Alam Semesta, Kehidupan, dan Kehancuran

Kemarin, aku dikagetkan oleh sms nyasar seorang mahasiswa biologi yang bertanya sesuatu yang fundamental. Dia minta penjelasan tentang konsep entropi dalam dunia biologi. Jujur pertanyaan ini adalah pertanyaan non ilmiah, non textbook answer, dan cenderung berasaskan penalaran belaka. Tanpa pikir panjang aku jelaskan. Tetapi rupanya penjelasanku kurang memuaskan. Dan dia masih bingung. Dan tulisan ini aku buat se-sistematis mungkin untuk menjawab teka-teki itu.

Misteri alam semesta (sumber gambar: zeetal.com)
Misteri alam semesta (sumber gambar: zeetal.com)

Alam semesta

Alam semesta diyakini terbentuk oleh kekuatan supranatural diluar sistem semesta. Keyakinan itu hendaknya tak sekedar diterima sebagai doktrin. Lebih jauh, harus melalui proses pemikiran, perenungan, dan petualangan yang panjang.

Dengan meneladani Nabi Ibrahim as dalam menemukan Tuhan. Beliau menistakan berhala yang tak bisa membantu dan bahkan tak mampu mendengar permohonannya, apalagi mengabulkannya. Kemudian, beranjak keluar dari rumah meninggalkan ayah yang juga seorang pembuat dan penyembah berhala. Memandang bulan ditengah malam, dia pikir itu tuhan karena sinarnya menerangi. Tetapi ketika menjelang pagi, bulan pun menghilang dan digantikan oleh matahari yang sinarnya lebih terang. Dia pikir itu tuhan, tetapi dalam benaknya menolak. Tuhan tak mungkin tenggelam. Yang kekal abadi dan tak terbatas diatas segalanya. Sang Pencipta Alam.

Jadi harus melalui proses, bukan taqlid (pengikut buta).

Orang science bilang, alam semesta berasal dari ketiadaan. Volume = nol. Mereka berasumsi bahwa alam semesta kini sedang mengembang, tak statis. Mengembang terus bertambah besar dari waktu ke waktu. Dan jika ditarik dari awal terbentuknya maka dapat ditarik kesimpulan bahwa awalnya berawal dari benda kecil yang bermassa  tak hingga namun volumenya mendekati nol (sangat kecil atau bahkan tiada).

Sesuai hukum relativitas einstein, bahwa energi sebanding dengan massa. Semakin tinggi massa maka semakin tinggi energinya. Dan akan sangat besar sekali massa tersebut ketika mendekati cepat rambat cahaya. Berdasarkan rumus E = m c2 ­yang amat terkenal itu.

Dengan demikian ketika massa tersebut tak hingga, maka akan ada energi dalam yang tak hingga pula. Dan berangkat dari itulah, mereka berasumsi bahwa ledakan besar terjadi. Teori bigbang.

Mungkin saja benar. Tetapi ada yang tidak bisa dijawab oleh mereka yang menganut teori ini. Dari mana massa yang tak terhingga itu? Energinya dapat dari mana? Bukan kah materi yang bermassa itu pasti memiliki ruang?

Yang paling ilmiah dalam menjatuhkan teori bigbang adalah teori konservasi massa dan konservasi energi yang dicetuskan oleh penganut naturalis sendiri. Massa dan energi tak dapat diciptakan atau dihancurkan, hanya dapat dikonversikan. So, who is the creator of mass and energy?

“Tuhan lah yang menciptakan semuanya dengan teliti dan memeliharanya”, jawab kaum yang percaya akan adanya campur tangan kekuatan supranatural.

Kehidupan

Beranjak pada kehidupan, kenapa kehidupan bisa ada? Berdasarkan analisis kaum biologis bilang kalau makhluk hidup itu tersusun atas sel. Sel merupakan unit terkecil kehidupan. Tetapi permasalahannya menjadi pelik ketika mereka menyadari bahwa penyusun sel adalah benda mati. Mereka bingung, apakah hidup ini dari mati? Atau batas hidup dan mati itu tipis dan samar.

