Detik Penentuan

Lanjutan dari kisah jerapah mencari ranting-ranting makanan cerita mencari kerja dan akhirnya bekerja. Ups dalam itikad mencari penghidupan.

Seperti yang telah diketahui dari tulisanku sebelumnya, jadi pengangguran setelah usai kuliah sarjana adalah pekerjaan yang menyakitkan. Otak sudah penuh oleh teori-teori sudah meluap ingin segera dipraktekkan.

Disisi lain, informasi lowongan kerja sangat terbatas. Pihak-pihak penyedia jasa yang menghubungkan antara pihak yang membutuhkan pekerjaan dan perusahaan yang membutuhkan SDM menawarkan sesuatu yang istimewa, berupa list perusahaan yang menyediakan lowongan, detail posisi, gaji, profil perusahaan, benefit, persyaratan, kualifikasi, dan deadline pengumpulan aplikasi.

ilustrasi detik-detik yang menentukan (sumber)
ilustrasi detik-detik yang menentukan (sumber)

Tak luput pula bisnis job fair yang menggiurkan tumbuh subur dengan adanya peluang besarnya peminat yang ingin mendapatkan pekerjaan terutama fresh graduate dari SMA, SMK, dan Sarjana. Banyak orang terbantu karenanya.

Sayang, aku dari lulusan jurusan yang kurang terkenal di Indonesia. Mencari kualifikasi yang cocok dengan studi selama di kampus susah bukan main. Jurusanku Teknik Material dan Metalurgi. Sesama mahasiswa aja kadang tidak mengerti bidang apa yang dipelajari, apalagi orang ’lama’ macam HRD perusahaan.

Tetapi disini aku nggak akan curhat lama-lama soal kesulitan-kesulitan itu. Sudah gamblang dan memang harus dihadapi. Aku tahan banting untuk beberapa batu kerikil itu.

Dan disini aku akan merunut ulang perjuangan yang berbuah manis itu.

Hari kamis sore (10/3/2016), aku dihubungi oleh pihak perusahaan untuk hadir pada hari jum’at tanggal 11 Maret 2016. Horee.. Kirim aplikasi ke Gresik tanggal 8, hari itu sudah dipanggil untuk melakukan tes awal psikologi dasar dan interview HRD. Tes demi tes terlampaui tanpa banyak hambatan. Alhamdulillah soal yang keluar di psikotes kali ini sudah aku pelajari pada kegagalan-kegagalan di psikotes yang lalu-lalu di perusahaan yang berbeda-beda.

Learning by doing.

Trials and errors.

Tes psikologi pertama di Mayora melalui Job Fair Cak Durasim Surabaya, tes kedua Bekaert via SAC ITS, tes ke tiga Pakoakunia via SAC ITS. Aku perhatikan betul soal yang keluar dan aku menunggu momen dimana soal tersebut keluar lagi dan akan aku aplikasikan tips dan trik untuk mengerjakannya.

Yeah fase ini cukup menegangkan karena tahap awal ini didesain dengan tes directly correcting dan ending-nya langsung pengumuman. Dag dig dug jantung berdegup kencang. Namaku tersemat pada orang yang melanjutkan ke tes selanjutnya.

Selanjutnya adalah wawancara dengan HRD. Dari pengalaman wawancara di Epson dan Oki Pulp, aku persiapkan materi semaksimal mungkin. Aku pelajari detail perusahaan dan aku kenali diri lebih dalam mengenai apa yang nantinya bisa aku berikan pada perusahaan. Dan ternyata, proses wawancara berjalan lebih lancar daripada apa yang aku khawatirkan selama usaha persiapannya. Dari sini, aku mulai yakin bahwa aku akan lanjut ke tahap berikutnya dan feeling diterima kian besar.

Kepastian untuk wawancara berikutnya adalah indikasinya. Hari itu dijadwalkan untuk wawancara dengan user juga. Dalam waktu yang sudah sesore ini, aku disempatkan untuk mampir di Plant 1 untuk bertemu dengan Calon atasanku kelak. Pak Arifin namanya. Beliau adalah asisten manajer pada departemen Quality Assurance. Aku apply untuk quality control, dan dipanggil untuk memenuhi panggilan QA.

Saat wawancara dengan user, arah pembicaraan lebih pada deskribsi pekerjaan yang akan diemban nanti. Dan sebelum sampai di kosan Surabaya, aku sudah dikirimi pesan untuk tes tahap selanjutnya, yaitu psikologi eksternal.

Sayang, esok harinya saking senangnya dan capek juga, aku telat menuju lokasi tes dengan alibi tersesat. Maaf bu. Tetapi ibu psikolog yang akan menyeleksi saya sangat baik hati dan menyarankan hari senin pagi balik lagi. Ditelepon beliau membelaku dan menjelaskan kronologi secara cermat pada ibu HRD perusahaan. Alhamdulillah aku dinyatakan oke pada esok harinya.

Hari rabu (16/3/2016), aku mengikuti serangkaian Tes MCU (Medical Check Up). Rada deg-degan juga karena tes ini menjadi momok arek ITS yang terkenal otak encer tapi badan ga sehat. Dua hari berikutnya harap-harap cemas. Sampai hati mulai patah arang. Mencoba menguatkan dengan kata-kata ini, ”Aku belum lulus, wajar belum dapat kerja”.

Bersambung..

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s