Memastikan masa depan

Jangan menyangka diri ini ada. Jangan memastikan masa depan atas pertimbangan usaha-usaha yang telah dilakukan, doa-doa yang telah dipanjatkan. Menerka dan memprediksi masa yang belum tentu jelas jluntrungan-nya dengan menimbun harta, menimba ilmu sedalam-dalamnya, asuransi-asuransi, bekerja tiada henti sampai lupa siapa sebenarnya diri ini.

Ilustrasi tentang harapan dan angan tentang masa depan (sumber gambar)
Ilustrasi tentang harapan dan angan tentang masa depan (sumber)

Cari uang terus sampai lupa arti kerja keras. Padahal yang nikmat bukanlah uang itu tetapi proses mendapatkannya. Kerja keras, bertemu dengan rekan kerja, berpetualang dalam dunia team working, dan hal-hal baru yang menuntut kreativitas dalam memecahkannya. Jalani saja dengan penuh tanggung jawab.

Diri hanya sebuah peran, khalifah di bumi. Hanya itu, tugasnya mengusahakan terpeliharanya keseimbangan di bumi.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Semua adalah ciptaan Allah. Jangan khawatir masa depan. Semua telah dicukupi oleh Allah. Allah menugaskan kita mengelola dan mengolah apapun yang ada di bumi dengan arif, tentu tak akan membiarkan hambanya tanpa sangu apapun. Rizki selalu terlimpah. Tinggal kita mau menyadari limpahan rizki itu atau tidak. Mau bersyukur atau tidak. Begitu.

Janganlah menyangka semua itu adalah hasil usaha yang kita perjuangan. Itulah biang dari kegundahan dan kekhawatiran akan masa yang akan datang tidak bisa makan, tidak bisa berobat, tidak bisa hidup tenang, tak punya rumah, tak bisa berkeluarga, tak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Kita malah terbebani dengan bayang-bayang itu. Padahal kematian siapa yang tau. Belum sampai berkeluarga, sudah mati. Belum menikmati bangku kuliah mati.

Yakinlah bahwa takdir masa depan telah tertulis di lauh mahfudz. Allah telah menggariskan sesuatu yang baik. Maka yang harus kita lakukan adalah berprasangka yang baik dan melakukan kebaikan terus menerus. Jangan lihat hasilnya. Bisa sedih nanti karena kita bandingkan kerja keras dengan hasil terkadang tak selaras.

Nggak berat, kan? Karena Allah telah memberi rizki yang berlimpah dan kepastian takdir-Nya tak tak dapat diganggu gugat oleh manusia. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah otoritas dari Sang Pencipta.

Nasihat untuk diri dan semua manusia.

Semoga bermanfaat.

[Habis]

Advertisements

5 thoughts on “Memastikan masa depan

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s