Mereka menyatakan bahwa sejatinya benda mati baik itu senyawa anorganik maupun organik dalam sel melakukan reaksi kimia yang rumit dan menciptakan kode-kode pembawa informasi kehidupan. Benang merahnya adalah tanpa reaksi itu hidup dikatakan berakhir.

Diprediksi bahwa awal mula kehidupan berasal dari protein sederhana bernama asam amino. Reaksi pembentukan asam amino dari air dan senyawa anorganik lain dipicu oleh energi alam misal petir atau yang lain. Katanya, dahulu bumi masih labil dan banyak energi alam dan kosmos yang tepantik dimuka bumi. Energi itu mengaktivasi reaksi pembentukan asam amino.

Kemudian asam amino beraksi dengan yang lain, kemudian yang lain dengan yang lain lagi membentuk kesatuan fungsi, sel tunggal. Sel ini hidup dan sekarang ditunjukkan oleh banyak biota laut dan bakteri sebagai makhluk hidup bersel satu.

Mereka kemudian bergabung membentuk jaringan, jaringan membentuk organ, dan organ membentuk sistem organ. Kesemuanya, membentuk sistem kompleks diluar nalar. Hingga membentuk homo sapiens seperti umat manusia yang begitu cerdas. Itu terjadi karena kebetulan di alam.

Kehancuran

Oke, kata temanku, clue dalam menjelaskan kehidupan itu tidak terjadi karena kebetulan adalah pendekatan analisis mengenai entropi.

Kita harus tahu definisi entropi terlebih dahulu sebelum jauh mengembara dalam alam nalar. Entropi berdasarkan termodinamika berarti derajat ketidakteraturan sistem. Artinya, dalam sebuah reaksi, energi masuk tidak sama dengan energi keluar. Karena beberapa energi keluar sebagai ketidakteraturan/kerusakan/kehancuran. Ini hukum alam.

Alam semesta diyakini tidak statis. Geraknya relatif. Dan sedang mengalami expanding atau mengembang. Jadi, tata surya, galaksi, dan yang menyertainya bergerak saling menjauhi satu dengan yang lain. Dengan pusatnya yang dinamakan black hole. Terus mengembang menuju ketidakteraturan sistem. Dan disitulah entropi terjadi ditilik dari skala makro.

Jika ditinjau secara mikro, dalam hidup sebuah organisme misalnya. Ketika awal kehidupan, reaksi antara sel sperma dan sel telur yang melebur membentuk kesatuan sel yang nantinya akan berkembang menjadi individu baru melalui proses rumit. Reaksi kimmia pembentukan DNA, DNA membawa kode untuk pembelahan sel kromosom. Sel membelah secara mitosis. Intinya semakin banyak dan menjadi kesatuan sistem yang menjalankan fungsi tertentu.

Dalam tahap perkembangan, sistem kesetimbangan reaksi itu bergerak pada keteraturan. Semakin lama manusia hidup semakin menunjukkan perkembangan. Dari makan, minum, duduk, berdiri, dan berjalan. Sisi mental, dari yang tidak bisa berhitung kemudian bisa berhitung, membaca, dan mengingat nama-nama. Perkembangan makhluk hidup menuju fase matang atau dewasa itu adalah hasil reaksi kimia dalam tingkat yang paling kecil dari kehidupan, yaitu di dalam sel.

Kalau benar entropi dalam perkembangan organisme itu ada, harusnya sel utama hasil peleburan sperma dan ovum itu terus mengalami degradasi. Penurunan dan ujungnya adalah kehancuran. Tetapi kenyataan berkata lain. Dia malah berkembang semakin baik dan efisien reaksinya. Barulah ketika ia sudah mencapai fasa maksimal perkembangannya, mereka tak lagi bisa tumbuh, mereka malah mengecil, tulang menjadi keropos, gigi rontok, ingatan mulai hilang. Intinya semakin menuju kematian.

