Gado-Gado Buka Puasa di Kantor

Sore sudah sayup-sayup. Hening. Langit biru mulai pekat. Mendung tipis tergurat di angkasa. Kami tetap terjaga dalam jibunan pekerjaan yang datar-datar saja.

Butuh konsistensi. Menjaga dimensi dan visual produk 100% guarantee in quality. Harus sabar memang. Itu tanggung jawabku, seorang bos quality, katanya. Aku berontak, “Bos kok kerjanya kayak gini?”. Aku biasa menghibur diri dengan segumpal prestasi-prestasi dalam ilusi.

Jalan begitu lenggang. Satu dua orang lalu lalang. Lampunya nyala terang. Salip menyalip dengan lampu jalan. Aku memesan dua es susu dan satu estea. Untukku susu, yang lain untuk anak buah. Katanya sih, “Jadi bos jangan pelit-pelit. Sering traktir tuh anak buah. Jangan hanya disuruh-suruh aja”

Tukang jual kopi aneka minuman mulai memantapkan posisi. Pergeseran jam kerja sudah selesai. Bulan puasa begini, tukang jual minuman masih aktif nongkrong di pertigaan depan tempatku bekerja, tempat yang seharunya tidak untuk berjualan. Katanya, “Menghormati yang tidak puasa, supir, kenek, orang gudang, dan karyawan pabrik yang tidak makan sahur”

Berjajar disampingnya tukang jual nasi goreng. Lagi rapi-rapi, tata-tata barang jualan. Nasi, sayur, mie, tak lupa micin – penyedap makanannya.

Oiya, aku tadi tak hanya pesan minuman. Tak ketinggalan tiga bungkus kerupuk polong warna-warni. Kesukaanku. Manis dan asin campur aduk.

Radio bersuara keras. Volumenya mungkin diambang desibel (DB) yang masih dapat didengar manusia. Isinya ceramah agama. Nama stasiunnya entah apa yang jelas ia berpusat di bekasi timur, kabupaten bukan kota. Menggebu-gebu suara Zainudin MZ beserta backsound pendengar yang tertawa mendengar nasihatnya.

Dan manakala vokal hasbunallah dengan iringan musik ala kiai kanjeng berdentum, orang-orang berlarian. Mendekekati menu buka puasa yang tersedia. Telah dikoordinir.

Teman-teman sudah berjajar di pelataran depan gudang. Duduk dibahu jalan, trotoar. Memandang jauh ke luar gedung pembatas. Dari sela-sela pagar terlihat pekerja perempuan pabrik sebelah.

Pemandangan yang mantap untuk sebuah seruputan yang melegarkan tenggorokan. Es susu itu telah terkecup kala adzan berkumandang.

Alhamdulillah.

Allahumma laka sumtu wabika amantu birahmatika ya arhamar rahimin.

Lampu jalan berpendar temaram. Kuning bertaburan di cakrawala. Garis-garis cahaya yang terhalang oleh truk logistik yang besar dan gedung yang megah.

Ada sekitar delapan pria yang tertawa lugu, bercanda dan bercerita tentang kerja, dan hari-hari kocak mereka. Lepas. Tak seperti orang yang dikejar deadline. Aku suka cara mereka melepas penat. Ditengah kerja yang berat, ada benih-benih kekeluargaan yang melekat.

Saling ejek. Tapi tetap ceria. Satu-satunya alasan mereka tetap bersama adalah kesatuan nasib yang berat. Menghidupi keluarga.

Tak terasa, es susu dan dua kerupuk telah habis. Aku masih termenung. Tak lama lagi aku akan mutasi kerja ke Gresik, kota yang sama ngangeninnya dengan Surabaya. Disisi lain, aku sudah merasa nyaman berada diantara mereka. Meski sering mengeluhkan kerja yang berat dan kesempatan ibadah yang sempit.

Ah entahlah. Aku bergegas sholat maghrib dan melanjutkan pekerjaan dalam hitungan lembur.

Selamat malam.

Advertisements

11 thoughts on “Gado-Gado Buka Puasa di Kantor

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s