Kilas Balik: Menyambung Rantai Sejarah Lombok

Abad XII – Sasak Boda

Cikal bakal terbentuknya budaya dari orang sasak yang mendiami pulau Lombok berawal dari Kerajaan Desa Lae’. Seiring berjalannya waktu, kerajaan mengalami transformasi akibat fenomena alam dan turun naiknya eksistensi kerajaan. Barulah muncul kerajaan Lombok/Selaparang. Kerajaan-kerajaan tersebut hidup mulai sekitar abad 12.

Masyarakat abad permulaan ini masih menganut Boda sebagai kepercayaan. Kelompok Boda merupakan orang sasak yang menganut anismisme dan dinamisme. Mereka menyembah roh leluhur dan memuja dewa lokal. Meskipun namanya dekat dengan Budha, orang sasak tidak mengenal Sidharta Gautama sebagai Sang Budha.

Abad XIII – Invansi Majapahit

Barulah ketika Majapahit dari Jawa melakukan invansi ke penjuru nusantara. Ide tersebut muncul sebagai perwujudan Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada ketika diangkat menjadi Patih Amangkubumi Majapahit tahun 1258 Saka (1336 M). Pada tahun 1343 M pasukan Majapahit dipimpin oleh Mpu Nala yang kemudian diteruskan sendiri oleh Patih Gajah Mada pada tahun 1352 M.

Pada saat itulah Lombok mulai terpengaruh asing. Ajaran Hindu yang kental dengan budaya Jawa masuk ke dalam seluk beluk kehidupan. Kerajaan Selaparang pun takluk oleh invansi Majapahit.

Arus perkembangan juga terjadi sejak abad 13 di Labuan Lombok – sekarang sering disebut Pelabuhan Kahyangan, penyebrangan menuju Pulau Sumbawa. Para pedagang dari Sumatera, Jawa, dan Sulawesi banyak mampir dan bertempat tinggal di sekitar Labuan (Pelabuhan, red). Bahkan diantaranya mendirikan perkampungan. Hubungan antara pendatang, pelaut, dan saudagar muslim dan orang sasak terjadi dalam berbagai bidang seperti budaya dan agama. Penyebaran islam kemungkinan besar terjadi melalui perdagangan, perkawinan, seni, dan pewayangan.

Abad XIV hingga XVI – Era Pengaruh Muslim

Bahkan momentum ’Sirna Ilang Kertaning Bumi’ yang digambarkan oleh Candrasengkala/kronogram yang mengacu pada runtuhnya Majapahit menjadi titik nadir perkembangan seluruh aspek di Lombok. Sengkala tersebut konon jatuh pada 0041 yang harus dibaca terbalik menjadi 1400 Saka atau 1478 Masehi. Runtuhnya Majapahit ini juga merupakan indikasi kuatnya pengaruh Islam Jawa yang dipimpin oleh Kerajaan Demak – Kerajaan islam pertama di Jawa.

Sunan Prapen dan pasukannya ’tepat waktu’ dalam melakukan misi suci mengislamkan nusantara sesuai dengan amanat dari Sunan Ratu Giri di Jawa. Mereka berlayar ke Bali hingga Lombok pada Abad 16. Berusaha agar tidak terjadi pertumpahan darah. Namun rakyat sasak kala itu dinaungi oleh Kerajaan Selaparang menolak islamisasi tersebut. Terjadilah peperangan yang dimenangkan oleh pihak islam. Raja Lombok kala itu akhirnya membaca syahadat dan dikhitan. Begitu pula pengikutnya. Pura, meru, babi, dan sanggah dimusnahkan.

Setelah itu seluruh tanah Lombok, seperti: Pejanggik, Langko, Parwa, Sarwadadi, Bayan, Sokong, dan Lombok utara pun memeluk islam kecuali Pajarakan dan Pengantap. Sunan Prapen pun meneruskan misi perjalanan ke Dompu dan Bima.

Namun, rusaknya akidah di Lombok oleh karena pengaruh dari Kerajaan Karangasem Bali menyebabkan Sunan Prapen harus kembali ke Lombok. Melalui Sugian, ia menyerang penduduk yang masih kafir. Disinilah masyarakat sasak terpecah berkelompok-kelompok. Kelompok yang mempertahankan ajaran Boda melarikan diri ke gunung dan masuk hutan. Kelompok yang takluk tetapi tidak melaksanakan islam sepenuhnya disebut penganut Watu Telu. Dan kelompok Watu Lima adalah kelompok yang berpegang pada tali agama Allah, masuk islam secara kaffah.

