Fenomena Korosi dalam Metalurgi

Baik, dalam tulisan sebelumnya, disini, ada pertanyaan yang belum terjawab. Kenapa makhluk hidup harus berkembang ke kondisi pertumbuhan? Dan ketika sudah maksimal, dia kemudian terdegradasi dan akhirnya mati.

Konsep itu dapat dijawab dengan mudah melalui pendekatan keilmuan metalurgi.

Karat besi dalam rantai (sumber gambar: industri22egi.blogspot.com)
Karat besi dalam rantai (sumber gambar: industri22egi.blogspot.com)

Di alam, kondisi atom-atom berada dalam keadaan dasar (ground state). Ground state didefinisikan sebagai kondisi dengan energi terendah. Kondisi tersebut adalah kondisi paling stabil. Kondisi stabil itu biasanya dalam bentuk senyawa, kecuali beberapa unsur yang mulia. Dalam kondisi itu, sedikit hal yang dapat dimanfaatkan. Manusia sebagai makhluk hidup cerdas menginginkan kebermanfaatan yang lebih.

Dalam engineering, jarang orang menggunakan oksida besi dalam pembuatan blok mesin atau komponen mesin lainnya. Oksida besi dalam bentuk Fe2O3 atau FeO atau Fe3O4 adalah karat besi yang tidak diinginkan dalam struktur yang menggunakan besi sebagai dasarnya. Kebanyakan yang digunakan adalah besi murni Fe dengan unsur paduan lain misalnya C membentuk baja dan Cr/Ni membentuk stainless steel (baja tahan karat).

Padahal di alam, besi ditemukan dalam kondisi stabilnya. Yang tak lain adalah berbentuk mineral hematit (Fe2O3), pirit, magnetit (Fe3O4), dsb. Yang itu semua berbasis oksida. Mau tak mau, kita engineer harus merekayasa mereka menjadi besi murni dengan cara menghilangkan oksidanya. Mekanismenya melalui reaksi kimiawi dengan bantuan panas (pyrometallurgy) atau larutan (hydrometallurgy).

Kesemua reaksi itu membutuhkan energi. Dan ketika terbentuk besi murni Fe, sebenarnya kondisinya adalah metastabil (semi stabil). Jika dibiarkan, maka materi apapun akan kembali menuju kondisi stabilnya. Itulah proses yang dinamakan proses korosi. Fe dialam akan bereaksi dengan oksigen membentuk karat besi Fe2O3 kembali. Proses ini menghasilkan energi. Melepas energi yang diberikan ketika proses pembuatan diawal dimana energi ditambahkan pada sistem.

Jika dikaitkan dengan definisi hidup berdasarkan pendapat schrodinger, makhluk hidup cenderung kepada keteraturan. Mereka merapikan ketidakteraturan hingga puncak masa pertumbuhannya. Dan ketika ketidakteraturan itu muncul dan terus berkembang pada masa penurunan atau degradasi menuju kematian. Makhluk hidup cenderung lembam dan mempertahankan keteraturan itu. Layaknya manusia yang mencoba menahan laju degradasi besi menjadi karat. Mereka hanya bisa mengendalikan laju degradasi, tidak bisa menghindari. Karena itu hukum alam.

Contoh kongkretnya, manusia ingin tetap terlihat muda. Mereka melakukan berbagai cara untuk memperlambat laju penuaan. Dengan olahraga, operasi, perawatan kulit, wajah, dll. Tetapi mereka tak bisa memungkiri bahwa tua dan mati itu pasti, kita hanya bisa berusaha untuk memperlambat (memperpanjang umur) dengan pola hidup sehat.

Setidaknya begitulah analogi makhluk hidup. Awalnya berkembang dan kemudian terdegradasi dan mati. Mereka berasal dari barang mati kemudian ditambahkan sejumlah energi oleh Sang Pencipta, kita mengenalnya ruh, dan itulah yang menuntun kita berkembang. Energi itu telah mencitakan kondisi metastabil. Dan kondisi itu tak berlangsung lama. Dan makhluk hidup apapun yang ada pasti akan bergerak menuju kondisi dasarnya, kondisi alam, ground state dengan energi terendah, mati. Dalam hal itu makhluk hidup telah kembali menjadi kondisi dasar yaitu mati menjadi tanah. Tanah yang tak memiliki energi lagi untuk bangkit, berdiri, bertepuk tangan, berlari, makan, minum, berinteraksi dengan orang lain, tidur, bangun, dan melakukan aktivitas seperti makhluk hidup pada umumnya.

Dan segala kondisi tak terpola, ganjil, aneh, dan terkesan supranatural selalu tidak bisa dijawab oleh kaum penganut science. Mereka hanya bisa menjelaskan proses yang terjadi. Dan mengenalinya dengan nomenclature tertentu, menamai proses dengan nama orang, menamai unsur dengan nama si penemu, dan menamai segala sesuatu yang merupakan kecenderungan sebagai insting atau hormon.

