Yang Mudah dan Yang Sulit

Kemarin, aku pulang dari Surabaya kota perantauan ke Lumajang kota tinggal sewaktu kecil. Perjalanan dari kos di daerah Keputih ke Terminal Bungurasih mula-mula aku tempuh dengan bemo kode S. Bemo biru ini akan mengantarkanku ke terminal transit Bratang. Terminal Bratang berbentuk tak terlalu luas, sederhana hanya ada 2 tipe angkot yaitu bus kota dan bemo. Dua moda transportasi ini sudah bisa mengangkut kaum urban menyebar ke penjuru kota Surabaya bagian timur.

Perjalanan sore sekitar pukul 17.00 WIB terasa sangat lama dan membosankan. Tak lain karena lalu lintas padat merayap dan sesekali macet mendekati persimpangan lampu merah. Panas dan berkeringat bercampur penat.

Aku berada di tempat duduk bagian belakang. Kaca cendela samping kanan dan kiri terbuka menambah ruang nafas. Aku pandang jauh keluar, hiruk pikuk orang pulang kerja menyerbu jalan.

Bemo lain melintas menyalip mobil yang aku tumpangi. Terlihat perempuan muda di dalam bemo sedang asyik dengan gadgetnya. Menunduk dan terkesan tak peduli dengan sekitar. Dalam hatiku langsung menghakimi dia, “Ah orang sekarang ketika dia di luar malah tak memperhatikan sekitar padahal disana banyak orang dan banyak momen yang mungkin unik, bisa terlewatlah hal yang begitu. Kalau di rumah, sedih sendiri kesepian. Realita”

Menganggap buruk dan menyalahkan tindakan orang yang hanya sepintas terjadi dengan seenak dengkul. Itulah aku dan mungkin manusia punya kecenderungan seperti itu pula.

Kalau disuruh bercermin, melihat ke dalam, introspeksi diri kok susah amat. Kemudian dari itu aku coba posisikan diri sebagai penumpang yang asyik dengan gadget ketika di dalam angkot atau dimana lah. Bisa jadi ada orang yang nyeletuk, “Ih maniak hp banget ya kamu”

Dan padahal posisimu saat itu adalah membuka hp sejenak di dalam angkot hanya untuk mengubah mode jaringan menuju mode pesawat. Tujuan yang baik. Tetapi mendapati respon yang buruk. Normalnya kalau kita tahu ada orang yang ngomong jelek ke kita, kita cenderung tidak terima. Bete atau bahkan marah pada berbagai kasus lain.

Intinya, coba deh lebih berprasangka baik pada orang lain. Misal dalam situasi kondisi tersebut, alangkah baik jika kita bilang, “Mungkin dia harus cek notifikasi penting, mungkin dia dalam perjalanan menuju kantor dan segera meeting, atau yang lain”

Akhirnya, yang mudah memang menemukan kejelekan orang dan yang sulit adalah menjawab “Sudah benarkah akhlak kita?”

Aku ternyata sudah tak berada di bemo lagi. Bratang telah berlalu. Bus Damri merangkak pelan menyusuri sayup-sayup petang dan adzan maghrib.

Dua jam berlalu, aku telah sampai di terminal Bungurasih, terminal utama Surabaya. Aku bersiap menenggelamkan diri dalam perenungan mudah dan sulit, serta menjadikannya terbalik.

Dalam perjalanan pulang, 4-5 Maret 2016.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s