Sudah Adilkah Aku Sedari Pikiran?

Kata ”Sudah adilkah kita sedari pikiran” tentu sudah tidak asing bagi kita orang Indonesia. Frasa kata tersebut diperas dari saripati pemikiran seorang tokoh sastra terkenal di era awal dan peralihan Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Pramoedya Ananta Toer, yang pernah menjadi nominasi nobel sastra yang karyanya tak diragukan lagi. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa yang berbeda.

Beliau menyampaikan dalam novel roman khas era perjuangan pra-kemerdekaan berjudul Bumi Manusia, ”Sebagai orang terpelajar harus adil sejak dari pikiran”. Sepintas kata itu telah menusuk menghunus sanu bari kita sebagai pelajar setidaknya. Sudah adilkah tindakan kita? Dan bahkan ditambah dengan sedari pikiran?

Ah setiap aku melakukan sesuatu kadang kata tersebut menghantuiku dengan kejam. Dia bahkan menyayat hati kala perbuatan sudah melenceng dari kodrat. Contohnya, ketika mau buang bungkus permen sembarangan, tiba-tiba mantra maut itu datang dan menuduhku sebagai perusak bumi, tak mencerminkan mahasiswa, dan bahkan islam kah tindakan ini. Sehingga tak sampai semenit merenung, bungkus permen itu kembali ke saku celanaku.

Aku beruntung pernah menghatamkan karya klasik yang fenomenal itu. Disana sarat akan ilmu kehidupan yang tak diajarkan di sekolah. Tentang etika dan tata krama. Memantik jiwa murni sebagai manusia, sebagai pelajar, dan sebagai hamba tuhan.

Dan banyak hal buruk lain yang kemudian diurungkan oleh kata-kata mujarab itu. Seperti menipu orang, mengingkari janji, membohongi diri sendiri, dan perbuatan kerusakan lain. Semua tak jadi terlaksana berkat bayang-bayang itu yang terus mengejar mendorongku kearah yang lebih baik.

Terima kasih, Mbah Pram, ketika kamu menulis kamu tidak akan hilang ditelan masa.

Tak dapat disangkal memang representasi dari pikiran adalah perbuatan. Kalau dalam pikiran kita sudah adil maka perbuatan kita akan condong pada keadilan pula. Implikasinya, semua aspek dalam kehidupan harus lah adil.

Tapi sebenarnya adil itu apa?

Bicara soal adil, kita langsung dapat terbesit tentang konsep menempatkan sesuatu sesuai dengan porsi dan haknya tanpa kekurangan dan berlebihan. Seimbang dan tak berat sebelah.

Adil biasanya langsung tersemat pada orang yang mendapatkan amanah menjadi pemimpin. “Jangan menjadi pemimpin yang dzalim!”, kata tersebut tentu tak asing ditelinga kita. Selain itu, adil juga sering dikaitkan dengan hakim sebagai pemutus ketetapan sebuah masalah perselisihan.

Terminologi adil tak hanya sebatas pada pemimpin atau hakim saja tetapi juga dapat diterapkan pada berbagai aspek kehidupan. Adil dalam berbicara, adil dalam timbangan perdagangan, adil dalam menetapkan hukum, memberikan hak orang lain, menjadi saksi, berada dalam kondisi pertikaian, dan dalam memberikan balasan.

Adil dalam islam telah jelas dalam Al-Qur’an,

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah: 8)

Selamat malam,

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s