Meluangkan Waktu untuk Orang Lain

Beberapa hari ini aku menyibukkan diri dalam pengerjaan penelitian tugas akhir yang sempat terbengkalai. Aku menjadwalkan dengan sistematis dan mengeksekusinya dengan rapi. Semua demi kelancaran tugas besar akhir perkuliahan dan kelulusan.

Selain itu, aku juga sedang bekerja keras menata kegiatan dan aktivitas sehari-hari. Memulai kebiasaan baru bangun pagi lebih dini. Membuat ritual-ritual penyegaran hati dan pikiran di sepertiga malam terakhir. Menghirup udara dingin kaya oksigen sebelum mata hari terbit. Mengendarai motor buntut membeli minuman segar dan menyongsong panggilan Ilahi. Olah raga ringan menyambut hangat sinar mentari. Sarapan dengan menu yang sehat dan mandi untuk kemudian menyongsong hari dengan kegiatan yang positif lain.

Aku suka pola yang teratur. Sebisa mungkin makan dengan tepat waktu. Kegiatan tersebut telah tereralisasi dalam waktu seminggu terakhir ini. Dan semoga tetap istiqomah.

Jadi, aku penuh oleh kegiatan positif setiap hari. Aku melakukannya dengan cucuran keringat yang tak bisa dianggap enteng. Semua butuh pengorbanan dan aku puas dengan pencapaian kinerja yang super cepat akhir akhir ini.

Tapi, disaat cita-cita hidup teratur hampir tercapai, aku mulai meragukan tujuan akhir itu. Apakah iya aku harus puas dengan pencapaian sendiri yang tinggi tanpa teman? Kadang aku merasa sepi ketika belajar materi tentang termodinamika dan fenomena transport sendirian ketika teman-teman sedang sibuk duel otak atau memperluas pertahanan klan mereka atau bahkan tertawa terbahak-bahak menonton lelucon di youtube. Aku tak punya teman diskusi yang mau diajak serius. Semua bilang, ”ayo kita lucu”. Konyol sudah jaman ini.

Disaat ada kesulitan dalam memahami teori-teori gila ilmu proses untuk keperluan desain alat penelitianku, aku tak punya teman untuk konsultasi. Tanya pada dosen tak menemui jawaban karena bukan basis beliau ilmu proses. Bertemu dengan orang proses di jurusan, sedikit hal yang bisa membuka pori-pori ide cemerlang. Inginkan kepastian tentang laju aliran, sistem volume terkontrol, dan savety kepada mahasiswa teknik kimia, sama saja. Malah dialihkan pada dosen senior disana. Apakah tingkatanku sudah dalam tingkatan dosen senior itu hingga aku harus bicara dengan beliau. Besok (30/10/2015) adalah penentuan jawabannya.

Sudah banyak waktu yang aku habiskan untuk melejitkan kedalaman ilmuku sendiri. Di kamar, aku rangkum semua materi-materi. Aku terjemahkan buku berbahasa asing. Aku tulis beberapa di blog yang kemudian ramai dibaca pelajar setiap harinya. Semua sendiri, dan akhirnya aku terasing oleh bayang-bayang ilmuku sendiri.

Saling tolong menolong dalam kebaikan (Sumber Gambar)
Saling tolong menolong dalam kebaikan (Sumber Gambar)

Dalam kebimbangan, aku mencoba meluruh dalam suasana riuh ramai mainstream orang. Belajar membuka diri terhadap orang lain. Menemani orang lain kala membutuhkan bantuan. Ada ajakan ke kampus sebelah untuk pengujian material, aku jawab, ”Oke, ayo!” Besok ada briefing, agenda membantu pengujian sampel tugas akhir teman satu kos dari jurusan lain, berbagi ilmu bahan dengan anak FKG, hingga mempersiapkan praktek Co-As bagi dokter gigi kampus sebelah di jurusan.

Dan berusaha tidak membebankan semua pekerjaan pada diri sendiri. Melainkan tanggungan bersama, lebih ringan dan lebih merata. Aku mulai menanam bibit-bibit di berbagai belahan nusantara dan kelak akan meledak bersama sebagai generasi emas bangsa. Aku sadar nggak akan bisa maju tanpa dukungan dari orang lain.

Sebisa mungkin aku menerapkan jiplakan dari prinsip yang dipegang Naruto dalam film anime Jepang yang inspiratif itu. Naruto yang digambarkan oleh penulis komiknya sebagai ninja yang dalam hatinya ada teman-teman yang harus dilindungi. Menilik dari itu, aku menambahkan konsep dimana ”minimal peduli dan kita pancarkan nikmat dari Tuhan yang kita nikmati kepada sesama manusia melalui agenda berbagi untuk menebar manfaat”.

Dan tolong menolong lah kita dalam kebaikan, sesuai dengan perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an,

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”  (QS. Al-Maaidah: 2)

So, seberapapun kita sibuk dengan aktivitas penting keseharian, luangkan waktu walau hanya menyapa sesama manusia dan mengamati kondisi kekiniannya. Karena kita tak bisa hidup tanpa orang lain. Lupakan individualisme dan egoisme dalam hidup di dunia yang berkoloni-koloni manusia ini.

Selamat malam,

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s