Akankah kiamat datang esok pagi?

Selamat malam

Akhirnya aku bisa menyapa kembali pembaca, menulis ulang rangkaian acara yang selama ini tertunda penulisannya. Tapi maaf, tulisan ini begitu random. Karena biasanya untuk memulai sebuah pekerjaan panjang, dibutuhkan awalan. Nah ini dia awalan kepenulisan di quarter akhir tahun 2016.

Biarlah tanganku lemas oleh tarian jemari ini. Sudah lama aku tak merasakan kontur abjad di laptopku. Laptopku telah lama tersimpan rapi dalam almari. Sesekali ku buka untuk menonton anime bersambung Naruto yang udah mendekati akhir kisahnya. Selebihnya aku gunakan mayoritas waktuku untuk bekerja, mengikuti berita sepeda yang sekarang sudah tak ada lagi, menonton video-video di yutub. Itu sekedar mengisi waktu luang yang sempit, leyeh-leyeh ketika pulang kerja menjelang tidur.

Kata orang, hidup bekerja – pulang – tidur adalah rutinitas yang membosankan. Ya benar juga. Bosan. Dan kadang aku berimajinasi dengan virtual dan audiovisual hiburan di yutub. Kadang kala terbenam dalam kata-kata ditumpukan buku reading list yang menumpuk dimeja kamarku.

Sudah hampir 3 bulan aku tak aktif menulis. Bahkan lebih mungkin. Ada beberapa faktor, yang pertama adalah kesulitan akses internet. Kedua, laptopku tak mendukung Ms. Office untuk bekerja dalam tulisan dimedia online seperti blog ini. Ketiga, hanya ada software mirip Ms. Word yang sering kugunakan menulis, sayang, dia lebih ribet karena wordpress tidak menyokong format software tersebut. Maklum gratisan.

Akhirnya aku menulis memakai Wordpad. Konsekuensinya, minim editing paragraf, font, dan berbagai pengaturan yang memudahkan penulisan layaknya Ms. Word yang elit itu. Tapi sebenernya yang paling aku sebalkan adalah Wordpad tidak bisa automatic big object diawal kalimat. Itu sangat menjengkelkan. Karena setiap kali selesai titik, aku harus memencet shift dan huruf yang ingin aku buat besar.

Terus mau ngomong apalagi ya? Sebenernya banyak hal yang telah aku lalui. Tapi aku banyak menuliskannya dalam bentuk poin-poin. Bercecer dibuku-buku dan di awan penyimpanan onedrive. Hanya kata-kata, kadang juga teruntai dalam kalimat-kalimat. Note sepanjang hidupku. Sayang, tak ada waktu mengembangkannya dalam bentuk paragraf minimal, atau alhamdulillah kalau bisa menjadi judul sebuah artikel.

Setelah bbeberapa awalan menulis ini. Aku rasakan kaku pada sendi-sendi jariku. Entah gejala lama tidak mengetik di keyboard lagi mungkin.

Sekali lagi mohon maaf, tulisanku kacau balau. Tak tertata. Pilihan katanya juga jelek, kaku tak selincah, lemas, dan fleksibel seperti biasanya. Rasa dan ruh dari tulisan ini tidak ada. Tidak ada cinta didalamnya. Mungkin pembaca juga menyadari itu.

Ya karena memang ini mungkin juga sebagai terapi awal. Agar aku terbiasa manulis lagi. Agar semua yang telah terpikir tercurah. Agar semua curahan itu berubah menjadi aksi-aksi. Aksi yang mempu merubah dunia. Yang tak rasa sudah dekat hawa dan suasana kiamat / hari dimana semua yang fana dan alam semesta ini dihancurkan.

Kehancuran sudah berada dimana-mana. Pemerkosaan, perzinaan, perampokan, korupsi, pemerasan, penindasan, penganiayaan, pembohongan massal telah dilakukan terang-terangan tanpa adanya rasa bersalah, bertobat dan dengan sistem yang tertata untuk saling menguntungkan dalam kejahatan.

Manusia telah menusuk, menjegal, meruntuhkan, saling hina menghinakan, saling jelek-menjelekkan, saling menyalahkan, tanpa adanya rasa manusiawi yang saling mengasihi. Diotaknya hanyalah untung rugi.

