Pengalaman Pak De Rantau

Masih soal perjalanan pulang dari Surabaya ke Lumajang yang entah sudah yang ke berapa kali. Setiap perjalanan punya cerita sendiri. Aku suka menjalani perjalanan yang berbeda. Meskipun jalur yang ditempuh sama, bus yang ditumpangi juga sama, dan bertemu dengan orang-orang yang sama pula, aku selalu ingin kesan yang berbeda menyesapi manis dan makna yang lain.

Salah satu ruang dan waktu yang sama dalam perjalanan pulang adalah warung kopi depan terminal Wonorejo Lumajang pada pukul 01.00-03.00 pagi. Biasanya aku berangkat dari Surabaya pukul 8 atau 9 malam dengan memilih bus jurusan Ambulu dengan trayek yang lumayan sepi. Harap-harap dengan trayek yang sepi, parkir bus di terminal Bungurasih lumayan lama. Tujuannya membunuh waktu. Karena terlalu cepat sampai di Lumajang menyebabkan lebih besar pengorbanannya. Karena apa? Dari terminal Lumajang ke rumahku di daerah pelosok desa, masih harus oper ke minibus jurusan Dampit yang mana jadwal keberangkatan pertama bus tersebut adalah pukul 3 pagi. Dengan asumsi berangkat pukul 10 malam, pukul 2 pagi sampai di terminal Lumajang. Menunggu. Semakin awal sampai, semakin lama menunggu.

Beberapa waktu yang lalu, sekitar 1 bulan, seperti biasanya aku membangunkan penjaga warung yang sedang tertidur dengan tangan kanan menopang kepala. Tidur dalam posisi duduk miring ke kanan di wilayah kerjanya. “Energen kacang ijo satu, mbah”, aku memesan minuman hangat.

Ilustrasi kehangatan sajian dan perbincangan di kedai kopi
Ilustrasi kehangatan sajian dan perbincangan di kedai kopi (sumber)

Aku duduk diatas bangku yang paten terbuat dari semen dan keramik, selonjoran menghadap sejajar dengan jalan. Tas aku taruh di samping. Sambil menikmati seduhan minuman hangat, camilan favorit di warung ini adalah rempeyek kacang dan krupuk warna warni. Semua warnanya asin, berminyak, dan bikin haus tentunya.

Waktu itu, ada seorang bapak-bapak yang sepertinya enak nih diajak ngobrol daripada bengong 2,5 jam, kan nggak lucu?

Bapak tersebut ternyata adalah orang asli Jember yang menikah dengan orang Sumberwuluh, Candipuro yang letaknya sekitar 20 Km arah selatan rumahku di Tempeh. Beliau adalah petualang dan perantau sejati. Beliau telah mengembara di Surabaya semenjak 20 tahun yang lalu, atau sekitar tahun dimana aku lahir, 1994. Banyak hal yang telah ia lakukan, tukang becak, jualan di medaeng, dll. Aku tidak terlalu banyak menggali tentang jenis pekerjaan beliau karena takut menyinggung perasaan. Nama pun tak sempata aku tanyakan.

Yang paling aku ingat waktu itu beliau selalu bilang, “Masa mudamu, gunakan untuk merantau di tanah orang. Mencari pekerjaan. Menghidupi keluarga dari jauh. Mencari pengalaman dan akan banyak service mata (red cuci mata)”

Jam 3 lebih 20 menit, bus berpapan nama Putra Mulya jurusan Lumajang-Dampit berangkat. Di dalam bus, sudah berkurang intensitas ngobrol kita. Tak lagi banyak. Dan lebih santai, istirahatkan tubuh yang sedari tadi waktunya tidur tetapi dipaksa stand by.

Aku turun dan pak de rantau itu meneruskan perjalanan ke selatan. Lost contact sudah hingga beberapa minggu. Aku balik ke Surabaya setelah 10 hari berlibur di tanah kelahiran ini.

Dan kemarin, tepatnya pada pergantian jum’at dan sabtu, aku ngopi di tempat dan waktu yang sama. Bedanya ini hanya lebih awal. Dan semula aku tak yakin, bahwa aku akan ketemu pak de rantau itu lagi.

Aku berjalan ke warung sembari menyapa, “Balik ke Sumber wuluh lagi, pak?”

“Iyo le”, singkat tetapi pertanda aku tak salah orang. Dia adalah orang yang sebulan lalu aku temui disini dan di waktu yang tak jauh beda. Lagi-lagi dia datang lebih awal 1 bus dariku. Dalam dunia transportasi, 1 bus berangkat biasanya tiap 15-30 menit.

Waktu itu, pukul 00.30, atau sekitar 2 jam 30 menit menuju keberangkatan bus Parikesit – bus jurusan Lumajang Malang. Waktu yang cukup lama.

“Pulang besok?” tanya orang itu ke aku.

“Iya pak, nunggu bus saja, siapa pula yang mau jemput jam segini. Kalau pun mau ya kan nggak enak, jalan sudah sepi dan terlalu larut malam”, jawabku

Akhirnya kami memutuskan santai di warung ini. Menikmati sajian yang tak jauh beda. Energen dan camilan yang itu itu juga. Aku sangat menikmati itu. Dan perbincangan dengan orang yang tak kukenal. Tetapi satu hal yang terpatri dalam lubuk hatiku, “Tak mungkin dia orang jahat”. So aku dengan nyaman menimba sari pati ilmu dari beliau yang kaya akan cerita kehidupan.

Kenapa aku dengan yakin begitu bilang dia orang baik, dia membawakan oleh-oleh mainan untuk anaknya yang masih kecil. Dia rela pulang setiap bulan untuk menyambangi istri dan keluarga di rumah. Dia rela bekerja keras banting tulang tetapi tetap tak melupakan keluarga.

Yang aku paling ingat adalah tentang metodenya menolak perbuatan jelek. “Kita boleh berteman dengan siapa saja, yang baik atau yang jelek. Jangan pilih-pilih teman. Karena kalau pilih yang baik saja, kita akan dibenci yang jelek. Tips ketika berteman dengan yang jelek, ya kita cukup berteman sewajarnya. Kalau dia mulai mengajak bejat, kita bilang tidak berani saja”. Itu sudah menjadi metode kelas atas kalau menurutku.

Dan selain itu, aku juga mendapati cara untuk berani mempertahankan diri dan melawan penindasan. Misalkan, ketika naik bus, tarif dinaikkan dua kali lipat dari biasanya. Bilang saja, “Kembalikan pak, tarif biasa saja”.

Selama ini, aku lebih sering menerima dengan tabah setiap kedzaliman orang kepadaku. Aku mendoakan dia agar secepatnya berjalan di dalam petunjuk yang benar. Ketika dicuri di bemo Malang, sudah tahu uang hilang dan pencurinya adalah orang disampingku. Aku tak tega berteriak maling. Aku kasihan, mungkin dia memang butuh uang. Lebih banyak mengalah. Pun ketika naik bus, ditarik 30 atau 35rb, aku tak memberontak. Biasa saja.

Dan dari itu di lain waktu aku mungkin punya persepsi yang akan jauh berbeda. Aku merasa beda dan lebih baik.

Dan belakangan aku tahu bahwa nama dari orang itu adalah Hasan ketika meminta nomor hape ketik dalam perjalanan pulang kemarin.

Pertemuan kedua tanpa sengaja.

Advertisements

3 thoughts on “Pengalaman Pak De Rantau

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s