Belajar soal kepekaan merasa dan mengindra

Kamu itu harus peka, aku sudah memberikan kode pancingan untuk menarik perhatianmu. Tapi reaksimu datar dan responmu lambat. Seolah tak mengenali itu. Dan aku jadi menahan beban. Menunggu inisiatifmu. Tapi tak kunjung datang. Dan bendungan itu ambrol bersamaan dengan banjir di pipiku saat ini. Terpaksa aku yang mengungkapkan dahulu. Setelah lama dalam pesakitan menahan diri, akhirnya aku beranikan telpon kamu. Dengan jarak yang jauh ini, mungkin sulit untuk lagi disatukan. Dan mungkin, ini akhirnya. – cerita akhir tahun.

Ketika kamu bersamaku, aku mohon satu hal. Aku minta kamu jangan membicarakan selain kita. Jangan bicarakan masa lalu. Jangan bicarakan tentang orang lain. Fokuslah padaku dan menikmati saat ini dengan penuh rasa syukur. Aku tak ingin membuat luka dengan menggoreskan kebodohanku dengan orang lain yang aku cintai saat ini. Yang aku inginkan sekarang adalah menyenangkanmu dan membuatmu tersenyum. – di gelap malam ia membisikkan itu padaku.

Kamu memang makhluk egois tak berperasaan. Kamu mendewakan otak, meninggikan idealisme, dan hanya olah logika saja. Insting, naluri, pengindraanmu berantakan. Tak pernah diasah. Kamu nggak akan pernah ngerti cewek kalau hanya bermodalkan logika matematis yang cenderung solutif tersistematis itu. Wanita sulit dimengerti. Alurnya melilit-lilit. Kadang tak jelas permintaannya apa. Dikasih solusi malah hanya ingin didengar. Didengar saja tanpa komentar malah dikira acuh. – kita pria serba salah

Dan yang paling aman sekarang (kala kamu tak bisa kasih komitmen, janji yang sungguh-sungguh) adalah menjaga diri memendam perasaan dalam hati. Tak peduli seberapa sakit membuat tameng benteng untuk menahan gembung api cinta yang meluap-luap. Gelora asmara yang maunya dilampiaskan tanpa kendali. Susah tapi mengasyikkan jika dijalani. Tak perlu lagi adanya perkelahian pasca pacaran. Tak perlu saling tinggal-meninggalkan. Yang ada hanyalah keseruan dalam bingkai tawa pertemanan, kasih sayang persahabatan, dan tolong menolong sesama saudara. Mengungkapkan cinta ketika belum siap menikah sama dengan memicu setan semakin bernafsu menjerumuskan dan akan menimbulkan kerugian dimana mana. Misalnya terbebernya aib ke orang lain, pertikaikan kalau putus tak jadi nikah. Dan buruknya, saling menjelekkan. – kata mereka.

Aku belum melaksanakan itu. ”Ya, dibiasakan saja”, dengan ringan ia berkata.

Advertisements

6 thoughts on “Belajar soal kepekaan merasa dan mengindra

      1. Duh penulisnya emg bener kurang peka yak.
        Wong sudah ada di depan mata, kok masih minta cariin lagi..

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s