Kelompok Wetu Telu sebenarnya mengacu pada jumlah sholat mereka yang hanya tiga waktu saja. Maghrib, Isya, dan Shubuh. Mereka masih dalam pengaruh hindu yang memuja dewa dan berhala. Urusan ibadah sholat dan puasa biasanya diserahkan pada pemuka agama, yaitu Kyai dan Pemangku. Penganut Wetu Telu banyak ditemukan di Bayan, Tanjung, Sembalun, Suranadi, dan Pujut yang tersebar diseluruh tanah Lombok.

Abad XVII – Ekspansi Raja Karangasem

Tujuan ekspansi ini utamanya untuk menebar benih hindu di Lombok. Selain itu, orang Bali ingin mendapatkan lahan yang lebih luas dan subur di seberang pulau untuk lahan pertanian. Laskar Karangasem berangkat menyebrang dengan perahu pada tahun 1692 M. Mereka mengepung Kerajaan Pejanggi, Parwa dan meneruskan ke Kerajaan terbesar di Lombok – Kerajaan Selaparang. Peristiwa itu yang menjadi inisiasi tradisi cakepung yang berarti kejar terus. I Gusti Anglurah Ketut Karangasem mendapati kemenangan dan membuat kebijakan pembagian wilayah di Lombok. Dia pulang dengan kemenangan.

Abad XVIII hingga XIX – Campur Tangan Belanda

Raja dan pemimpin sebagian kecil kerajaan di Lombok yang sudah masuk islam tidak ingin berada dalam naungan Kerajaan Bali, meskipun mereka mendapatkan jaminan untuk tetap menganut kepercayaan islam tanpa gangguan. Pemberontakan kecil pun terjadi kendati tidak membuahkan hasil.

Inisiatif untuk mendapatkan sokongan dari Belanda pun direalisasikan. Akhirnya pengaruh bali dihapus dari tanah Lombok. Alih-alih mengembalikan kejayaan sasak, Belanda justru memulai agenda imperialisme menguasai tanah yang sebelumnya dimiliki Kerajaan Bali dan memberlakukan pajak tanah yang tinggi.

Abad XX – Hancurnya Klungkung

Klungkung pada tahun 1908 dipimpin oleh Dewa Agung Jambe menyatakan perang terhadap Belanda. Perlakuan monopoli perdangan Belanda dengan patroli di Gelgel –wilayah kedaulatan Kerajaan Klungkung kala itu– melukai hati para raja. Serangan mendadak pada pasukan Belanda menyebabkan beberapa serdadu gugur.

Ultimatum Belanda kepada Klungkung untuk menyerah dilakukan pada tanggal 22 April 1908, tetapi diabaikan oleh rakyat. Mulai tanggal 21 April 1908, Belanda membombardir istana Smapura, Gelgel, dan Satria hingga enam hari berturut-turut. Pada tanggal 27 April 1908, pasukan khusus yang datang dari Batavia dengan persenjataan lengkap sampai di Kusamba dan Jumpai. Pasukan Belanda merangsek maju dengan perlawanan sengit. Akhirnya, Rakyat, Raja, dan Putra Mahkota (12 tahun) pun gugur tak bersisia. Klungkung pun jatuh ke tangan Belanda. Inilah juga edisi awal perang puputan (perang habis-habisan) di Bali. Ini pula yang memperlihatkan adat Bali yang suci dan luhur tentang dharmaning ksatria.

Pasca Kemerdekaan – Perang Puputan Margarana

Rakyat Bali memang menunjukkan ketidaksukaannya pada Belanda dari dahulu. Slogan I Gusti Ngurah Rai, “Pulau Bali damai tanpa Belanda“, mengobarkan api semangat untuk mengusir Belanda dari tanah Bali. Himpunan pasukan menggempur markas Belanda di kota Tabanan pada tanggal 18 November 1946. Kemenangan gemilang dipihak Ngurah Rai.

Kekalahan itu tak elaknya membuat Belanda kebakaran jenggot. Belanda mengerahkan seluruh pundi kekuatan hingga pesawat tempur untuk menggempur Margarana, tempat pusat pertahanan rakyat Bali yang dipimpin Ngurah Rai. Perang puputan pun terjadi (hingga titik darah penghabisan). Peristiwa itu terjadi pada 20 November 1946 yang sekarang diperingati sebagai Hari Pahlawan Margarana oleh rakyat Bali.

Dihimpun dari berbagai sumber.

Terutama tulisan Dr Alfons van der Kraan Alfons 1979 berjudul Lombok: Conquest, Colonization and Underdevelopment. Dan juga J.A.B. Wisselius dalam Historisch Onderzoek, Naar de Geestelijke en Wereldlijke: Suprematie van Grisse op Midden en Oost Java. Selain itu juga beberapa tambahan Babad Bali.

Advertisements

5 thoughts on “Kilas Balik: Menyambung Rantai Sejarah Lombok

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s