Jalan-Jalan ke Perpustakaan Umum Kota Surabaya

Siang bolong, aku baru bangun. Sekitar pukul 1, baru bisa cabut dari kos. Berhubung tak ada pekerjaan yang harus dilakukan di kampus, aku berinisiatif untuk pergi ke perpustakaan kota.

Beberapa hari yang lalu, aku kontak teman angkatan yang berdomisili Surabaya. Aku tanya, ”Perpus yang banyak koleksi sejarah Kota Surabaya dimana ya?”

Tak langsung dijawab. Cuma di-read doang. Tak lama kemudian, hp berbunyi tanda pesan masuk. ”Hah, kok nyari buku sejarah?”

Dia kaget rupanya. Waktu itu mahasiswa lain pada genting mengerjakan Bab 4 Laporan Tugas Akhir, eh tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan anak pendiam macam aku begini nyeletuk tentang sejarah. Surabaya lagi.

”Iseng aja, mengisi kejenuhan dan kebuntuan penulisan laporan”, jawabku datar.

Sebenarnya motivasi baca buku sejarah kota yang udah aku tinggali selama beberapa tahun ini adalah untuk meninggalkan kesan yang mendalam. Iya dong, merantau disini kalau hanya tau dimana A dan dimana B mah mudah saja. Lihat google map, gas motor, sampai lah tempat tujuan. Itu dia Tugu Pahlawan, itu dia tempat Bu Risma kerja, itu dia Jembatan Merah. Sebatas itu saja. Tanpa tau cerita yang melatar belakangi landmark tersebut kan kurang afdol rasanya.

Ini wajahnya dari depan (sumber gambar)
Ini wajahnya dari depan (sumber gambar)

Jadilah tadi berangkat sesuai dengan saran temanku, yaitu Perpustakaan Umum Kota Surabaya. Belok kanan kiri, nyari makan dulu di daerah Menur Pumpungan. Sekalian aja jajan makanan khas Surabaya, lontong balap. Biar lebih kenal dan lebih berasa pertemananku sama Surabaya.

Di depan RSJ Menur biasanya aku beli lontong balap. Sayang setelah putar-putar 4 kali untuk nyari lahan parkir sembarangan tapi tak ketemu, karena malas bayar parkir, aku urungkan niat. Jalan lurus menuju Karangmenjangan, belok kiri ke Unair B, kekanan kemudian ke kiri ikuti jalan Dr. Maestopo terus ke Jalan Pemuda. Sempet tengok kanan kiri ada yang jualan lontong balap nggak ya? Perut kosongan nih, belum sarapan sedari pagi.

Sialnya motorku keburu aja masuk ke halaman depan ruang baca. Karena ketidaktahuanku, aku tanya ke pos satpam, ”Ini benar masuk ke Perpus Umum?”

Satpam dengan santai menjawab, ”Iya, masuk ke kanan nanti perpus tepat di depan parkiran kok mas”. Kemudian dia menambahkan, ”Ke Perpus kota kan?”

Hanya aku jawab terima kasih dan buru-buru pencet tombol hijau parkir.

Aduh pak satpam ini bikin bingung aja, padahal di dalam kan tulisannya Perpustakaan Umum Kota Surabaya. Perpus umum atau perpus kota entahlah.

Habis parkir aku mengguman, walah pantes dari dulu nggak pernah tau wajah perpus ini, lha halaman depannya aja ada di dalam (tak menghadap ke jalan). Aku masuk dengan hati-hati, sambil lihat yang orang lain lakukan ketika masuk. Dia mengisi logbook, aku ikut ikut. Untuk mengatasi kikuk dan kekakuan, aku iseng-iseng tanya ke resepsionis, ”buku sejarah kota Surabaya dimana ya?”

”Di rak bagian awal nomor 900, mas”, jawab mas-mas yang ternyata petugas penitipan barang dengan ramah.

Screen2 tetep nggak ketemu. Ah yang ada malah sejarah dunia dan perpolitikan di dalam negeri. Macam hikayat Surabaya, tak kelihatan. Mungkin memang tak ada, aku lanjutkan lihat-lihat rak buku yang lain. Lihat koleksi perpustakaan ini yang lain. Langkah kaki akhirnya terhenti pada rak yang berjudul epistimologi media. Aku baca buku kelas berat yang mengulas tentang independensi media. Kemudian baca buku tentang dasar-dasar menulis dengan rasa bahasa media.

Karena buku tersebut menarik, aku coba keluarkan selembar kertas dan pensil yang sengaja aku bawa untuk mencatat apapun yang aku dapat nanti di perpus. Kebetulan waktu itu duduk di sofa yang empuk dan enak untuk tidur membaca. Aku noleh kanan kiri nyari tempat duduk, eh ada temen kuliah satu jurusan yang nyapa. Melambaikan tangan sambil senyum, aku balas ala kadarnya. Berpikir sejenak, aku samperin saja lah dia, daripada sendiri kan nggak enak.

Ternyata dia sendirian juga. ”Sering kesini?” kutanya. ”Baru pertama”, jawabnya. Tapi aku nggak yakin orang Surabaya asli, sekolah di SMA paling top se-Jatim, pertama kali ke perpus kota, mustahil.

Jadilah kami berbincang-bincang tentang kampus dan yang ringan-ringan lainnya. Tapi karena sudah sore, nggak lama kemudian aku pamit balik duluan.

Secara umum Perpustakaan Umum Kota Surabaya sangat nyaman dalam segi ruangan, fasilitas membaca, tempat duduk, kursi, karpet, AC, internet, dan komputer. Semua tersedia dengan baik dan terawat. Saking enaknya, banyak muda-mudi yang memang niat membaca, ada juga yang duduk santai menikmati wifi gratis, istirahat, baca koran, hingga yang tiduran pun ada.

Tapi koleksinya kurang banyak sih, kalo menurutku. Jadi, mungkin dapat dijadikan masukan untuk Pemkot Surabaya, eman dong gedung yang nyaman untuk sarana edukasi minim literaturnya. Terutama tentang Surabaya sendiri, “Jasmerah!” kata Bung Karno. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau melestarikan sejarah ini.

Meskipun tadi nggak dapet buku yang aku cari, aku puas dengan hari ini, bisa bertemu teman yang inspiratif. Lanjut grilya di perpus-perpus lain sampai ketemu buku tentang sejarah kota Pahlawan ini. Kalau ada yang punya, boleh lah ku pinjam?

Ditulis kala rintik hujan ditemani mie goreng hangat. Hihi..

Advertisements

2 thoughts on “Jalan-Jalan ke Perpustakaan Umum Kota Surabaya

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s