Hujan Deras Pertama untuk Surabaya Timur

Pagi ini (19/11/2015, 4:37 AM), Surabaya daerah timur diguyur hujan deras untuk kali pertama. Air berkubik kubik turun dari langit sebagai butir-butir yang berjumlah jutaan atau bahkan lebih. Air yang dingin itu dihempas oleh angin-angin.

Ilustrasi hujan yang disambut indah oleh bunga-bunga (sumber gambar)
Ilustrasi hujan yang disambut indah oleh bunga-bunga (sumber gambar)

Alhamdulillah.

Aku senang hujan. Mungkin kamu juga begitu. Tanah, tanaman, dan hewan pun demikian. Kami menyambut nikmat, karunia, dan anugrah kecukupan untuk hidup dari Sang Pencipta. Semoga rizki yang barokah tercurahkan bersamaan dengan cucuran air hujan ini.

Tanah dan tanaman menjadi basah. Warnanya makin tajam dan terhapus darinya debu-debu yang pucat. Segar wangi dedaunan yang khas. Akar menyerap mengisi kantong-kantong airnya. Sumur-sumur yang mengering mulai terisi. Sawah dibanjiri air yang berlimpah. Petani sibuk dengan tanam menanam. Semua menandakan terbukanya tabir musim yang baru. Penghujan telah tiba.

Air hujan adalah limpahan rahmat tuhan yang tiada tara. Dia menyiram bumi tanpa pandang bulu dan merata.

Aku tak sabar ingin keluar, mengamati setiap perubahan. Tetapi untuk saat ini, aku hanya bisa mengintip dari bilik kamar kos. Dari balik jendela putar yang sudah aku copot satu kacanya untuk memperlebar ruang ventilasinya. Yang terlihat hanyalah keping air yang menetes diantara lekuk-lekuk jemuran teman yang tak diangkat. Jarak pandang memang tak luas karena tertutup atap dan pondasi rumah-rumah. Tetapi dari sinilah, aku biasanya menikmati sunrise yang selalu bikin rindu itu.

Suara hujan sekarang ini masih berderu menggetarkan seng atap kamar kosku. Gemuruh guntur juga tak kalah menggelorakan. Saling bersahutan. Aku agak takut karena masih gelap sedangkan petir saling balap dengan suara yang menggelegar. Aku ingin mendeskribsikan dengan pas, tetapi tak punya kata yang cukup untuk itu. Jadi, aku harap kalian mengerti.

Yang jelas pagi ini aku bahagia. Semoga semua penghuni Surabaya juga demikian. Dikala sebelumnya telah mendapati ujian berupa terik matahari yang membakar kulit. Posisi matahari ketika siang tepat diatas ubun-ubun. Bikin pecah kepala kalau lagi berkendara siang bolong, macet pula. Pun udaranya begitu panas. Sekarang sudah mulai berangsur hilang.

Meskipun tadi malam masih panas sekali kondisinya. Kipas angin hanya sarana yang tak banyak membantu kala udara yang dialirkan pun panas. Keringat bercucuran, aku terbangun karenanya. Lebih awal dari biasanya. Sengaja memang.

Pagi buta sekitar jam setengah 3, aku langsung mandi. Tak kuat dengan hawa dan cuaca dengan temperatur lebih dari 30oC ini. Padahal, aku ingat baru tadi malam gerimis. Malamnya sudah cerah dan panas lagi. Awan yang kekuningan oleh sorot lampu jalan mulai terurai. Telah berlubang menampilkan bintang-bintang gemerlap dengan background gelap kebiruan.

Aku pikir rintik hujan tadi pagi yang bikin suara “kretek.. kreteekk..” pada seng atap kos juga akan berakhir sama dengan gerimis-gerimis yang sebelumnya. Sedikit sekali dan sebentar. Aku pun memberanikan keluar kosan membawa motor. Dan memang benar, awan gelap pembawa hujan itu sudah tiada.

Dingin pagi ini cukup mampu menguapkan keringat yang mulai merembes melalui pori kulit punggung. Padahal baru tadi mandi. Berada di dalam kamar sebentar rasanya seperti di-oven.

Temen bilang sih, ”Sauna gratis, lumayan”.

”Lumayan, gundulmu”, aku bilang.

Sehari di musim paling panas Surabaya bisa menghabiskan air separuh bak mandi ukuran 60 x 60 x 60 cm3 hanya untuk keperluan mendinginkan badan (mandi maksudnya). Sehari bisa tiga kali atau bahkan lebih. Padahal biasanya ya cukup sekali atau bahkan nggak mandi. Hihihi.

Kemudian ketika aku sudah balik lagi ke kos, baru saja duduk langsung terdengar nyanyian khas hujan yang mengenai struktur bangunan cor. Itu adalah guyuran hujan deras yang aku ceritakan diatas.

Ah, memang sekarang hujan dan kemarau sulit ditebak. Tak seperti dahulu lagi. Ramalan orang desa sudah tak kredibel lagi diterapkan. Mulai ditinggalkan dan dianggap kuno di era yang serba tak tentu ini.

Tetapi bagaimana pun kondisinya, tak ada hal yang tak patut disyukuri. Sekali lagi, aku senang.

Selamat pagi,

Advertisements

18 thoughts on “Hujan Deras Pertama untuk Surabaya Timur

    1. Alhamdulillah, kudu mulai adaptasi nih. Misal mau keluar siap2 payung atau jas hujan. Bandung kota yg berbukit2 sih, pasti hujan dan udah mendung sehari2. Di surabaya ini deket pantai. Anginnya gede, kalo siang cerah banget, sore ntar bisa ujan.

      1. Kamu ndak hujan”an pas itu? Wkwk. oh iya, kan pas lagi banyak petir yak .. haha .. kalo disini, tiap ada hujan, aku pasti keluar wkwk

      2. Wkwkkk .. 😀 😀 😀 Suasana pagi pas hujan itu sangat mendamaikan (membayangkan saja sudah damai rasanya)

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s