa jawa alus)

Secara tulisan mungkin lebih dekat karena banyak tulisan sasak dalam aksara jawa. Tingkatan bahasanya pun ada, yaitu kasar untuk percakapan sehari-hari, halus untuk orang yang lebih tua, dan sangat halus untuk orang yang dihormati, pemangku adat, dan kyai.

Mbe’ Laih?”, mau kemana? (bahasa sasak)

Tetapi soal dialek, sulit aku mengerti. Dialek mereka mirip dengan bahasa Bali. Aneh bagi orang Jawa sepertiku.

Dan barulah ketika Majapahit runtuh, 1400 saka, islam masuk dari Sulawesi dan Jawa melalui Bayan dan Labuan Lombok. Bayan terletak dibagian utara Lombok. Aku tidak melewatinya. Padahal disana masih terjaga masjid tertua di Lombok, yaitu Masjid Bayan. Juga Senaru dan Sembalun yang merupakan gerbang pendakian Gunung Rinjani, disana banyak ditemukan suku sasak Boda dan Wetu Telu.

Sunan Prapen dan pasukannya melakukan islamisasi seluruh kerajaan Lombok, kecuali beberapa yang di-back up oleh Kerajaan Karangasem yang sangat kuat dari Bali. Inilah jawaban atas pertanyaan mengapa islam sulit masuk ke Bali.

Pada saat itulah, masyarakat sasak terpecah. Sasak yang masih mempertahankan Boda, melarikan diri ke kaki gunung dan hutan. Beberapa yang takluk tidak menjalankan islam dengan sempurna disebut Wetu Telu. Kelompok ini sholat tiga waktu saja (Maghrib Isya Shubuh) dan masih mencampur adat Hindu dengan memuja dewa dan agama islam. Wetu Telu banyak ditemukan di Lombok Utara dan Pujut, yang tadi sempat terlewati begitu saja. Sedang Penganut Wetu Lima adalah penganut islam secara kaffah (menyeluruh, red).

Selengkapnya cerita mengenai perkembangan pulau Lombok menjadi pulau multikultural terangkum dalam tulisan berjudul ”Alasan Lombok Kaya akan Budaya”.

Bersambung..

Advertisements

2 thoughts on “[Indonesia Timur Bagian X] Lombok dan Keunikannya

    1. Hahah kalo di sana udah biasa, malah ada sepeda motor dinaikin tuh angkot, tiga lagi. Terus kadang masih ada orang di atas. Sayang yg super ekstrem gitu nggak sempet tertangkap kamera.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s