Materi duniawi dan bagaimana cara meng-handle-nya

Lanjutan renungan makna yang lebih dalam

Pada tulisan sebelumnya telah dijabarkan dengan detail tentang kedudukan kebutuhan dan keinginan. Sekarang, aku akan mengulas lebih jauh lagi dan mengkorelasikan dengan pemaknaan terhadap materi duniawi.

Ilustrasi material duniawi (sumber)
Ilustrasi material duniawi (sumber)

Kebutuhan identik dengan cara pandang terhadap fungsi. Misalnya memandang mobil sebagai alat transportasi yang dapat menghindarkan dari hujan dan panas perjalanan. Memandang pakaian sebagai alat menutupi diri, melindungi dari hawa lingkungan yang dingin ketika malam. Memandang rumah sebagai tempat berteduh, membatasi diri dari ancaman eksternal, tempat istirahat, dan berkumpul dengan keluarga.

Sedangkan keinginan terkait dengan ketertarikan terhadap casing atau polesan permukaan. Keinginan seseorang dapat utak atik dengan memodifikasi citra terhadap sesuatu. Itulah yang bikin bisnis lifestyle langgeng hingga kini. Banyak orang tergiur dengan fasilitas-fasilitas yang kurang lebih sama fungsinya dengan yang ia punya. Tetapi berkat adonan dari sang inovator, jadilah barang yang elegan diminati banyak orang. Contoh, munculnya kreasi baru seperti messenger, facebook, twitter, whatsapp, line, path, bbm yang dapat dikatakan mirip dengan fasilitas sms jaman dulu. Intinya bertukar pesan dengan orang lain, bukan?

Masih ingat dulu ketika orang berbondong-bondong beli smartphone blackberry karena fasilitas bbmnya. Terkesan eksklusif dan menggunakan kuota internet yang lebih kekinian.

Begitu pula yang lain, kamera fungsinya untuk membekukan momen dalam bingkai pigura. Kalau bukan untuk keperluan profesional, buat apa fitur kamera yang super canggih? Nanti toh nggak kepake lantaran tak bisa menggunakan dengan optimal. Mubadzir toh?

Fungsi atau kebutuhan vs pencitraan atau keinginan

Karena fungsi adalah makna yang sudah sangat mendasar dan tidak dapat diubah oleh subjektivitas. Dia murni dan objektif. Maka dengan akal yang bersih akan mendapat kebutuhan yang pas untuk diri.

Sedangkan orang yang hanya melihat casing maka dapat dimanipulasi dan dipoles dengan pencitraan yang menggiurkan dan menarik keinginan untuk memiliki. Mudah sekali dibolak-balik dengan meletupkan tren di tengah masyarakat yang sudah didesain untuk bermental konsumtif.

Jadi sudahlah kawan. Jangan tergiur oleh permainan tipu daya materialistis. Dunia jika terus diikuti nggak bakal ada habisnya. Mobil mewah dengan fasilitas wah toh intinya tetap untuk alat trasportasi. Apapun itu jika dapat memobilisasimu dari poin a ke poin b maka sudah cukup.

Pemaknan terhadap materi

Tentang kepemilikan rumah besar nan mewah. Toh yang dipakai untuk tidur Cuma seukuran badan. Mau menumpuk barang-barang koleksi? Mati nggak dibawa aja ngapain dipusingkan. Takut masa depan anak suram? Sekali-kali ajari mereka untuk mengetahui sulitnya cari uang dan pedihnya bekerja keras.

Sudah lah, jika telah terpenuhi fungsinya sebagai pelindung dari lingkungan siang dan malam, istirahat dengan tenang, memberi ruang kehidupan yang nyaman, itu sudah cukup. Apalagi ditambah dengan kehangatan keluarga di dalamnya plus kesegaran lantunan ayat Al-Qur’an yang menghiasi sela-sela rumah.

Pakaian yang seambrek. Belanja di mall dengan budget yang tak murah juga. Ditenteng di rumah. Kemudian numpuk tidak terpakai di lemari kamar. Toh juga yang dipakai dipakai pakaian ya Cuma satu sekali waktu.

Mungkin juga lebih ekstrim lagi makan bukan yang disuka. Makan hanya ketika lapar, bukan ketika ingin makan. Kedua term tersebut bisa jadi indikator seseorang yang telah mampu presisi dalam menahan dan mengendalikan diri.

Suka sama kare ayam, ditahan. Ingat ketika darah tinggi kumat. Suka sama sate, menolak memakannya. Ingat stroke kambuh. Suka sama teh anget manis, lupakan saja, diabet bisa jadi menyerang.

Karena membuang nafsu tidak mungkin, maka jalan yang keren adalah yang mampu mengendalikannya.

Berani

Berani melakukan yang tak disuka dan menahan yang ia suka. Sebagai awalan itu sangat baik. Contoh yang riil, ketika masih kecil, siapa yang hobbinya ngaji di pesantren? Siapa yang hobbinya belajar di sekolah? Siapa yang hobbinya sholat? Ketika sekolah dasar dulu, jarang-jarang ada yang hobbinya demikian. Semua seragam menjawab suka bermain. Tetapi ketika sedikit dipaksakan, ditahan meski dalam ketidaksukaan dan kepedihan. Ketika telah terbiasa, maka manis dari pekerjaan itu mulai dapat terasa. Sampai ke tahap ini, buah cinta telah dapat dipanen.

Yuk membiasakan hal yang baik sedari dini. Ditahan sedikit meskipun berat, lama kelamaan madu lah yang akan terasa.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

6 thoughts on “Materi duniawi dan bagaimana cara meng-handle-nya

  1. Klo bicara soal angka memang tiada habisnya, nafsu keinginan juga tak terhingga..itulah manusia..yg penting kudu pandai pandai bersyukur saja 🙂

  2. Kalo bicara materi duniawi gak akan ada habisnya, tiap hari pasti ada aja teknologi baru, harus pintar-pintar menahan diri. kecuali kalo anak konglomerat ya, tinggal tunjuk bayar selesai 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s