Produk Pendidikan ala TV, Bodoh kok Bangga?

Awas bahaya laten TV (sumber: www.katalogibu.com)
Awas bahaya laten TV (sumber gambar)

Ketika sekolah menengah dulu, aku ingat betul aku sering menjadikan topik hangat mengenai TV sebagai bahan diskusi. Bukan diskusi intelektual, hanya saja bagian dari tugas bimbel bahasa inggris di kampung. Ketika itu, ada dua opsi, yaitu pro pendidikan anak melalui TV atau kontra dengan alasan membawa efek buruk bagi sosial perkembangan anak.

Bagi kubu pro, tak banyak argumen yang dapat digunakan selain mengambil sisi edukasi imaji yang menarik dan menyenangkan bagi anak. Tetapi bagi pihak kontra, daftar argumen yang dibikin untuk menyanggah berjibun jumlahnya. Adegan kekerasan, sandiwara, belajar nakal, mencuri-curi waktu, kecanduan, identitas palsu, pasivasi saraf pengindraan, hingga menurunkan waktu berinteraksi sosial dengan teman sebaya yang mengakibatkan rasa individualisme dipupuk sejak dini.

Dewasa ini, kondisi diperparah dengan munculnya industrialisasi stasiun televisi. Para provider sudah menanggalkan aspek edukasi melalui media elektronik, meski ada yang bertahan jumlahnya pun terlampau sedikit. Yang namanya industri, keuntungan kapital adalah tujuan utama. Yang penting laku di pasaran.

Kejar target rating tayangan demi menggaet lebih banyak sponsor dan iklan yang tentu menambah pundi-pundi keuntungan nantinya. Survei konsumsi hiburan yang paling diminati masyarakat era sekarang dilakukan sedemikian cermat. Sehingga yang dipertontonkan tak meleset sedikitpun dari kebutuhan.

Masyarakat yang secara turun temurun mewarisi budaya menonton TV hanya dapat terperangah mengikuti arus. Padahal, jika ditilik dengan seksama, mana ada pencerdasan di dalamnya. Yang diperlihatkan oleh TV saat ini adalah kebodohan, lawakan tak mendidik, sinetron minim nilai dan norma, acara musik yang mungkin sudah kehilangan jiwa nada, berita heboh dan sensasional, dan informasi yang telah bengkok oleh kepentingan.

Output dari pendidikan ala TV tidak jauh-jauh dari figur manusia dangkal secara pemahaman, menerima apapun yang menjadi mode artis dan tren, filter baik buruk yang sudah aus, dan bahkan samar akan benar dan salah.

Ironisnya, hal abstrak itu dapat menjajah manusia sebagai pemimpin minimal untuk dirinya sendiri. Bagaimana mengelak, kalau jadwal sehari-hari telah ditata oleh jam tayang TV. Pulang sekolah langsung ambil kursus tambahan, setelah itu rehat sejenak menonton TV saat-saat prime time yang biasanya tayangan terbaik yang ditampilkan. Kemudian menyelsaikan tugas-tugas, dan tidur lebih awal karena nanti malam mau nonton bola.

Seketika itu, manusia yang bangga akan kebodohan muncul di tengah jaman. Mereka berbicara ngalor ngidul tanpa mengerti esensi dan definisi subjek pembicaraan. Sibuk dengan desas desus, isu yang belum tentu benar adanya. Muncul masalah ketidakpekaan terhadap lingkungan sekitar. Lah selama menonton TV, hati tak pernah diasah secara praktikal. Emosi hanya dimainkan oleh alur sinetron yang bolak balik tiada habisnya.

Heran juga dibuatnya, kenapa permunculan tayangan pembodohan ini diterima dengan baik di Indonesia? Mbok ya mikir sedikit, ada manfaatnya nggak sih ini tayangan? Kalau toh dirasa sudah banyak membawa pengaruh buruk, kenapa tak ditinggalkan saja?

Aku sendiri Alhamdulillah telah lama meninggalkan TV semenjak kuliah. Selain keterbatasan akses, kebermanfaatan menonton TV kurang. Paling kalau lagi pulang kampung, menyempatkan nonton Natgeo yang aku rasa masih relevan sebagai ajang menimba ilmu.

Lantas, ketika sesuatu telah menunjukkan ketidakbermanfaatan, kenapa tidak ditinggalkan saja?

Semoga mencerahkan.

Advertisements

2 thoughts on “Produk Pendidikan ala TV, Bodoh kok Bangga?

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s