Mencari-cari Jati Diri

Bercerita lagi soal aku.

Setelah 21 tahun mengidentifikasi diri, aku mulai kenal siapa aku. Aku tergolong manusia yang memiliki kemampuan analitis yang baik dan ketahanan fisik yang lumayan. Tetapi tak ada gading yang tak retak, aku pun memiliki kekurangan. Aku sangat lemah dalam ketepatan dan kecepatan mengolah data matematis. Selain itu kalau harus beraktivitas dengan energi terbesar maka aku mudah lelah.

Tipikalku adalah yang berpikir santai, tak ada tekanan, tetapi analisa dan keputusannya dalam. Cerdik dan licik, kalau menurutku. Mending bersepeda 1200 Km dalam 12 hari daripada bersepeda 120 Km dalam 2 jam.

Sebab keunggulan otak dalam berpikir, aku sering kali menonjolkannya. Dan ketika aku bertanya pada orang-orang yang sekiranya mengerti aku, mereka bilang, “Ilmu yang kamu punya sudah oke, tetapi tolong ditingkatkan lagi dalam segi komunikasi”

Itu adalah kutipan dosen penguji tugas akhir sekaligus dosen wali selama 4 tahun kuliah di ITS. Mulai dari itu aku sadari betul bahwa dalam otak, pikiranku memang sangat sistematis dan tertata tetapi prakteknya ketika diterapkan dalam tindakan sangat berbeda jauh.

“Presentasi kamu tadi njelimet (red rumit dimengerti)”, kata dosen pembimbingku sendiri. Padahal kemarin beliau bilang persiapanku sudah maksimal dari segi materi dan penyajian data. Tetapi finishingnya kurang memuaskan.

Apalah daya, diri memang ini adanya. Aku bahkan tidak mampu mengerahkan seluruh tenaga untuk melatih kekuranganku itu. Otakku memberontak.

Contoh simple: kemarin aku tes di sebuah perusahaan bonafit manufaktur otomotif di Indonesia. Salah satu tesnya adalah penyelsaian soal matematis sederhana dalam waktu yang sangat terbatas. Jujur, saat itu aku sangat kesulitan mengerjakan soal, padahal soal tidak terlalu sulit. Apalagi disuruh mengerjakan penjumlahan deret pauli yang kertasnya itu sangat besar dan lebar. Sangat lambat aku dalam mengerjakan dan membikin gerah tubuh serta otakku.

Aku sangatlah feksibel. Dan aku tidak mau memaksakan diri menjadi perfect dengan zero weakness. Tetapi aku sangat menerima dengan lapang data semua pemberian Allah kepadaku. Aku memang tidak diterima oleh pihak macam perusahaan, sekolah formal, dan instansi pemerintahan yang mengutamakan ketepatan dan kecepatan.

Aku akan tetap menjadi diri sendiri.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s