Dalam tulisan ini, aku hanya menukik sisi biologisnya. Aku biarkan pertanyaan kehidupan yang berujung kematian ini apakah memang benar merupakan proses entropi atau bukan tetap menganga dan mengambang tanpa jawaban. Tulisan selanjutnya akan saya utarakan bahwa hidup itu bukan kebetulan. Tulisannya disini. Ada Tuhan yang menciptakan. Pendekatan tulisan selanjutnya adalah pendekatan ke fenomena alam yang umum dalam dunia metalurgi. Karena aku kan mahasiswa metalurgi. Hahah.

Semoga mencerahkan sejauh ini ya

Ini murni pemikiranku, dan berdasarkan ilmu fisika, kimia, matematika, dan biologi ku yang terbatas. Seingat ketika sekolah menengah dulu. Kalau ada yang keliru, monggo dikoreksi. Aku terbuka untuk segala bentuk kritik, saran, atau tambahan. Atau membuka pori-pori diskusi yang lebih dalam lagi.

Advertisements

11 thoughts on “Alam Semesta, Kehidupan, dan Kehancuran

  1. Poin yang sangat menarik. Hanya saja menjadi dilema bagi saya dalam mengajar. Saya berusaha untuk memberikan bbrp contoh ayat yang terkait penciptaan alam semesta. Sepertinya mhs di kelas sepakat dengan hal itu. Mereka percaya bahwa alam semesta tidak terjadi secara kebetulan semata, atau semerta-merta berdasarkan teori Oparin dan percobaan Miller saja.

    Karena saya akan memberikan materi tentang Termodinamika dalam waktu dekat, dan di dalam materi tsb ada hukum kekekalan massa (dan saya juga masih belajar untuk memahami materi ini), pendekatan seperti apa yang harus saya gunakan untuk menjelaskan hukum ini tanpa mensugesti mereka bahwa seluruh pemikiran ilmuwan Barat adalah benar?

    1. Maaf mbak, baru sempat balas sekarang, Sibuk skripsi semester akhir nih hehhe
      Aku kagum banget ketika mbak bisa menjelaskan pada mahasiswa tentang hubungan ilmu alam dan agama melalui contoh ayat. Soalnya diera sekularisme sekarang, dimana subjek dikotak-kotakkan dan dipisahkan sehingga murid berbondong-bondong menuhankan science. Sekarang di Indonesia memang tak terlalu terlihat, mereka masif masih dalam tataran kebingungan dalam pikiran. Butuh pengajar yang bisa menjelaskan seperti mbak Ami.
      Dan soal pendekatan untuk menjelaskan teori termodinamika, yang pas adalah menghubungkan termodinamika dengan kehidupan di alam. Karena termodinamika adalah konsep sederhana berupa generalisasi mengenai semua proses fisik dan kimia di alam semesta. Dan untuk mensugesti bahwa tak semua pemikiran barat itu benar, bisa ditekankan bahwa manusia hanya terbatas dalam merepresentasikan alam, tetapi tidak bisa menjelaskan ‘kenapa’ dari setiap proses dialam itu. Semoga membantu.

      1. Saya masih modal terjemahan ayat Al-Quran, sih, belum mendalaminya. Paling-paling tambahannya dari tulisan dari ilmuwan Islam di internet. 😀

        Setuju, dan saya juga korban dari sistem pendidikan yang seperti itu. Pengajarnya sendiri hanya berfokus pada sains dan tidak mengimbanginya dengan agama.

        Terima kasih banyak atas sarannya 🙂

  2. Satu poin yang menarik dalam tulisanmu adalah ttg pertanyaan yang berujung pada jawaban –> eksistensi Allah dalam segala penciptaan alam semesta beserta isinya. Pertanyaan tentang siapa yang menyediakan massa alam semesta yg tak terhingga, ruang alam semesta yg tak terbatas sehingga membangkitkan energi sedemikian besarnya dan pada akhirnya tercetus ledakan bigbang dan tercipta banyak benda-benda di alam semesta — kalau bukan dzat yang memiliki kekuatan yang Maha Besar, tidak akan bisa semua ini tersedia dan tercipta. Dan ini kadang menciptakan pertanyaan-pertanyaan baru (di luar nalar manusia) 😀

    Tapi mengenai hubungan entropi dan definisi makhluk hidup, aku masih belum puas sama jawabannya, Fid. 😛 Jadi sebenarnya entropi pada makhluk hidup itu, yang kacau apanya? Keteraturan sistem tubuh dan reaksi dalam sel yang sangat teratur dan sistematis itukah yang menyebabkan kekacauan (entropi)? Kekacauan itu berupa apa? (gangguan kesehatan/penurunan struktur dan fungsi sel dan jaringan –> menyebabkan kematian) kah yang dimaksud entropi skala mikro? Kenapa harus ada entropi?

