Pendakian Gunung Butak via Panderman (Part 2)

Bagian II

Delapan jam sudah kami berjalan. Bukit ini sudah mencapai puncaknya. Aku mengajukan hipotesa bahwa sendang pasti berada balik bukit, ketika puncak sudah digapai kita tinggal turun sedikit menuju savana. Tetapi semua hanya ilusi. Masih ada punggungan bukit sebelah kiri jalan yang harus didaki. Hadeh sial, jalan makin tidak jelas karena terimbas oleh puing-puing sisa kebakaran. Aku tak punya pilihan selain duduk menunggu pendaki lain yang lebih jago orientasi medan. Temanku bingung dan takut akan tersesat di hutan lebat ini.

Berjalan bersama empat rombongan pendaki lain dari Sidoarjo, kami merasa aman. Tetapi jalur memang tak jelas. Kakiku masuk ke dalam abu sisa kebakaran yang masih baru. Untung sudah tak membara lagi. Hanya hangat terasa. Sandalku tak dapat diselamatkan. Kini kakiku hanya dibungkus oleh kaus kaki dan sebuah sandal untuk kaki kanan saja.

Sepuluh jam, pendaki mulai berguguran. Sebanyak 16 orang pendaki gabungan dari Malang dan Sidoarjo memilih berkemah mencuri lahan jalur pendakian. Kami memilih melanjutkan perjalanan menuju savana.

“Kami lanjut dulu, mas”, salamku pada para pendaki yang sibuk mendirikan tenda. Tak mau aku tidur di area miring dan bergelombang seperti itu, pikirku dalam hati.

Entah berapa jam lagi harus berjalan. Yang aku harus lakukan adalah memompa semangat temanku. Rekor perjalanan jauhnya hanya 6 jam berjalan. Aku mengira akan melipat gandakan itu menjadi 12 jam pada pendakian kali ini.

Benar saja, kami sampai savana tepat pukul 00.00 tengah malam. Setelah terseok-seok mendaki bukit yang kian terjal. Melipir pada lereng bukit dengan jurang yang dalam dikanan. Meloncati batang pohon yang tumbang dengan hati-hati. Tanah yang dipijak kadang gembur yang rawan longsor. Semakin gelap dan sunyi. Detak jantung tak menentu.

Dan berrrr.. Angin kencang seakan mengajak tos dengan tanganku. Rumput kering bergoyang-goyang. Kabut menambah suasana ngeri dan mencekam malam itu. Harusnya kami bersuka cita, ini malam minggu. Malamnya anak muda. Tapi tidak untuk malam ini, dingin sudah menghapus segalanya. Segera mempersiapkan segala sesuatunya. Dan tidur.

Ah, embun dingin masuk melalui pori-pori kain parasut tenda, jaring-jaring, terpal, hingga menusuk masuk dari sela-sela sleeping bag. Kakiku hampir saja beku. Udara dingin sungguh menyiksa. Kami tak bisa tidur hingga tak sadar lagi bahwa hari sudah mulai berganti. Mentari yang kemarin meninggalkan kami, telah bersiap menampakkan diri lagi.

Savana puncak Butak-Kawi
Savana puncak Butak-Kawi

“Ayo kita kejar sunrise, fidh!” ajak temanku yang sudah keluar tenda untuk merasakan hangat bermandikan sinar matahari.

“Ah, aku tidur saja” ujarku. Aku paling tidak bisa memulai melangkah keluar. Dingin. Pakaian penahan dingin semua menjadi berembun. Paling enak ya tidur dibalik sweet dream-ku yang merupakan satu-satunya termal barrier yang aku punya sekarang.

Temanku terus memaksa dan sesekali merayu dengan keindahan di luar sana. Sayang aku tak tertarik. Dan pada akhirnya, aku kuatkan hatiku dan keluar sebagai orang gila. Bagian bawah SB aku buka untuk memudahkan kaki melangkah. Aku summit attack dengan SB masih ku kenakan.

Cukup 45 menit saja menuju Puncak Gunung Butak dari savana tempat kami camp. Pukul 5.00 pagi, mentari sudah tertanam di atas Pegunungan Bromo Tengger Semeru yang melayang-layang diatas awan. Kami masih harus berpacu dengan waktu untuk mendapatkan spot paling luas untuk mengambil gambar.

Dari puncak Gunung Butak dapat terlihat Gunung Arjuno-Welirang yang tergabung dengan Pegunungan Anjasmara dibagian utara. Bukit-bukit dengan hutan yang masih lebat di bagian selatan. Gunung Kelud di bagian barat daya. Dan Gunung Lawu yang dapat dilihat di bagian barat ketika langit sedang cerah.

Orang gila itu sedang berpikir
Orang gila itu sedang berpikir

Tak banyak yang kami lakukan dipuncak selain merenung dan mengambil gambar. Kemudian turun untuk bersiap diri mengisi perut yang mulai kosong. Memasak dibawah terik matahari yang langsung membakar kulit. Aku pikir, itu semua karena tenda kami berada ditengah padang sabana.

Menu pagi ini adalah nasi, sup, sosis, telur, dan minum nutrisari.

Beres-beres, sudah jam 10.00 siang. Kami mulai melangkah turun. Target sampai di pos pendakian sebelum petang. Akhirnya tercapai. Kami turun alhamdulillah tanpa hambatan berarti pukul 15.00 sore. Meskipun selama perjalanan kami sempat dikepung oleh api. Kakiku juga mulai melepuh akibat panas tanah yang disebabkan oleh sinar matahari dan asap hutan yang menguning membakar segalanya.

Aku tak mengambil gambar satu pun pada pendakian kali ini. Tujuanku mendaki kali ini adalah menggali ilmu sedalam mungkin dan lebih mengenal teman perjalananku. Salah satu ilmu yang paling mengena adalah tentang pola-pola di alam. Ketika kita menelaah dengan baik pola yang berulang yang ditampilkan oleh alam, maka kita selangkah lebih dekat dengan alam dan kita bisa bersahabat dengannya. Artinya kita akan bijak dalam memanfaatkan alam tanpa menyebabkan kerusakan. Ilmu ini muncul ketika angin meniupkan debu dan ketika angin meniupkan api.

Dan untukmu:

Kelak di waktu yang tepat, di ranah yang berbeda pula, aku sudah tak khawatir lagi untuk mengajakmu ikut dalam long journey-ku menjelajah negeri antah beratah yang katanya Zambrud Katulistiwa ini. Kamu sudah tangguh dan kuat menjalani perjalanan berat suatu saat nanti. Aku sudah melihatnya sejak selesai pendakian Gunung Butak ini. See you next!

Selamat sore,

Baca bagian I disini.

Advertisements

3 thoughts on “Pendakian Gunung Butak via Panderman (Part 2)

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s