Pendakian Gunung Butak via Panderman (Part 1)

Bagian I

Gunung Butak merupakan gunung dengan ketinggian 2868 mdpl yang berada di perbatasan Malang dan Blitar. Gunung ini masih termasuk jajaran Pegunungan Putri. Disebut Gunung Putri karena jika dilihat dari kejauhan mirip dengan putri yang sedang tertidur. Gunung Butak sebagai wajah, Gunung Kawi sebagai payudara, dan Gunung Panderman sebagai kaki.

Jajaran Gunung Putri (Sumber Gambar)
Jajaran Gunung Putri (Sumber Gambar)

Untuk dapat bermesraan dan bercumbu dengan ‘wajah’ Sang Putri, ada dua opsi jalur pendakian yang umum digunakan pendaki gunung, yaitu: via Bukit Panderman dan via Sirah Kencong. Jalur yang lain kurang diminati karena fasilitas dan jalur yang kurang jelas via Kecamatan Dau dan Keraton Gunung Kawi. Jalur Dau biasa digunakan untuk penduduk lokal yang ingin mencari kayu. Sedangkan Gunung Kawi jamak dipakai untuk jalur ziarah.

Perkenalkan dulu tim pendakian Gunung Butak kali ini, kami adalah teman lama ketika sekolah menengah di Lumajang. Dia sekarang berdomisili sementara di Jogja untuk menimba ilmu di UGM. Kami berdua berangkat dari Surabaya setelah sempat sehari sebelumnya keliling kota. Kami berangkat pukul 6.30 pagi (22/10/2015) lepas dari Pasar Keputih menuju Kota Batu melalui jalur yang tak biasa. Kami meluncur ke Pandaan belok kanan dari Masjid Chengho naik menuju kaki gunung Arjuna-Welirang, Tretes. Sepeda motor naik turun terengah-engah setelah memasuki Trawas, Mojokerto. Megap-megap hingga tak kuat lagi naik akibat kelebihan muatan kami yang sudah mirip dengan keluarga yang sedang pindah rumah ini.

Menembus Taman Hutan Raya R. Soeryo, udara makin dingin. Jalan menciut dengan jurang terbuka di kanan jalan. Pemandangan indah Gunung Penanggungan yang kering pada bagian kepala menjadi suguhan sepanjang perjalanan. Namun, tetap harus hati-hati, jalan khas pegunungan yang meliak-liuk menantang.

Perlahan konjungsi antara Gunung Arjuna, Gunung Kembar I & II, dan Gunung Welirang mulai mencapai titik zenitnya. Pada waktu yang bersamaan gerhana kami terbentuk diantara Gunung Arjuno-Welirang yang gagah dan Pegunungan Anjasmara yang gersang.

Kali mengalirkan air yang bersumber dari belerang Gunung Welirang. Tak heran apabila di jalur ini terdapat banyak pemandian air hangat belerang yang baik untuk kesehatan. Pilihannya yaitu di Pacet (Mojokerto) atau di Cangar (Batu). Udara sejuk ditambah aroma sawah, ladang, dan kebun sayur-mayur menambah gaya gravitasi untuk mandi air hangat.

Bianglala warna-warni menyambut kedatangan kami di Alun-Alun Kota Batu. Kelembaban tinggi ditengah terik matahari, kami duduk diantara rimbun pepohonan. Kami berhenti sejenak sebelum beranjak mengikuti arah mata angin barat daya Kota Batu menuju Pos Pendakian Gunung Panderman. Disana lah kami akan memulai mengukir cerita bersama.

Sepeda kami parkir di depan gerbang Dukuh Toyomerto, Desa Pesanggrahan.

“Masuk terus, mas”, ujar penjaga parkir

“Pengurusan perijinan sekalian disini atau bagaimana, pak?” tanyaku

“Masih keatas, ikuti saja jalan ini. Kalau sudah ada mushola nanti belok ke kanan”, salah seorang bapak berkumis memberikan saran dengan ramah seolah kami telah pernah bertemu sebelumnya.

