Wirid Gadget

Ada satu dari sekian probabilitas yang mengganggu alam bawah sadarku. Dia adalah smartphone. Hampir sepersekian menit dalam hidupku bersinggungan dengan barang ini. Entah itu visual dari pengamatanku pada sekitar, atau aku sendiri subjeknya.

Sumber: dbagus.com
Sumber: dbagus.com

Siang sore malam orang disibukkan oleh barang kecil, mungil ini. Ukuran volumenya sekadar genggaman tangan. Tetapi efeknya dapat menggenggam si pemiliknya. Dimensinya tak begitu lancip atau runcing. Tapi dampaknya dapat melukai diri lebih dari pedang tajam sekalipun.
Semakin hari tak habis ku pikirkan. Orang-orang sibuk mengutak-atik barang itu. Digeser keatas kebawah seolah ada yang ditunggu. Notifikasi mungkin. Dari media sosial yang mana ia telah memamerkan sesuatu untuk dunia. Barusan saja, ting. Satu notif berisik mengganggu orbrolan bersama kolega dunia nyatanya. Notif itu telah membuyarkan konsentrasi kenyamanan bersenggama dengan teman-temannya.

Semua media dicek dan ditunggu update terbarunya. Tentang artis nasional dan internasional, tentang hobi dan keluaran otomotif terbaru, tentang kejadian terkini teraktual dan paling sensasional sekalipun. Yang gila jiwa sosialnya, menunggu update status dari rekan-rekannya. Menunggu curhatan dari sahabatnya. Incarannya, idamananya, secret admierenya, yang diharap-harapkan supaya berbicara tentang dia.

Perasaan dicampur aduk, diulek seperti rujak. Dipermainkan oleh sistem yang menjerat kita supaya geer bahwa status itu untuk kita. Dan setiap hari bahkan detik, cerita tentangnya adalah cerita tentang saya juga.

Ah betapa gampang terlena makhluk yang katanya berakal dan masterpiece dari Tuhan yang Maha Sempurna.

Akalnya sudah mati. Pikirannya keruh. Hatinya padam. Jiwanya layu. Semua akibat dari aktivitas duniawi yang menipu.

Tiada menit tanpa menghidupkan handphone. Bangun tidur handphone, alarm handphone, kerja handphone, chatting handphone, habis sholat handphone. Wirid setelah sholat tergantikan oleh aktivitas menghidupkan handphone. Minimal hidup, dan mengecek notif.

Kalau tidak ada notif, tangan bergerak-gerak pada hiburan lain. Mencari apa yang bisa dikerjakan dengan smartphone ini. Ada yang selfie memaksimalkan fitur kamera, ada yang editing photo dengan aplikasi-aplikasi yang serba otomatis dan tak ribet untuk mendapatkan efek yang merona-rona. Ada pula yang sibuk menata kuliah, kerja, dan finansial hidupnya. Ada yang menulis dengan handphone. Memasak, berpesta, menonton video, mendengarkan musik, dan hidup untuk smartphone.

Dulu katanya orang bikin barang apapun itu adalah untuk mempermudah pekerjaan manusia, the creator. Tapi sekarang kenapa kita disibukkan oleh barang buatan kita sendiri.

Padahal hanphone pada mulanya adalah alat untuk menelpon dan mengirim pesan. Sekarang fungsinya sudah merambah kesemua detil aktivitas yang kita lakukan. Bukan malah mempermudah jadinya. Malah kita jadi ketergantungan. Dan apapun yang nyandu itu buruk, menurutku. Kecuali kecanduan ibadah pada Allah dan kecanduan mencintai Rasulullah.

Rasanya sudah tak mungkin bisa hidup tanpa barang satu ini. Cobalah berpuasa 7 hari 7 malam atau kalau hebat 1 bulan, tidak membawa handphone. Niscaya hampa hidupmu, melompong keseharianmu, dan tak berisi. Ruh dalam tubuh sudah tercopot.
Aku khawatir. Sesuram apa dunia 1, 2 atau beberapa tahun lagi kalau begini?

Advertisements

11 thoughts on “Wirid Gadget

  1. kalau menurutku sih, tergantung pemakainya…
    tergantung kadar bijaknya seseorang dalam memperlakukan smartphone itu.
    ada kalanya disaat setelah sholat, memang ada yang memegang hp.
    tapi kita juga tidak boleh buruk sangka dulu, siapa tau, yang di buka di aplikasi smartphonenya malah aplikasi alqur’an digital.

    1. Ya, tetap husnudzon. Semoga dengan ini, smartphone tidak memperbudak kita. Karena boleh jadi setelah sholat memang kita buka aplikasi al-qur’an. Tapi karena banyak godaan, malah terpeleset ke yutub atau game terkini. Karena membaca al-qur’an di mushaf lebih sedikit godaannya daripada pegang hape. Dan bukan suudzon, kalau kita kebanyakan hidupin hape just wait for notification. Cmiiw 😂

  2. Saya bahkan pernah gak pake handphone sejak jaman kuliah. Baru sekitar 2 tahunan pake handphone. Buat ngeblog aja sama main facebook. Tapi bener juga sih, membuat ketagihan klo gak hati2 menggunakannya.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s