Yang alim dikira sok suci. Yang bobrok dipuji dan didewakan sebagai pemberani. Pezina ditunggu-tunggu keluar dari penjara. Koruptor tersenyum pada publik. Yang bawah merencanakan perampokan secara diam-diam, tidak kentara, dan tidak terendus. Alibi kebohongan kenyamanan hidup ditawarkan pesat dimana-mana. Membludaklah iklan-iklan. Iming iming tentang keindahan, kesenangan, dan kebagaiaan. Mereka akhirnya lalai dan berada dalam kabut kegelapan. Terselimuti pandangannya, hatinya pun menjadi beku oleh keadaan.

Cairnya, dan lunaknya hati yang alami dan memanusiakan manusia telah musnah. Kaku dan serba urusan duniawi. Berbondong-bondong menumpuk harta, membangun istana gemerlap dunia, memastikan masa depan cerah minimal bagi dirinya, anaknya kalau bisa, malahan selama tujuh turunan.

Yang tak pakai asuransi hari tua, pensiun, kesehatan, perjalanan, dijalan maka dikira orang tak punya masa depan. Bahkan kalaupun punya masa depan, masa depan akan suram.

Mereka bahkan telah lama meninggalkan tuhannya. Mereka sibuk, sekali lagi mereka sibuk dengan goal utama mereka yaitu uang. Suasana kota, panas – berpolusi udara – berdebu – air tak nyaman tetap diterima. Sebagai alasan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak.

Ironisnya, katanya orang terpelajar, mereka menjadikan uang sebagai tujuan akhir. Yang katanya idealisme, telah gugur ditelan realita. Sama saja, sama pencurinya. Yang jalang jadi pelacur yang menjajakan apa yang ia punya demi uang dan bisa makan.

Mereka tak lagi percaya akan adanya firman tuhan, bahwa setiap yang hidup dibumi telah dicukupkan rejekinya. Bahkan mereka masih ketakutan tidak bisa makan.

Padahal, hemat saya berbicara, bahwa kalau kita mau berusaha dan bekerja tidak mungkin kita mati kelaparan. Kerja yang saya maksud tidak harus pada pemerintah, perusahaan, pemilik modal dll yang mainstream orang kekinian lakukan. Kerja yang saya maksud, adalah melakukan perpindahan, pengubahan dari barang yang tak berguna menjadi yang berguna.

Petani. Aku heran, petani dianggap pekerjaan rendahan, tak tentu hidupnya, pas-pasan, bahkan identik dengan miskin. Aku kasian. Padahal tanpa hasil tani tersebut, manusia modern sekarang ga bakalan bisa hidup. Bagaimana bisa orang kota se-nyinyir itu pada pak tani? Bagaimana bisa pedagang sekarang memonopoli harga dengan menekan serendah-rendahnya pembelian harga dari petani, dan menjual melambung ke angkasa harga ke konsumen.

Bodohnya, beberapa orang yang juga petani membeli hasil taninya sendiri dengan nilai yang tak imbang dari hasil jual panennya. Tapi pak tani tetap bukan pihak yang salah, mereka hanya tertindas oleh keadaan. Hidupnya tak memiliki pilihan.

Yang punya pilihan ya orang borjuis, dengan banyak duit. Dengan ketetapan, kepastian, dan ketidakmenentuan itu yang zero percen.

Lain lagi dengan karyawan-karyawan. Babu babu yang menganggap dirinya sudah aman. Gaji mereka tetap. Kerja mereka sesuai SOP yang ditetapkan oleh pimpinan. Sudah itu saja, bekerja layaknya mesin yang telah disetting oleh pemilik, bak komputer yang telah diprogram oleh user. Tunggu aba-aba dan go. Melakukan dan mencatat hasilnya. Sudah. Itu saja. Kok ya eman sekali otaknya, hanya digunakan untuk memproses itu saja?

Tapi lagi-lagi, mereka, karyawan-karyawan bukan pihak yang harus disudutkan. Mereka bukan kaum rendahan yang nasibnya terinjak-injak. Bahkan mereka masih bisa ngopi, ngerokok, dan bersenda gurau di warkop-warkop tanpa punya beban hidup sedikitpun. Itu lebih baik. Mana ada orang indonesia stress hanya karena utang menumpuk dan gaji yang minus? Toh perlindungan negara tidak ada, ketangkap mencuri ya tinggal bunuh diri. Tidak sulit.

Sudah sejauh ini ketimpangan meraja lela. Sudah sejauh ini pula hatiku khawatir. Akan kah kiamat datang esok hari?

Advertisements

7 thoughts on “Akankah kiamat datang esok pagi?

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s