Bahaya berpuas diri dan merasa nyaman

Pernah suatu ketika aku berjumpa dengan seseorang, “kenapa kau tetap saja seperti ini? Tak ada perubahan”

Dia menjawab ketus, “Aku nyaman berada disini, tak ada ancaman”

Aku hanya membalas dengan senyum.

Sungguh tak wajar ketika ada manusia yang bilang dalam zona nyaman. Padahal esok hari tak ada yang tau. Serba tidak pasti. Esok hari bisa makan atau tidak, ada apa dengan kondisi kita, bisa saja terjangkit penyakit, bangkrut bagi yang berbisnis, atau dapat nilai E bagi mahasiswa, dsb. Bahkan di masa mendatang, kita tak bisa memastikan kita mendapat kenikmatan yang kita rasakan sekarang. Dan ekstrimnya, kita tak dapat mengunci bolak-baliknya iman, mati dalam keadaan kafir. Naudzubillah.

Oleh karena itu, lima kali sehari kita mengulang-ulang bacaan, Tunjukilah aku jalan yang lurus, dinamis menuju kebaikan. Membaca ayat tersebut dengan segala kerendahan, bahwa diri ini masih hina dan berlumur dosa. Konsekuensinya, kita meminta kepada Allah Azza wa Jalla memberikan petunjuk jalan yang lurus hingga ajal menjemput.

”Aku sudah bisa kok, aku mengerti”, ujar salah seorang teman

Merasa sudah menguasai ilmu tertentu. Mencukupkan diri dalam menimba ilmu. Sudah terlalu banyak ilmu yang diperoleh, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Ingin rehat, tidak belajar ilmu pengetahuan lagi. Dan merasa gagah dengan sejuta pencapaian selama menimba ilmu.

Mereka yang dibuai oleh atmosfer yang ada ditengah-tengah masyarakat sejatinya tahu akan kondisi sekarang yang begitu bobrok ini. Sayang, mereka putus asa dan berkata, ”Aku menerima kondisi baik buruk saat ini, dan aku membanggakannya”

Kesemuanya itu begitu membahayakan! Ada sebuah artikulasi penting dalam menentukan keputusan, ”Berteman dengan orang bodoh yang haus akan ilmu lebih baik daripada berteman dengan orang alim yang merasa puas dengan lautan ilmu sekalipun”

Tetapi perlu digaris bawahi bahwa berteman dengan orang bodoh yang putus asa lebih berbahaya lagi.

Berteman dengan orang yang memicu kebaikan terus menerus. Setidaknya, kita berharap ketularan (ikut meneladani) sifat yang haus akan ilmu. Bukan malah santai merasa sudah banyak ilmu yang dimiliki.

Konsep pertemanan yang dianalogikan dengan pedagang minyak wangi dan pande besi yang telah digambarkan oleh figur idola kita bersama, Rasulullah Muhammad SAW,

“Sesungguhnya, Perumpamaan Teman yang Baik dan Teman yang Buruk, adalah Seperti Penjual Minyak Wangi dan Tukang Pandai Besi. Seorang Penjual Minyak Wangi akan memberi kamu Minyak, atau kamu Membelinya, atau kamu mendapati Bau yang Harum darinya. Sedangkan Pandai Besi, maka bisa jadi akan Membakar bajumu dan bisa pula engkau mendapati darinya Bau yang Busuk”.
(HR. Muttafaq ‘Alaih).

Maka dari itu, mulai sekarang janganlah kita merasa aman dalam rumah yang bersekat tembok beton beratapkan semen cor. Aman dari ancaman setan dari golongan jin dan manusia karena merasa punya daya untuk menghentikan semua itu. Memasang CCTV, anjing penjaga, satpam, double security system demi melindungi harta benda, keluarga kesayangan, dan eksistensi diri dari maling.

Merasa aman dari azab Allah karena merasa diri sudah banyak amalan dan ibadah. Lebih baik dzikir dan sholatnya daripada teman kita. Melakukan kemaksiatan secara diam-diam. Mengendap-endap mencuri waktu sholat. Sejatinya, kita hanya bisa menutup-nutupi aib sendiri, tanpa bisa mengelak bahwa Allah Maha Mengetahui.

Jika kita sadar betul bahwa, ”Buat apa membohongi diri sendiri dengan menunjukkan sesuatu yang baik dari diri kepada sesama manusia?”

Jika kita juga sadar bahwa, ”Tidak ada tempat dimana pun di alam semesta yang meleset dari pengelihatan Allah SWT”

Maka kita tentu tak perlu lagi riya’ dan sum’ah di depan manusia. Dan tak lagi berani berbuat kemaksiatan, baik di keramaian atau dalam kesendirian.

Dan sebagai penutup, yuk mari kita menundukkan hati serendah mungkin, menyadari setiap kedzaliman yang kita lakukan, dan seraya meminta ampun serta dijauhkan dari api neraka.

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (Kutipan QS Al-A’raf 7: 23)

Dan semoga iman kita tetap dijaga oleh Allah, dijauhkan dari fitnah dajjal, serta dihindarkan dari adzab kubur dan neraka jahannam.

“Ya Allah, Sesungguhnya aku ber-lindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.”

Ya Muqallib al-Quluub, Tsabbit Qalbi Ala Diinik

Aamiin.

Advertisements

5 thoughts on “Bahaya berpuas diri dan merasa nyaman

  1. Saya sepakat dengan ulasan diatas untuk bahwa sungguh merusak orang yang alim namun merasa berpuas diri, dan orang bodoh yang merasa putus asa..

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s