Master of Metallurgy

Kalau tadi bahas soal profesor yang inspiratif, sekarang ganti subjek. Tulisan sebelumnya mengenai Uneg-Uneg Sang Professor. Masih tentang dosen atau pengajar di perguruan tinggi. Aku sebut mereka sebagai dosen jaman dulu.

Gelar mereka tak begitu tinggi, ada yang bertengger master di belakang namanya, ada juga yang insinyur saja. Itu artinya, mereka lulusan S2 dan bahkan hanya S1. Tetapi mereka bagai guru besar di jurusanku. Mereka yang disebut oleh civitas akademika sebagai ”Master of Metallurgy”.

Kenapa kok serasa beliau-beliau itu didewakan sedemikian tinggi? Tentu saja karena pancaran ilmu yang menyilaukan. Beliau berjumlah tiga orang. Dan akan aku ceritakan satu persatu.

Pertama, dia yang belajar dari kehidupan sehari-hari. Pemahaman akan tingkah laku material, proses perubahan sifat mekanik, dan rekayasa/manipulasi struktur mikro didapat melalui perenungan yang panjang. Materi yang dibawakan selalu filosofis dan sederhana.

Misalnya, proses solidifikasi pengecoran dimulai dari permukaan cetakan yang lebih dingin dapat dianalogikan makan bubur yang selalu dimulai dari pinggir. Material komposit yang identik dengan rempeyek dimana tepung sebagai matriks dan kacang sebagai filler. Namun, mahasiswa seringkali terjebak dalam tawa, tak mampu mengikuti, dan tak bisa menebak arahnya.

Dan di akhir kuliah, mahasiswa berkata dengan bodohnya, ”Bener juga kata dosen tadi”.

Kedua, dia yang menulis buku materi kuliah. Dikat yang dihasilkannya merupakan karya masterpiece yang digunakan untuk rujukan dari berbagai kalangan yang berkecimpung di dunia metalurgi di Indonesia. Telah menerjemahkan berbagai buku berbahasa inggris kedalam bahasa Indonesia membuat pemahaman sempurna dalam proses perkuliahan di kelas.

Gaya mengajarnya seperti bercerita dalam dongeng yang mengantukkan. Tetapi ketika diikuti dengan baik, maka mahasiswa sadar bahwa ilmu yang dibawakannya begitu mendalam dan penting dalam dunia kerja dan industri nantinya.

Ketiga, beliau adalah yang memiliki gelar tertinggi dari ketiga temannya. Master. Beliau adalah yang paling aku kagumi. Belajar di Amerika jurusan metalurgi menjadikannya seorang metallurgist sejati. Semua aspek dia kuasai dengan matang: physical metallurgy, heat treatment, non destructive test, inspection, failure analysis, corrosion, quality control and quality improvement. Dosen lain biasa mengajaknya diskusi tentang topik tersebut, yang boleh dibilang minta pertimbangan atau menimba ilmu dari beliau.

Perjumpaan terdekat aku dengan beliau adalah ketika mata kuliah quality control and reliability engineering. Aku mengambil beban 3 sks bersama beliau. Di dalam kelas beliau curhat bahwa dia adalah penguji calon QC di Jawa dan Bali. Dia pernah mengajar diberbagai universitas, khususnya jurusan Teknologi Industri.

Sekarang sudah tua, tidak mengajar diberbagai tempat. Cukup yang dekat saja (di ITS). Muridnya bertebaran dimana-mana, Teknologi Industri khususnya. Sekarang muridnya sudah mengajar diberbagai universitas.

Perjuangannya meraih gelar master dan bisa menjadi seperti sekarang bukanlah hal mudah. Kuliah, tugas, presentasi begitu padat. Berkumpul dengan orang hebat seluruh dunia. Dan beliau sedikit menguak tentang kehebatan orang Jepang, Eropa, dan Amerika, ”Mereka itu sedikit bicara, seolah-olah tidur ketika kuliah berlangsung, tetapi belum lama berselang dia sudah tanya. Agresif. Kalau dosen salah langsung dikoreksi”

”Gila bener!”, katanya.

”Nah saya? Jangankan mau mengoreksi, yang mereka bicarakan aja masih belum mengerti”, sambil memoncongkan bibir dia menceritakan keluh kesahnya belajar di negeri orang.

Dan kalau boleh dikata, mengoreksi itu berarti pekerjaan orang yang telah belajar memahami materi. Mana mungkin orang tak mengerti materi dapat meluruskan penjelasan yang salah? Benar juga pikirku.

”Dasar saya memang tidak pandai bahasa inggris. Disana tak langsung kuliah karena harus mengambil kursus bahasa dahulu. TOEFL ditarget 550, saya masih belum menggapainya”, dia menambahkan dengan kerendahan hati.

Kuliah jaman dahulu memang sangat berat dan keras. Mencari nilai sangat susah. Pilihannya belajar dengan giat mendapatkan nilai C atau gagal mendapat nilai E. Pantas kalau lulus lama, 5 tahun atau bahkan lebih. Sisi positifnya, ilmu yang didapat begitu mengena dan matang. Tak setengah-setengah seperti kuliah jaman sekarang.

Dan diakhir cerita beliau menegaskan,

”Apapun dapat terwujud ketika kita mau usaha”

Begitulah cerita mengenai tiga master di jurusanku.

Sayang, mereka sudah tua dan dalam masa pensiun. Mereka diminta tetap mengajar meskipun tanpa beban administratif. Semoga beliau-beliau sehat selalu sehingga mahasiswa tetap segar oleh siraman ilmu pengetahuan dari dosen senior macam bapak yang kaya akan pengalaman di lapangan.

Aamiin.

Advertisements

2 thoughts on “Master of Metallurgy

  1. Bener banget, kuliah jaman dulu sama sekarang beda jauh. Sekarang Sarjana seolah lulus hanya selesainya proses administratif. Jaman dulu, benar-benar Sarjana dalam arti sebenarnya. Jaman sudah berubah, filosofi pendidikan kita sudah berubah. Sekolah, dan kampus, tak ubahnya pabrik2, u menghasilkan produk masal, calon2 pekerja industri.

    1. Semoga kedepan para pendidik tak hanya mengajar, tak lagi hanya menuntaskan kewajiban “pegawai” dan mendapat hak upah. Tetapi juga memperjuangkan output anak didik yg lebih baik. Outputnya bukan nilai, bukan ijasah melainkan akhlak yg baik, kecerdasan berpikir, minat dan bakat yg dikembangkan, dan tentunya makin mengenal diri sendiri, serta tak jauh dari agama karena disekularisasi. Aamiin..

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s