Waktu terus berlalu, aku pun perlahan berkembang

Rutinitas di kampus tetap mendominasi aktivitas sehari-hariku. Berangkat dengan seragam rapi, kemeja polos, celana kain, dan sepatu jaman sekolah. Bertemu dengan teman yang asyik ngobrol di plasa jurusan, dikatain pak dosen, pak guru, pak profesor karena dandanan klasikku yang jadul itu.

Ah, angin berhembus. Tak banyak aku perhatikan kata orang. Entah dalam wujud celaan atau bahkan pujian sekaligus. Toh aku tak pantas menyandang gelar-gelar itu hanya karena tampilan luar saja. Kita sama manusia dihadapan Allah. Sama-sama sedang menjalani ujian di dunia untuk persiapan hari perhitungan tiba. Menanti perjumpaan dengan Sang Ilahi. Karena pada dasarnya, dihati ini hanya ada Allah semata.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS [49] al-Hujurat: 13)

Kepekaan terhadap sesama semakin terasah. Mulai percaya diri untuk mengawali pembicaraan, sapaan, dan candaan ringan.

“Hi, kok sendirian?” sahutku pada seorang teman yang sedang serius dengan laptop di plasa jurusan malam tadi. “kamu temenin lah”, jawabnya singkat.

Aku membalas hanya dengan menggumam tak jelas. Aku belum mampu ke tahap meladeni lawan bicara yang menguasai medan karena dalamnya pengalaman. Aku terus belajar memahami manusia. Terutama kamu, dan senyumanmu itu. Kode yang selalu membuat gejolak dalam hati.

Mulai memahami maksud dari mimik muka, representasi dari gerik mata, dan kode gerak tubuh. Tak hanya menelan kata sebagai kata. Karena kata bisa saja salah, yang tak bisa ditipu hati. Tetapi siapa tau kedalaman hati seseorang.

Akhirnya semua menjadi relatif. Hanya Allah yang mutlak.

Aku terus mencari inspirasi. Membuka diri meneladani orang baik. Dan beberapa orang, melabeliku sebagai inspirator dalam hidupnya. Begitulah seterusnya, aku bergerak menjadi orang lain. Dan orang lain bergerak mengikutiku. Tak ada habisnya. Kadang aku heran juga, kenapa diriku dulu seperti itu? Alay, sombong, dan ambisius. Yang paling terasa ketika membaca tulisan sendiri jaman dahulu. Kenapa tulisanku seburuk itu? Bahkan aku merasa, tulisan itu bukan tulisanku. Gejolak ingin menghapus masa lalu yang suram dan mengambil pelajaran darinya terjadi.

Mulai peduli terhadap teman. Mulai jujur pada kata hati. Tanpa perlu malu dan menutup diri. Menahan hal yang ingin diungkapkan. Tak lagi bersembunyi dari maksud yang sebenarnya. Kalau ketemu teman yang memang terlihat rapi dan cantik kala itu,

”Kamu tambah hari kok tambah cantik”. Kata yang mencul dari hati dan diselimuti dengan apresiasi terhadap konsistensi menjaga anugrah tubuh dan wajah yang cantik, hasil pemberian Allah padanya.

Hingga dia pun malu-malu menjawab dan mengalihkan pada hal lain yang tetap dalam konteks respect satu dengan yang lain. Dan kami pun semakin dekat, hanya dengan basa-basi. Karena sejatinya manusia berhasrat untuk menceritakan kebahagiaan pada orang lain. Kebahagiaan dalam sendiri, sepi, dan senyap tak lebih dari khayalan dan halusinasi belaka.

Menawari mereka makanan yang kita punya. Berbagi dan saling membantu jika ada kesulitan. Tak lagi menghubungi ketika hanya membutuhkan.

”Aku duluan ya”, say good bye pada teman-teman ketika mau pulang dan meninggalkan mereka.

Dahulu aku sangat kaku ketika ditanya, ”Kamu kok hubungi kalau ada butuhnya”

Jawabanku dulu, ”Ya fungsi teman kan membantu kala teman butuh, ngapain tidak ada urusan basa basi tiada manfaat”

Dan perlahan prinsip idealis dan individualis luluh bersamaan dengan hati yang semakin lunak.

Meskipun beberapa orang iri dan hasut pada keikhlasan hati ini. Kita perlahan belajar murni dalam berbuat baik, namun orang lain membalasnya dengan tidak mengenakkan hati. Apa boleh buat? Berharap pada manusia tidak ada guna karena yang ada hanya kekecewaan. Berharap pada Allah lebih baik karena Dia pemberi janji yang pasti ditepati.

Prihatin dengan nasib saudara di pedalaman yang belum merasakan nikmatnya kemerdekaan. Diskriminasi, ketertinggalan, kesulitan, keterbelakangan, kemunduran psikis, tradisionalitas yang tertindas di perbatasan negeri. Mulai terenyuh dengan isu-isu sosial.

Semakin dalam mencari tau sesuatu, semakin kita tahu bahwa banyak yang belum kita ketahui.

Di kelas, aku perlahan menjadi diri sendiri. Aku tak lagi canggung bicara di depan kelas. Bahasa yang keluar mengalir begitu saja. Enak didengar pula. Tak terencana tetapi keluar dengan sendirinya. Presentasi dengan percaya diri. Penguasaan materi, dan terus berlatih menyampaikan ilmu.

Sejenak aku ingat pada sejarahku dulu. Kelam. Aku hampir tidak naik kelas gara-gara baca tulis ditingkat satu sekolah dasar dulu. Beranjak naik karena ketekunan belajar dan terus belajar dengan giat. Menimba ilmu dengan niatan mencari nilai. Kesalahannya terletak pada tujuan utama. Nilai, apapun aku lakukan untuk mendapatkan nilai terbaik. Dan terbukti terwujud dengan banyak prestasi yang hinggap satu persatu menjadi mahkota di kepalaku. Juara kelas, tetapi hasil curang, mencontek dan membuka catatan kecil.

Semakin dewasa, aku sadar kalau dunia ini bukan hanya ada hitam dan putih. Menang atau kalah. Lebih dari itu, abu-abu dan kesamar-samarannya membuat aku belajar. Menggali lebih dalam lagi. Merenungi hari-hari yang padat akan aktivitas dan kegiatan. Memikirkan kembali tujuan dan peralatan yang digunakan untuk menggapai tujuan. Menanyakan lagi, kenapa aku melakukan ini sekarang?

Menata ulang sebab dan tujuan dari suatu kebiasaan. Hingga akhirnya aku mulai mengerti dan paham bahwa puncak dan tonggak dari segala tujuan adalah menuju Allah. Tiada lain selain Allah. Menimba ilmu lillahi ta’ala. Tidur karena Allah. Sholat karena Allah. Berteman karena Allah. Kuliah, mandi, makan semua karena Allah.

Memahami bahwa aku kuliah bukan hanya untuk mencari ijasah. Bahkan bukan hanya untuk mencari ilmu. Tetapi mendekat pada Allah dengan jalan menaati perintah Allah.

Tanpa energi dari Allah, kita tidak ada.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s