Ah hampir ku putus asa memahami manusia

Lampu temaram menghiasi depan gubuk dari bambu. Kepulan asap rokok remang-remang diantara seberkas cahaya. Kopi dituang, obrolan pun makin terlarut.

Assalamualaikum.. kami menegur.

Satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, aku, dan adik bertamu ke tetangga belakang rumah. Mereka menyalami kami sambil membungkuk.

Sepuntene ingkang kathah nggeh, buk”, ucap perempuan betubuh gemuk berambut pendek itu.

Kami semua berjabat tangan dan duduk dengan pembicaraan ringan seputar kemarin dan kedatangan saudara dari daerah sebelah.

Suaminya terlihat lebih tua, berkulit coklat tua dan kasar. Dia memang bekerja sebagai tukang bangunan. Rokok tak pernah lepas dari jari tangannya.

Sang istri memulai, rencananya setelah hari raya, gubuknya akan direnovasi. Bedah rumah, katanya.

Suami melirik tajam, isyarat untuk tutup mulut pun terlihat jelas. Adegan tersebut dipertontonkan kami. Dalam nuansa penghormatan yang tetap tinggi pada kami, para tamu.

Dalam kondisi demikian masih saja mereka menyempatkan bersandiwara menutupi. Malah jadinya kelihatan tidak natural dan tidak sejalannya misi elemen dalam keluarga.

Status sosial sebagai guru telah mengangkat derajat keluargaku di kampung sekitaran rumah. Bergabung dengan organisasi sosial untuk menyejahterakan orang dekat rumah sering menjadikan keluargaku sebagai konsultan berbagai konflik disekitar. Pemecah kebuntuan dan juga penegah dalam pertikaian.

Pernah diriwayatkan beberapa tahun lalu. Ketegangan terjadi di belakang rumah. Sebanyak 4 kepala keluarga include didalamnya. Tiga rumah bambu berjajar rapi (tetapi tak serapi hidup mereka) menghadap ke selatan. Yang satunya lagi disebelah timur tetapi agak kedepan.

Entah penyulut api dan permasalahannya yang jelas 4 keluarga tersebut hingga tak mau berteguk sapa.

Sampai ada yang benar-benar bertengkar saat siang menjemur pakaian di depan rumah. Adu mulut pun tak dapat dihindarkan. Salah seorang lain yang rumahnya ikut kena imbas memasang pagar rumah dengan tanaman.

Sepertinya semua dipicu oleh masalah lahan dan hidup. Tidak ada yang mau kalah.

Sebagai tetangga yang baik, kalau terdapat permusuhan di sekitar tak etis rasanya kalau hanya tinggal diam. Ayahku berusaha melerai, memadamkan kompor diantara mereka.

Dan alhamdulillah kini sudah akur lagi, meskipun jarak masih tetap ada.

Ah konflik antarmanusia memang sulit untuk dipelajari. Kadang tingkah sudah hati-hati masih saja ada yang menyalahkan.

Kini sudah kali kedua hari raya kami semua merayakan harmoni kekeluargaan di kampung halaman.

Selamat malam, semua..

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s