Perjumpaan dengan Zul, Figur Harapan Sumbawa (Part 2 )

Part 2 – Habis

“Saya itu pernah mendapatkan bingkisan dari wali murid karena anaknya dapat sukses sekarang. Pernah juga menjadi editor untuk buku tulisan salah seorang murid”, dia menceritakan dengan nada berat dan menggebu.

Ini mengingatkanku pada Film Freedom Writer. Ketika seorang guru hadir pada sekolah pinggiran dimana muridnya nakal (mabuk, obat, berkelahi, adu jotos). Namun guru tersebut mampu mengubah mindset dengan konsistensinya untuk mengajar. Terus sabar hingga hati anak didik melunak. Dan menciptakan lulusan dengan penulis handal hanya dengan metode catatan harian atau dear diary. Terbitlah buku keren.

”Ini adalah kisah nyata yang di filmkan”, tegasku. Dia rupanya sangat menikmati manis kata-kataku.

”Bawa flash disk yang berisi filmnya nggak? Atau bukunya ada?”, pintanya.

Siapa pula yang berpetualang ke hutan-hutan membawa flashdisk berisi film.

Aku meminta diri sebentar untuk bersih diri dan sholat Asyar.

Awalnya aku hanya ingin membasuh muka di kamar mandi. Air kok terasa begitu segar, tawar, dan tidak asin. Mandilah aku disana. Lagu hafidzah mengiringi. Teot… Teot..

Tapi ingat, ini adalah di kapal laut sedang berlayar bukan di darat. Kapal berayun kekanan dan kekiri. Menghempas terlempar tak beraturan, aku hampir jatuh di kamar mandi.

Sholat pun harus duduk. Berdiri bahkan dengan berpegang pada dinding pun tidak meredam goncangannya. Saking ganasnya arus dan gelombang laut kala itu. Terlebih tempat sholat berada di bagian belakang kapal, tepat diatas mesin penggerak (baling-baling).

Perbincangan dan pemandangan di luar kala itu
Perbincangan dan pemandangan di luar kala itu

Selesai itu, kami melanjutkan perbincangan ringan.

Perjalanan tanpa tulisan bagai menjejak di ruang hampa. Tak berbekas.

Maka dari itu, perlengkapan (bolpoin, secarik kertas, dan kamera) adalah pendukungnya. Lantas aku keluarkan semua itu.

Dia seolah berbinar melihatku. Dia menemukan teman yang se-hobby. Suka jalan-jalan dan menuliskannya. Kemudian dia keluarkan juga buku note tebal dan sebuah bolpoin. Kami bertukaran kontak.

Dia juga suka bersepeda, onthel tahun ’45. Sepedanya kini juga dimodif tahun 70-an. RC biru dengan beberapa aksesoris jadul. Helm yang dipakai pun jenis gayung, tanpa penutup face glass.

Dari satu jam tak terasa dalam kapal, aku belajar banyak darinya.

Apa yang dibicarakan orang biasanya adalah kesehariannya. Apa yang dipikirkan orang apa yang pernah dilihat dan dibacannya.

Tentang sejarah yang terlupakan. Hubungan antara Lombok, Bali, dan Sumbawa. Dia jua lah yang menjadi sumber utama tulisanku tentang ”sejarah perkembangan lombok dari waktu ke waktu” yang lalu pernah aku tulis.

Dari yang serius hingga yang konyol. Bahwa hati-hati dengan bahasa. Orang Sumbawa kalau mau beli telur biasanya bilang, ”Beli telek satu”

Orang jawa yang mendengarnya pasti tertawa, ”kok beli kotoran sih!”.

Orang Lombok malah marah-marah, ”Apa kamu mau beli ’kemaluan’ saya?”

Dalam bahasa sasak, tele’ berarti kemaluan wanita.

Habis..

Matahari mulai luruh dan senja menampakkan diri di Pelabuhan Poto Tano
Matahari mulai luruh dan senja menampakkan diri di Pelabuhan Poto Tano

Petualangan berlanjut ke Sumbawa menempuh 395 Km dari ujung barat hingga ujung Timur. Dari Poto Tano sampai Sape.

Let’s explore! Gerbang Poto Tano sudah terbuka. Going Wild!

Advertisements

11 thoughts on “Perjumpaan dengan Zul, Figur Harapan Sumbawa (Part 2 )

    1. Hahah iya, aku kalau belajar bahasa setempat selalu tertawa lepas bareng yg punya bahasa. Karena memang lucu.
      Gimana gak banyak beda bahasa, nah di Sumbawa itu tiap desa bisa beda bahasa, itu belum bilang dialek dan tetek bengeknya. Nggak bisa dipelajari sehari dua hari.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s