Misalnya, proses difusi pada tumbuhan. Kenapa air dapat masuk dalam tanah dari konsentrasi yang lebih tinggi menuju sel tumbuhan yang konsentrasi airnya lebih rendah? Terus demikian hingga air dapat terpompa menuju daun dan melakukan proses fotosintesis. Kata orang biologi atau kimia kecenderungan zat mengalir dari konsentrasi tinggi menuju konsentrasi rendah hingga terbentuk kesetimbangan sebagai hormon. Mereka hanya menamai kecenderungan. Tetapi tak pernah menanyakan kembali, siapa yang menciptakan kecenderungan ini semua? Kenapa alam bergerak pada kerusakan? Kenapa kecenderungan makhluk hidup normal melakukan regenerasi, mencintai lawan jenis, nafsu terhadap makan? Lapar. Dan banyak lagi yang lain.

Mereka bingung dan dengan lantang orang yang percaya akan adanya campurtangan kekuatan super bilang,

Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (QS. Al-Ikhlas : 1-4)

Semoga membantu mencerahkan. Habis.

Advertisements

10 thoughts on “Fenomena Korosi dalam Metalurgi

    1. Jawaban atas pertanyaanmu tentang hubungan entropi dan makhluk hidup udah aku tambahkan di tulisan ini. update.
      Tak kasih contoh kongkret ya, reaksi kimia yang amat rumit dalam pembentukan kode DNA di dalam inti sel yang membawa sifat pembelahan sel kulit sehingga dapat tumbuh berkembang. Itu reaksi sangat rumit dan teratur. Ketika masa penuaan tiba, reaksi itu tidak terjadi lagi. Bisa dibilang menjadi acak sehingga tidak menyebabkan perkembangan kulit lagi. Kulit menjadi keriput karena tidak disuplai nutrien lagi oleh sel pembentuknya. Disitulah letak entropi dan ketidak teraturan.
      Semoga membantu 😀

      1. Nah, thats clarity and point answer which I want to know .. Thanks you very much my dear, friend! 😛

  1. sipp… Saya setuju dengan pendapat anda bhwa makhluk hidup apapun yang ada pasti akan bergerak menuju kondisi dasarnya, kondisi alam, ground state dengan energi terendah, mati. Dan saya menyebutnya sebagai ruh yang sedang dalam alam barzah (kubur)…. Tiap ruh memerlukan energi, agar tetap bisa hidup dan tetap bisa melakukan segala aktifitasnya. Di seluruh alam semesta inipun ada terdapat energi, maka ruh-ruh bisa berada di mana saja. Sedang energi yang diperlukan oleh tiap ruh memang amat sangat kecil, bahkan jauh lebih kecil dari energi pada suatu atom dan pada partikel-partikel sub-atom. Keberadaan energi di seluruh alam semesta relatif mudah dipahami, misalnya dari amat luasnya pengaruh energi gravitasi dari tiap pusat galaksi terhadap ratusan milyar bintang anggota gugusan bintangnya. Keadaan amat ideal ‘tanpa energi’ (bersuhu nol mutlak), yang justru belum terbukti ada di alam semesta ini, adalah keadaan seperti saat proton dan elektron pada suatu atom, bahkan tidak bisa bergerak sama-sekali.
    Tentunya berbagai jenis ruh yang memiliki tubuh wadah misalnya manusia, memerlukan energi yang relatif cukup besar pula sebagai makhluk utuh, misalnya untuk: kelangsungan hidupnya (tubuh wadahnya relatif tersusun dari sejumlah milyaran sel-sel hidup); perkembangan tubuh wadahnya; berbagai aktifitas fisik-lahiriah; berpikir; marah dan aktifitas pikiran lainnya (batiniah); dsb.
    Selain itu pula, tiap jenis zat ruh tertentu justru hanya bisa menetap pada jenis benih dasar tubuh wadah tertentu, jika bisa terpenuhinya keadaan atau tingkat energi minimal tertentu pada benih dasar tersebut. Seperti halnya keadaan energi pada benih dasar tubuh wadahnya (dari hasil bercampurnya pasangan sel-sel generatif induknya), tepat saat ditiupkan-Nya dengan zat ruhnya. Maka zat ruh itu pasti akan dikeluarkan, dicabut, diangkat atau dibangkitkan-Nya dari jasad tubuh wadahnya, yang memang telah membusuk di dalam kuburnya, jika tingkat energi minimal pada benih dasar tubuhnya telah tidak bisa terpenuhi (darahnya tidak bisa lagi menyuplai energinya yang masih tersisa). Dan zat ruh pada tiap makhluk hidup nyata yang telah wafat itupun, pasti akan kembali lagi ke hadapan ‘Arsy-Nya.

    Pembusukan jasad tubuh wadah manusia misalnya, bisa berlangsung selama puluhan ataupun ratusan hari, tergantung pada keadaan atau tingkat pengawetan tanah kuburannya. Sedang belum ada keterangan jelas tentang letak tepatnya dari sel “benih dasar” (letak dari zat ruh ‘induk’ suatu makhluk berada), setelah tubuh suatu makhluk hidup nyata menjadi utuh dan lengkap. Sehingga saat kematian dari sel “benih dasar” itu, adalah saat kematian yang sebenarnya bagi tiap makhluk (saat diangkatNya ruh), tidak cukup hanya sekedar saat kematian secara teknis menurut definisi ilmu kedokteran (pada saat organ-organ penting tubuh telah tidak berfungsi). 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s