Roda kehidupan berputar tanpa peduli penumpang yang ketinggalan

Kita hidup di belahan bumi tertentu. Hidup dengan teman, orang terdekat, orang yang lalu lalang di depan kita. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Kalau boleh dibilang, kehidupan di kota yang sempit ini ibarat organisme yang berkumpul sebagai populasi dalam komunitas sawah misalnya. Padi ditanam pak tani, sebagian dimakan oleh belalang dan tikus. Belalang dimakan katak. Tikus dimakan ular. Ular dan katak ada kalanya dimakan elang. Dan elang mati menjadi bangkai yang diurai oleh mikroorganisme yang sering disebut dekomposer. Dan zat anorganik dari dekomposisi itu dimanfaatkan oleh tetumbuhan untuk memutar kembali rantai kehidupan di sawah. Teratur dan tetata sebagai ketetapan Allah yang seimbang dan indah.

Begitulah setidaknya idealnya hidup manusia. Yang atas menolong yang bawah. Yang bawah membantu yang atas. Pemimpin mengayomi rakyatnya. Dosen menyalurkan ilmunya pada mahasiswa. Guru mengajar dan mendidik siswa. Pedagang menjual kebutuhan para pembeli di pasar. Karyawan pergi ke kantor dan pabrik. Pak tani mengurus tanah ladang.

Tapi nyatanya apa? Populasi manusia sekarang lebih dominan menjadi organisasi. Organ-organ yang memiliki kepentingan kelompok sendiri-sendiri. Ketika dipertemukan, yang ada hanyalah crush pendapat yang tak berujung. Kalaupun ada keputusan, hasilnya pun dipaksakan dan merugikan pihak yang lain. Sistem vote yang bukan berdasarkan musyawarah. Yang pengusaha bikin partai yang mengakomodir pengusaha. Yang petani bikin kelompok anti pengusaha. Begitulah kondisinya sekarang.

Tanpa kejauhan bicara tentang kondisi, kita sebagai salah satu dari komunitas manusia mau tak mau hanya terbatas bisa berkutat dengan kegiatan sehari-hari. Tidak bisa dalam satu waktu kita berada di tempat berbeda dan mengerjakan sesuatu yang berbeda pula.

Entah itu sebagai akibat keadaan atau memang niat dalam hati. Kita berfokus tinggi menyelsaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Berkosentrasi penuh untuk hasil yang maksimal. Efisien secara waktu. Dan efektif secara hasil.

Terkadang kita lupa bahwa di belahan dunia lain, roda kehidupan juga berputar. Di kota lain, kejadian-kejadian terjadi. Peristiwa mengiringi. Keramaian manusia dalam mencari penghidupan.

Tanpa kita sadari orang-orang yang kita kenal dulu telah berubah seiring dengan adaptasi mereka terhadap habitat baru yang mereka diami kini. Atmosfer yang berbeda telah mengubah pola pikir, tingkah laku, dan sikap mereka terhadap sesuatu.

Ada kala kita harus berpisah dengan orang yang kita cintai saat ini. Bertemu dengan orang baru, kenalan baru, cinta yang baru pula. Dan itu telah banyak menyelimuti hari-hari. Sehingga lupa dengan masa silam yang telah lama berlalu.

Tidak lagi menanyakan kabar teman lama. Lupa akan kenangan-kenangan. Dan entah itu dapat disebut putusnya tali silaturahmi, aku tak tahu.

Yang jelas, suatu pagi yang tak lain adalah pagi ini. Aku sedang terpukul. Aku yang mencoba bermanis-manis karena memang aku ingin bermesraan seperti dulu. Bukan ingin main main. Tetapi memang niat dalam hati ingin menjaga pertemanan. Aku mengirim sms singkat, ”Hi, apa kabar? Lagi di kampung ya?”

”Iya, sayang hanya sampai hari minggu saja”, jawabnya singkat

Aku ladeni dengan singkat pula. Dan dari pesan singkat itu, aku jadi tahu. Dia tak lagi ada effort untuk hubungan ini. Dulu sih aku berpikir positif, tentu gegara jarak yang jauh dan komunikasi yang terbatas.

Ah tapi betapa sakit hati kala membaca, ”Ya Allah, aku sangat mencintainya” dear someone that I can’t spell in here. Cukup menusuk. Dan aku yakin, inilah sebab kau tak lagi menghiraukan lagi.

Padahal dahulu, kau panggil aku dengan sebutan lain. Kau jelaskan dengan itu kau memperhatikanku dan memperlakukanku secara spesial. Panggilan itu tetap tersemat hingga pesan terakhir pagi ini. Tetapi apa? Disisi lain kamu menanamkan nama lain di hatimu. Sejak pertemuan di tempat kerja lapangan dulu.

Ah betapa kerdilnya diriku kala berhubungan dengan perasaan. Tak ada lagi kegagahan idealisme, prinsip, atau kehormatan yang dapat dipegang. Semua luluh lantak oleh permainan rasa yang fana.

Padahal teorinya jelas, hanya pada Allah lah layaknya kita berharap. Bukan pada manusia. Bukan memastikan masa depan dengan asumsi sendiri. Kita siapa? Apa kita yang mengatur skenario perputaran roda kehidupan di dunia ini?

In other hand, banyak hal yang telah terlewatkan. Teman yang berada di negeri antah beratah. Orang yang ku temui dijalan. Sahabat yang membantu kala aku membutuhkan. Semua tak dapat aku handle satu persatu. Mereka tetap pada hidup mereka. Dan aku pada duniaku di kampus.

Tetapi betapa apatisnya aku? Sampai tak mendengar kabar ayah dari sahabat dekatku meninggal. Kerasnya hati kala mendengar itu sebagai angin lalu. Kadang kita ketinggalan dengan apa yang menjadi penting bagi teman kita.

Ah, aku masih perlu banyak belajar dari momen-momen yang terjadi di dunia ini. Terutama dalam hal menempatkan diri dengan baik.

Selamat pagi

Advertisements

5 thoughts on “Roda kehidupan berputar tanpa peduli penumpang yang ketinggalan

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s