Ada untung, ada yang dirugikan

Akan aku ceritakan latar belakangnya dulu.
Aku baru saja pulang dari kantor. Mengerjakan beberapa task dengan mission impossible. Tapi aku kerjakan dengan penuh semangat. Pulangnya, lelah dan merasa jenuh dengan keadaan. Aku putuskan untuk keliling kota.

Oiya, aku sekarang tinggal di Gresik Kota. Tepatnya di jalan panglima sudirman. Menyewa 1 bilik kamar lengkap dengan dipan, kasur, meja, lemari, dan kamar mandinya. Lumayan, 300rb/bulan.
Hidup di Gresik seneng-seneng ga seneng. Suasana rimbun, rindang, sejuk oleh nuansa islami, tergugah oleh suara adzan yang berkumandang saling bersahutan dari berbagai arah mata angin.

Maklum, disini ada 3 Sunan besar yang berjasa mengislamkan nusantara. Dua diantara yang aku kenal adalah Sunan Giri yang merupakan jajaran Walisongo dan Sunan Prapen yang kisahnya pertama kali kudengar ketika menjelajah Nusa Tenggara dulu.

Di sisi lain, Gresik punya kawasan industri yang cukup padat. Kontener lalu lalang. Dekat Pelabuhan Tanjung Perak. Petikemas ditata tapi terlihat tidak rapi. Belum lagi kabar dibukanya Teluk Lamong.

Diambil dari timesindonesia.co.id
Diambil dari timesindonesia.co.id

Makin sibuk lah jalur Osowilangun-Gresik itu. Pabrik-pabrik berjajar mengikuti alur jalan. Debu berterbangan. Kemacetan pada jam kerja. Sikut-sikutan, adu gesek, keberanian, dan kebut-kebutan dijalan pada jam pulang dan berangkat kerja umum terjadi. Truk besar tak mau kalah dalam ambil jatah, ambil andil. Panas udaranya, terik mataharinya, keringat bercucuran ketika siang.

Untung aku kerja di dalam ruangan ber-AC. Tak begitu merasakan beratnya hidup harus dehidrasi setiap hari di line produksi yang minim fentilasi itu.

Aku berpikir, kerja sebagai boss bagi anak buah, telah membawa banyak kenyamanan dan kemudahan untuk mendapat profit gaji tetap. Tapi, aku berpikir juga opposite-nya. Aku bekerja dengan santai tapi gaji lebih tinggi daripada kuli-kuli yang bekerja memanfaatkan ototnya. Dihargai karena ilmu, mungkin.

Tetapi aku kasihan sama mereka. Berat kerja mereka. Sehari-hari ditarget dengan minimal jumlah barang yang diproduksi. Harus selesai, karena kalau tidak, bakal kena Surat Peringatan. Pekerjaan monoton bersama teman setia, mesin. Kalau mesin lagi mogok kerja, kita sibuk merayunya. Persis seperti cinderela istri kita.

Bangun pagi, ketemu keluarga kemudian berangkat kerja. Kerja njogleki mesin hingga sore tiba. Pulang, capek, akhirnya tidur tanpa sempat menengok anak istri. Pikirannya hanya bagaimana uang tetap didapat untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Sekarang, manisnya berkeluarga sudah berkurang. Banyak yang berkeluarga, tapi tak banyak yang menikmati indahnya bersama keluarga. Malah lebih banyak mencukupi apa yang keluarga butuhkan, tanpa touching badang bahkan hati.

Hm.. Alhamdulillah kalau mereka berbahagia hidup demikian. Kalau mereka ikhlas dan menjalani dengan sungguh-sungguh serta tetap berusaha mengkondisikan diri dalam koridor Tuhan. Never mind.

Yang jelas yang sampai terpaksa dalam melakukan sesuatu. Temukan nimatnya, manisnya, madunya. Jangan sepah saja yang dirasa, sekali-kali manis tak apa.

Advertisements

11 thoughts on “Ada untung, ada yang dirugikan

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s