  3. Mas, mau menambahkan juga bahwa teori big bang mengandung banyak kelemahan, Khususnya karena pada teori ‘big bang’ dianggap, bahwa proses penciptaan alam semesta hanya melalui ‘satu’ titik ledakan besar saja (ledakan dari suatu benda amat sangat besar, panas dan padat, yang meliputi keseluruhan materi penyusun alam semesta). Juga bahwa alam semesta ini bersifat ‘kekal’ (ada anggapan, siklus ‘big bang’ bisa terus berulang tanpa akhir). Juga bahwa alam semesta yang ada sekarang ini terbentuk dari proses ‘big bang’ sebelumnya (tanpa awal). Saya lebih setuju dengan teori ‘big light’ bahwa proses penciptaan alam semesta diawali dari sesuatu sinar yang amat sangat putih, terang dan panas di seluruh tempatnya (‘big light’). Lalu diikuti oleh ‘amat sangat banyak’ jumlah titik ledakan pada ‘kabut alam semesta’ juga di seluruh tempat. Dan alam semesta ini bersifat ‘fana’ (penciptaannya hanya sekali dan tanpa siklus).

    Alam semesta ini pada saat awal penciptaannya hanya berupa sesuatu ‘asap atau kabut’ yang meliputi keseluruhan alam semesta ini, yang amat sangat panas (jutaan ataupun milyaran derajat Celcius), dan bersinar amat sangat putih dan terang. Serupa halnya dengan sinar dari matahari yang amat menyilaukan itu, dan juga bisa membutakan mata manusia, jika terlalu lama melihatnya. Namun sinar dari “kabut alam semesta” itu tak-terhitung kali lipat jauh lebih terang daripada sinar matahari, karena justru meliputi keseluruhan alam semesta, sedangkan matahari hanya tampak seperti suatu bola kecil saja.

    Beberapa keadaan pada awal penciptaan alam semesta di atas diakui memang sengaja ditambahkan, karena tidak disebut dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 30 dan surat Fush Shilat ayat 11. Kedua ayat ini pada intinya hanya menyatakan, “bumi dan langit pada saat awalnya bersatu padu, berupa asap”. Sedangkan keadaan yang amat sangat panas, putih dan terang itu berdasar teori, bahwa alam semesta pada saat awalnya tidak memiliki energi, ataupun berdasar teori dalam ilmu-pengetahuan modern, “bahwa energi bersifat kekal, tetapi energi bisa diubah dari suatu bentuk ke bentuk lainnya”, sehingga mestinya ada sesuatu energi paling awal, bagi berjalannya seluruh alam semesta dan segala isinya.

    Maka diciptakan-Nya pula sesuatu yang disebut “energi awal alam semesta”, yang amat sangat panas, putih dan terang itu, sehingga bisa dipakai sampai akhir jaman oleh segala jenis zat makhluk-Nya, untuk bisa hidup dan beraktifitas. Bahkan sesuai dengan teori ilmu pengetahuan modern saat ini, bahwa dari energi justru bisa terbentuk berbagai jenis Atom, dari berbagai jenis atom yang lebih sederhana, sampai dari materi-benda yang ‘terkecil’. Sedang Atom yang paling sederhana adalah atom gas Hidrogen.

