Teruntuk Teman Se-angkatan Kuliahku

Keluarga itu telah hadir sejak lebih dari tiga tahun yang lalu. Kelahirannya ditandai oleh tatap muka pertama di kampus perjuangan. Masa orientasi yang diselenggarakan oleh kampus dimanfaatkan betul oleh mereka para pencetus sejarah.

Berbekal komunikasi sederhana yang dibentuk di media sosial Facebook. Mereka berbondong-bondong datang dan berkumpul disebuah taman yang lapang. (Aku sebut ‘mereka’ karena aku dahulu dalam bahasa halus masih belum bagian dari keluarga itu).

Kumpul pertama ini, aku nggak dateng. *Parah nggak sih?

Mereka saling berkenalan satu dengan yang lain. Menanyakan nama dan asal. Serta mulai menghafal ciri-ciri wajah, suara, warna rambut, dan karakter yang lain. Satu orang harus mengidentifikasi teman yang lain sejumlah 153 orang.

Sulit memang masa-masa itu. Tekanan dari masa orientasi di jurusanlah yang memaksa kami mengihafal betul siapa dan mengenal betul bagaimana watak teman-teman kami satu persatu. Pendidikan demikian memang berat, terpaksa, tetapi berdampak positif terhadap keutuhan dan kekukuhan pondasi dari keluarga ini kedepan.

Huru hara wisuda :)
Huru hara wisuda 🙂

Buktinya, di tahun ketiga, dan bisa jadi terakhir bagi teman-teman yang akan wisuda besok, kami masih sempat berkumpul kembali dalam kerangka berpikir yang sudah sama sekali beda dengan awal pertama kali masuk kampus dulu.

Keluarga
Keluarga

***

Konsolidasi menurut Kamus Besaar Bahasa Indonesia berarti perbuatan memperteguh atau memperkuat perhubungan sesuatu hal. Kami biasa menyebutnya hanya sebagai konsol saja. Konsol bagi kami adalah wadah dan waktu yang tepat untuk berkumpul bersama, berbagi, dan ajang untuk mempererat tali persaudaraan diantara kami.

Ya, kemarin kami konsol membicarakan tentang kekinian perkumpulan kami di jurusan dan juga perjuangan untuk memeriahkan wisuda teman-teman yang lulus cepat besok.

Dan jujur, baru kali ini aku menghadiri konsol dengan sepenuh hati dan kesadaran penuh terhadap bagianku di angkatan. Dahulu, ketika Maba, bagiku konsol adalah masa bodoh. Bingkainya sudah keterpaksaan, bukan ketersediaan, ketulusan, apalagi keikhlasan. Demi memenuhi perintah atasan, tentunya. Hei, aku bukan babu. Aku menarik diri, dan mengambil jarak dari teman-temanku.

Di jalan, aku ingat sesuatu. Teman-teman yang selalu punya jatah untuk tersenyum untukku ketika berteguk sapa. Teman-teman yang selalu menyapa jika mereka bertemu.

Teman yang ada kala kita butuh cerita tentang kesedihan, masalah, dan kegalauan selama di kampus atau yang lebih pribadi. Teman yang ada ketika butuh kerjasama dalam banyak hal. Teman yang tak keberatan menjemput di terminal di kala hujan. Mereka dengan sendirinya membantu dalam keharmonisan sesama manusia.

Meskipun kadang juga ada tidak suka. Wajar. Namanya juga hidup, ada suka ada yang tidak. Dan pada hari itu aku memakluminya. Aku merasa kerdil diantara teman-temanku yang lain. Mereka banyak ambil bagian dalam menentukan kesuksesanku kini, sedangkan aku sendiri tak ada gunanya.

Aku tiada kala mereka membutuhkan bantuan. Aku sampah dan bahkan menjadi sampah yang terbuang di saluran air sehingga memperlambat alirannya. Begitulah setidaknya analogi untuk aku dan perkembangan angkatanku.

Konsol di sore itu
Konsol di sore itu

Aku merasa malu sekaligus bahagia. Terharu diakhir-akhir ketika sesi foto-foto. Terlintas baru kali ini aku menjadi bagian dari foto angkatan. Iya, baru kali ini. Dahulu, apapun pondasi latar belakangnya, tak aku hiraukan. Entah itu senang-senang, arahan dalam kerangka masa orientasi jurusan, atau amanah tanggung jawab yang lain, aku abaikan.

Aku sadar, dulu aku mbambet. Disuruh kenalan, kumpul, jalan-jalan bareng malesnya minta ampun. Menurutku, itu adalah jalanku. Meskipun rada sedikit menyesal telah melewatkan banyak hal yang seharusnya aku bias bersama kalian. Hm..

Dan begitulah aku. Mencoba menghayati lebih dalam keluarga yang telah menemaniku selama hampir empat tahun di kampus perjuangan ini.

Selamat berjuang, kawan..

Aku nun jauh, terus mengamati perputaran dunia yang kalian lah pemerannya. Aku hanya dibalik layar, bergemetaran dalam menyusun naskah untuk dipentaskan dipanggung kelak.

Semoga cepet lulus yang mau sidang, semoga cepet nikah yang udah ada calon, semoga cepet dapet kerja yang pada ngelamar sana dan sini.

Tak perlu kau baca pun aku telah senang. Bahagia telah menceritakan uneg-uneg dalam hatiku yang selama ini terpendam. Lepas. Dan bebas.

Selamat malam.

Penghujung Mei (29), dalam ruang kosong penuh rintik.

Advertisements

8 thoughts on “Teruntuk Teman Se-angkatan Kuliahku

  1. Berteman itu penting fidh, karena kita nggak bisa hidup tanpa bantuan teman teman kita. Mending punya banyak teman dibandingkan punya banyak hartaaa.. Bertemanlah yg baik dan tulus 😊😊😊

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s