Keliling Surabaya dan Kisah Kasih Sayang Ibu Tiada Tara

Sore tadi (29/10/2015), aku keliling kota Surabaya. Aku sedang survei tempat isi ulang tabung oksigen ukuran 6 m3 untuk keperluan penelitan tugas akhir. Berdasarkan informasi dari Internet, depo isi ulang gas paling dekat berada di daerah Jembatan Suramadu, sekitar 4 Km dari kampusku.

Aku meluncur dari jurusan pukul 2 siang. Matahari masih benderang di Surabaya meskipun sudah agak condong ke barat. Dan apesnya, perjalananku menuju arah barat. Silau di mata.

Hari-hari ini cuaca makin panas, lebih ekstrim dari biasanya. Bahkan ada yang bilang, ”Hidup di Surabaya tak perlu bayar mahal hanya untuk mandi sauna, tiap hari pun bisa”. Sebelum berangkat, aku sempatkan mengambil jaket, sarung tangan, dan masker di kosan untuk perlindungan prima di jalan nanti. Aku paham betul betapa menjenuhkan dan melelahkan berkendara diantara ruas jalan sempit, padat kendaraan, bersinggungan dengan polusi asap kendaraan, plus udara yang panas.

Aku sebenarnya kurang fit hari ini karena kemarin malam aku lembur memotong baja seukuran meja dengan gergaji tangan. Aku berkendara menuju Laguna untuk kemudian melaju ke Kenjeran dengan lesu. Dan belok kekiri mengikuti jalan Kenjeran. Aku sedang berburu toko dengan nomor 187. Sayang, jalan ini begitu panjang dimana pertigaan menuju Ken-Park adalah ujung dengan nomor 600 sekian. Ah berarti aku harus menyusuri double way bersama truk besar besar pengangkut barang dan sepeda motor yang ramai lalu lalang tak beraturan.

Aku tarik gas perlahan dengan gontai. Setiap ada lampu merah pemberhentian, aku regangkan otot yang kaku dan tertunduk lemas. Dan saking tak berkosentrasinya aku telah melewati jalan menuju Suramadu dan telah jauh melampaui nomor 150. Sial. Aku harus mencari putar balik yang jaraknya nggak dekat.

Akhirnya setelah mencermati dengan baik nomor di kiri jalan, aku menemukan toko yang sesuai dengan keinginanku yaitu pengisian gas acetylene, gas oksigen, dan gas LPG. Aku langsung menyerobot masuk dan menanyakan detil prosedur pemesanan gas. Setelah dirasa puas, aku keluar dan mencari referensi lain yang lebih dekat.

Aku beranjak ke daerah Darmawangsa, dekat dengan kampus B Unair. Lurus hingga perempatan Ngagel dan aku akhirnya telalu jauh. Jalan Dharmawangsa sudah tergantikan oleh jalan Pucang anom dengan nomor muda. Ah putar balik lagi dan akhirnya ketemu setelah harus putar balik untuk entah yang kesekian kali.

Namun, disana tak mendapati isi ulang tabung besar, hanya melayani yang kecil saja. Wajar, karena memang klinik ini menyediakan tabung oksigen untuk pasien sakit, bukan untuk industri seperti yang aku harapkan. Aku memutuskan esok hari beli gas di dekat Suramadu saja.

Aku melangkah keluar ruangan medika menuju Menur Pumpungan dan belok kekiri menuju Jalan Arif Rahman Hakim yang sudah semakin sesak oleh kendaraan. Jalan inilah yang akan tembus hingga ujung timur Surabaya menuju Kampus ITS.

Di pertengahan jalan, aku mendapati kejadian yang mengharukan. Seperti yang aku tulis sebagai judul tulisan ini. Di dekat kampus Stesia tepatnya di depan apartemen yang baru dibangun saban hari. Ada seorang karyawan keluar dari apartemen mengendarai motor dengan kencang. Dari arah timur, seorang anak kecil diboceng didepan oleh kedua orang tua yang juga mengendarai motor.

Bruakkk.. kedua sepeda motor saling bertabrakan dengan keras. Kedua pengendara motor dan penumpangnya jatuh, tak terkecuali anak kecil tadi. Si anak kecil yang masih berumur 4 tahun menangis tatkala ia jatuh dan membentur aspal. Orang tua pun panik, terutama sang Ibu. Tanpa memperdulikan kondisi kakinya yang terjepit tindihan sepeda motor, sang ibu menjerit keras, ”Astaghfirullah, anakku..”. Berulang-ulang demikian hingga membahana menghentikan momen beberapa detik pengendara di sekeliling, termasuk mataku yang tak bergerak terbelalak dengan kejadian itu.

Mulianya, kasih sayang ibu (Sumber gambar)
Mulianya, kasih sayang ibu (Sumber gambar)

Dengan kondisi kendaraan yang terus bergerak, dalam hatiku terpendam kata, ”mungkin begitulah perasaan orang tua terhadap anaknya”. Sampai terhadap kondisinya sendiri pun ia tak peduli. Yang penting anaknya selamat. Begitu sayang ibu terhadap kita hingga pengorbanan sebesar apapun akan dilakukan demi anak bahagia.

Nah lantas bagaimana kita membalas semua kebaikan orang tua kita sekarang?

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Advertisements

2 thoughts on “Keliling Surabaya dan Kisah Kasih Sayang Ibu Tiada Tara

  1. Cinta ibu kepada anaknya memang luar biasa. Begitu pula saat melahirkan, konon ini sakitnya amat sangat. Tapi, seorang ibu langsung cerah bahagia kala anaknya lahir dengan selamat. Cinta yang mengagumkan demikian terus tumbuh dan berkembang seiring dengan tumbuh kembangnya sang anak tercinta.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s