    “Kabut alam semesta” itu sendiripun terdiri dari segala materi lahiriah-nyata-fisik penyusun seluruh alam semesta ini, dalam bentuk ‘uap’ dari unsur terkecilnya (‘Atom’). Atom juga adalah bentuk setiap materi-benda dalam keadaannya yang paling panasnya. Dan seluruh Atom di alam semesta ini bercampur-baur, bertumbukan dan bergerak dengan amat sangat bebas dan cepat ke segala arah, akibat dari adanya “energi awal alam semesta” yang amat sangat panas tersebut. Tentu saja setiap Atom itupun tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, akan tetapi jika telah bercampur dalam jumlah yang amat sangat banyak seperti di atas, maka bentuknya akan berupa ‘kabut atau asap’. Sedang jika dilihat dari dekat, asap atau kabut itupun tetap tidak terlihat mata telanjang. Secara sederhananya, “kabut alam semesta itu adalah kabut dari atom-atom gas hidrogen yang sedang terbakar”. Hal inilah yang dimaksud dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 30 di atas, tentang “masih bersatu-padunya langit dan Bumi” pada saat awal penciptaan alam semesta ini, karena Bumi, beserta segala benda langit lainnya (bintang, planet, komet, meteor, dsb) memang masih melebur dan menyatu dalam ‘suatu kabut’ (atau sama-sekali belum berwujud). Segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini (benda mati dan makhluk hidup, nyata dan gaib) pasti berasal dari suatu ketiadaan, lalu diciptakan oleh Allah, Yang Maha pencipta dan Maha kuasa

    1. Well, terima kasih atas tambahan ilmu tentang scientist yang berpendapat bahwa bigbang adalah proses bersiklus. Jujur saya baru tau tentang itu. Dan tentu saja, saya sependapat dengan anda bahwa ada energi awal penciptaan oleh kekuatan supranatural yang kita sebut sebagai Tuhan. Thanks 🙂

  4. Saya juga mau menyangkal ttg teori entropi terbalik yang terjadi pada big bang … Ada kelemahan pada teori ‘entropi terbalik’, sehingga ‘big bang’ itu dianggap bisa terjadi berulang-ulang (siklus), ataupun alam semesta dianggap bersifat ‘kekal’ . Menurut teori ilmu alam sampai saat ini, bahwa nilai ‘entropi’ dari tiap materi, secara perlahan-lahan pastilah makin meningkat, atau tingkat keaktifan tiap materi secara perlahan-lahan pastilah makin berkurang, karena jumlah seluruh ‘energi panas’ di alam semesta, memang makin berkurang (karena terus-menerus relatif pasti berubah bentuk, menjadi segala jenis energi lainnya). Sehingga seluruh alam semesta justru terus-menerus berkembang luasnya, karena energi pada tiap pusat benda langit untuk bisa ‘mengikat’ benda-benda langit lainnya, ikut berkurang pula. Sedang menurut teori ‘entropi terbalik’, bahwa sesuatu saat nanti justru terjadi suatu keadaan yang ‘berkebalikan’ dari berbagai hal pada keadaan saat ini. Pada saat itu alam semesta akan menyusut luasnya sampai menjadi suatu titik kembali, lalu setelah itu bisa terjadi lagi suatu peristiwa ‘big bang’ yang berikutnya. Dan siklus seperti ini akan terus-menerus berulang ‘tanpa akhir’. Sehingga orang-orang yang menyetujui teori entropi terbalik itu menganggap, bahwa alam semesta bersifat ‘kekal’. Tetapi teori entropi terbalik itu justru belum pernah terbukti sama sekali, dan hanya berdasar hasil simulasi model matematis. Padahal proses penyusutan alam semesta, seperti menurut teori entropi terbalik itu, justru pasti memerlukan ‘energi tambahan’, yang mestinya setara pula dengan jumlah seluruh energi (tak terbatas), seperti saat awal penciptaan alam semesta. Keberadaan ‘energi tambahan’ itu justru tidak pernah dijelaskan secara lengkap dan jelas, dalam teori entropi terbalik.

    1. Entropi terbalik, baru tau saya tentang itu. Dan jika anggapan orang alam semesta ini kekal, tentu kita sama-sama menolak toh. Buktinya juga belum jelas secara scientific. Terima kasih tambahannya 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s