Senyum Pelayan Warung

Hi readers,

Sudah lama rasanya jari-jemari tak menari diatas alfabet dalam keyboard. Minggu pagi dengan segenggam semangat menguatkan diri to dance again. Let’s rock!

Oke, sebenernya sudah lama aku ingin menuliskan tentang tema kehidupan di luar kampus. It means hidup warga di sekeliling kampus, entah ekonomi, keseharian, sosial, agama, dan budaya. Mungkin tak menarik bagi sebagian orang. Tetapi cobalah sedikit membuka mata.

Mahasiswa mungkin tak akan bisa menimba ilmu tanpa suplai makanan dari warung-warung pinggir kampus. Tak bisa makan tanpa beli sayur mayur, lauk pauk, ikan, daging, beras, atau nasi di pasar tengah kampung yang dikira kumuh itu. Tak bisa tidur tanpa warga sekitar yang menyediakan kamar kos. Kamar mandi, lampu, air, toko air galonan, peralatan kebersihan: sabun, shampo, sikat gigi, pasta gigi, dsb.

Sebagai tamu di wilayah orang, mahasiswa yang kebanyakan berlaku sebagai perantau, semestinya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Ikut menghargai kultur dalam masyarakat setempat. Tak hanya, ”gue bayar, fasilitas didapat”.

Bentuk difusi dalam relung kehidupan bermasyarakat di kawasan tempat tinggal tanah rantau banyak wujudnya. Dapat berupa teguk sapa, permisi ketika jalan di gang sempit, atau sekedar ikut kerja bakti bersama warga perumahan.

Begitu pula ketika lagi makan di warung. Bukan berlagak seolah mahasiswa bos, pelayan warung hanya babu. We are human, right? Mereka bukan robot. Mereka manusia. Mereka menyediakan masakan dengan susah payah. Pagi sebelum shubuh sudah mulai menanak nasi, menggoreng tempe dan tahu, serta memasak sayur bening dan lodeh. Jam 6 pagi sudah buka, menantikan mahasiswa yang kelaparan, belum mandi, yang dengan malasnya datang ke warung tanpa mencuci muka terlebih dahulu. Nggreeengg… tancap gas naik motor ke warung terdekat.

“Mbak, bungkus nasi”, mahasiswa meminta.

Terlihat seorang pelayan sigap menyiapkan nasi diatas kertas minyak.

”Pakai sayur apa, mas?” tanya sang pelayan

“Sayur asem”, jawabnya singkat

“Lauknya?”

“Telur dadar satu, tempe tepung dua”, jelas si mahasiswa yang udah ngiler kelaparan. Si mahasiswa menambahkan, “Berapa mbak?”

“6,5 mas”

Si mahasiswa mengeluarkan duit dari dompetnya. Kemudian nyelonong (pergi tanpa permisi) begitu saja pulang dengan membawa sebungkus nasi. Hanya ucapan terima kasih dari sang pelayan yang tak berbalas.

Begitu seterusnya. Mahasiswa silih berganti membeli makanan di warung pojok pinggir pasar itu. Ramai selalu warungnya. Murah meriah. Mungkin memang siasatnya menggaet banyak pelanggan dengan sedikit laba. Entahlah.

Seolah tak pernah mati rantai simbiosis antara pemilik warung dan para mahasiswa. Mahasiswa malas, terus menggunakan kedigdayaan uang dari orang tua, beasiswa, uang negara, atau dari keringat sendiri. Mereka gunakan uang itu demi kelangsungan hidup di kampus.

Sering aku perhatikan para pelayan warung itu. Aku kadang gembira melihat mereka tersenyum, tertawa, hingga bercanda dengan sesama pelayan. Kadang mereka ngrumpi (gosip) soal warung tetangga depan yang marah-marah karena beberapa sepeda motor parkir sembarangan. Padahal sepeda motor itu milik pelanggannya sendiri. Marah-marahnya malah dimari. Seorang pria yang merupakan satu-satunya pelayan laki-laki di warung itu menengahi jilatan lidah dua teman pelayan perempuannya.

Seolah tak ada beban. Meskipun harus jauh dari suami dan keluarga. Mereka niatkan bekerja. Itu saja. Mereka jalani itu hari demi hari. Tak kenal bosan. Melayani mahasiswa dengan sepenuh hati. Kadang juga menyulut pembicaraan dengan pembeli. Basa-basi tentang jurusan dan asal. Atau bercanda tentang apapun.

Aku kadang merasa kasihan ketika mereka diharuskan berterima kasih sambil menyunggingkan senyuman pada setiap pembeli di kala mereka sedang bersedih karena permasalahan pribadi. Mereka menghela nafas dalam-dalam, menahan semuanya, dan mencoba menampakkan raut muka ceria setiap saat.

Ada yang harus menggoreng camilan ketika sore, dan menunggu dalam ketidakpastian hingga tengah malam. Ada yang curhat soal penggusuran yang ada hubungannya dengan transformasi gerobaknya. Ada yang emang sudah akrab dan kenal dekat. Penyetan sambal yang tak ada matinya. Dan masih banyak lagi.

Tuan tanah pun berdalih tak akan menjual sejengkal tanah pun meskipun di daerah yang panas, kotor, dan menjijikkan itu. Semua menjanjikan aliran uang yang deras. Bahkan umum didengar, haji kos-kosan.

Semua kisah keseharian selama kurang lebih 3 tahun di tanah rantau.

Good writing morning.

Advertisements

4 thoughts on “Senyum Pelayan Warung

  1. Baca ini jadi kangen kampus dan warung2 sekitar kampus. Sambil makan, sambil bahas kejadian pas kuliah, kadang sambil ketawa kenceng kadang sambil bete2an. Sampe2 si pelayannya suka ikut ketawa dan ikutan ngerespon pembicaraan. Ah, senang 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s