Kami masih harus jalan kaki agak keatas lagi untuk sampai di pos pendakian Gunung Panderman yang sekaligus dapat digunakan untuk mendaki Gunung Butak atau Kawi. Sesampainya di pos pendakian, kami mendapatkan pengarahan singkat dari penjaga pos mengenai peta dan jalur yang harus dilewati nantinya.

“Sekarang kita disini, nanti lewat sini. Nanti bakal lewat tempat sampah, ambil kanan. Kemudian lurus ambil kiri. Terus lurus ikuti jalan hingga ketemu hutan”, pak penjaga menjelaskan detil jalan sambil menujuk peta banner yang tertera pada dinding gubuk yang dijadikan pos perijinan itu.

Kami mengiyakan semua instruksinya dan tak lupa memotret peta tersebut.

Tepat pukul 12.00 siang, kami melangkahkan kaki untuk pertama kali menuju Gunung Butak. Sudah tak sabar rasanya. Let’s rock!

Berdasarkan riset di internet, perjalanan menuju Sendang yang merupakan padang savana dengan air yang melimpah cocok untuk mendirikan tenda akan memakan waktu 7-8 jam. Tetapi intuisiku bilang, “ini bakal menghabiskan waktu lebih lama lagi”. Secara, pendakian ini akan melewati tiga bukit panjang sekaligus. Dan puncak gunung yang ingin digapai berada pada ujung pegunungan. Sekitar 10 jam lah perkiraanku.

Jalanan awal masih landai berupa ladang milik warga yang banyak sekali percabangannya. Treknya berupa paving kemudian berganti dengan bebatuan dan disusul oleh tanah yang ketika musim kemarau seperti ini debu berterbangan bukan main pekatnya. Aku yang sangat suka dengan gaya lightpacking sangat kesulitan dengan medan seperti ini dan memaksaku untuk berpikir lebih dalam lagi untuk menghindari debu.

Kemudian jalan didominasi oleh semak belukar yang rapat dan lancip. Tetapi, sinar mentari siang bolong masih dapat menembus. Tak banyak pepohonan yang besar tinggi menjulang. Kami banyak berhenti dibalik pohon yang rindang, bercerita tentang hari-hari dan tentang perasaan yang berkecambuk dalam hati. Bercanda sampai lupa dengan masalah-masalah yang sedang melingkupi di kampus.

Baru berjalan beberapa jam, keluhan capek mulai terdengar. Semakin menjadi-jadi ketika tanjakan mulai tegak. Debu mulai tak kasih ampun. Daun pun kelihatan pucat tebal oleh debu yang melekat. Aku tak banyak bicara, hanya wejangan tentang batasan waktu tempuh, prinsip, dan kehormatan yang mampu keluar dari dalam jiwa.

Entah sudah pos berapa, kata orang sih pos 4, kami menggelar matras sejenak. Hari sudah sore. Matahari mulai tenggelam dari kedudukannya. Senja mulai digantikan oleh gelap malam. Senter dinyalakan tanda berlanjutnya perjalanan yang tak tahu pula akan berhenti hingga pukul berapa.

Cahaya lampu kota Batu, Malang, dan Pare kelap-kelip bertaburan dibawah. Titik-titik api yang semula ketika siang berupa kepulan asap, kini terlihat membara diberbagai sudut bukit. Punggungan bukit sebagai jalur yang kami lewati pun berkeliaran sisa kebakaran. Hati sempat was-was meskipun keyakinan melibas segalanya. Jalan terus!

Bersambung.. Bagian II

Advertisements

16 thoughts on “Pendakian Gunung Butak via Panderman (Part 1)

  1. gan.. ane tinggal di malang kota. rencana mau ke puncak butak.

    nah, kami kan newbie.
    jalur ke butak yang enak, lewat mana gan..?

    Mohon Jawabannya.. 🙂

  2. Mas good job banget buat jurnalnya kiw lengkap dan asik jadi gaboring bacanya. Btw mas ada id line atau whatsapp saya mau nanya2 masalah gunung buthak nih 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s