Sebegitu konsumtifnya kita sebagai bangsa

Lucu sekali memang bangsa ini. Katanya penghasilan minim, kesejahteraan masih jauh diangan-angan, devisa juga nggak banyak-banyak amat. Kok ya banyak pengangguran yang nongkrong di warung-warung, main wifi, ngerokok.

Orang kita banget nggak sih?
Orang kita banget nggak sih?

Muda mudi yang hidup masih ditanggung orang tua, sudah berani mejeng pake motor model terkini, ikut geng mobil, balap liar, touring kesana kemari. Mikirkah mereka tentang bensin yang harus diproses sebegitu susahnya? Kurasa tidak, pikirannya mungkin, โ€aku lho punya duit buat beli bensin, buat servis kendaraan, buat nyuci motorโ€

Yang dimasa kini murid-murid SD, SMP, SMA tidak mau berangkat ke sekolah kalau tak dibawai motor, bahkan kalau dikota, mobil bro. Itu semua pribadi. Naik angkot kumuh, kotor, lama, tidak fleksibel kalau ada les dan tambahan kulikuler lain.

Orang tua tak punya pilihan selain membelikan motor, gadget, hape untuk informasi dan komunikasi lebih lancar.

Padahal apa? Kenyataan kalau komunikasi yang dibutuhkan lebih sedikit digunakan daripada ngegame, yutub, ngenet, dan kegiatan bodoh lainnya. Coba tolong diresearch, lebih efektif mana belajar dengan buku atau dengan internet yang ada di tablet?

Nggak punya duit lhooo.. tapi berani banget bonceng anak orang, nganterin pulang, dan kegiatan pasangan yang terlampau dewasa dibanding umurnya itu.

Penghasilan nggak seberapa, kerja juga pas-pasan, tapi frekuensi ke mall lebih banyak daripada berangkat kerjanya.

Untuk memenuhi segala yang lazim dimasyarakat, orang-orang kita banting tulang siang malam.

Consumtivisme dan Consumerism di Indonesia

Kita dididik untuk menjadi konsumen dengan sifat konsumtif yang tak terukur.

Bukti nyata statement diatas adalah kian maraknya kredit barang dan jasa. Artinya, kalau pembeli, client, atau konsumen sudah memutuskan untuk mengambil barang dengan angsuran / kredit, pada dasarnya dia tidak mampu membeli barang atau jasa secara kontan pada waktu itu.

Dan dia memilih untuk mengikat dirinya dengan beban angsuran setiap bulan. Pendapatan bersih masih harus dipotong utang ini dan itu. Beli rumah lah, motor lah, mobil, laptop, renovasi rumah, gadget, dan kebutuhan-kebutuhan tersier lainnya. Yang padahal kita bisa hidup tanpa barang-barang tersebut.

Hingga akhirnya uang yang benar-benar ada ditangan ketika gajian tiba, bisa dihitung jari. Sebisa mungkin banyak puasa demi rumah bisa terbayar lunas.

Skala prioritas telah terbalik. Tergiur oleh iklan-iklan yang memikat hati. Yang para dalang dibalik iklan tersebut, pengusaha yang memainkan kecenderungan hati.

Entah harus aku katakan apa lagi tentang ini. Iklan-iklan di media begitu membludak. Tawaran diskon, bonus, voucher belanja, beli satu dapat dua, beli diatas harga tertentu dapat voucher potongan harga. Dan banyak yang lainnya.

Dan iklan itu laris manis dikonsumsi oleh masyarakat. Orang kita tak lagi mikir, pendapatan seberapa? Yang harus dibeli apa saja? Berapa banyak kebutuhan? Yang mana keinginan? Yang mana gengsi? Yang mana trend? Yang mana yang kekinian? Yang modern?

Minimarket dengan segala tipudaya-nya

Berbondong bondong lah orang mengunjungi toto-toko, pusat perbelanjaan, mall, hypermarket, supermarket, swalayan-swalayan, dan minimarket. Apa yang tidak menggiurkan disana? Barang ditata rapi, penawaran khusus, pelayanan prima, pelayan yang seksi dan ganteng rapi-rapi, harga yang murah, dan yang tak kalah penting adalah permainan aspek psikologis dari pembeli.

Dulu sempet aku melakukan studi mengapa minimarket yang booming itu digemari oleh masyarakat luas. Pertama, karena kita bisa melihat barang tanpa membeli satu barang pun. Dibiarkan demikian agar memancing orang untuk beli dikemudian hari. Membuat orang bermimpi untuk beli.

Kedua, pencahayaan. Ternyata kecenderungan orang adalah yang terang, jelas, dan berwarna-warni. Kalau buah ya segar, minuman ya dingin, atau kalau lagi malam sajian makan minum yang hangat atau bahkan panas. Deret raknya pun disesuaikan dengan kecenderungan pembeli.

Ruangan ber-AC, tidak ada jam, lagu klasik yang selow adalah aspek yang ketiga. Parameter-parameter tersebut juga memainkan peranan penting untuk belanja lebih lama, memilih-milih, memelesetkan pilihan pada barang yang sebenarnya tidak direncanakan untuk dibeli saat itu.

Keempat, adalah permainan harga, diskon, beli satu dapat dua yang pada dasarnya menetapkan harga awal tinggi kemudian diskon dengan alibi cuci gudang. Bila yang lain lagi ada potongan, harga barang lain dinaikkan. Dan artinya sama saja. Mana mungkin mereka mau rugi, lha wong prinsipnya lebih banyak untung lebih baik.

Pandai benar pebisnis itu. Mereka melakukan riset yang tak sebentar untuk itu. Effort yang tak kecil untuk bisa sesukses sekarang. Banting tulang, bekerja sama dengan ahli psikologi dan manajemen pemasaran, marketing, dan sales.

Balik lagi soal daya beli dan pemasukan. Sudah sangat timpang. Semua orang merasa berat untuk membeli secara cash. Secara teori pendapatan sudah tak mencukupi pengeluaran. Dan dengan tanpa perhitungan matang, mereka ambil kredit hingga 15 tahun untuk itu.

Yang aku herankan, kok ya berani hidup terbebani hutang selama itu.

Menurutku, kalau belum bisa beli ya sudah kebutuhan lah yang harus disesuaikan dengan pendapatan. Kalau pendapatan 500ribu per bulan, ya makan jangan terlalu banyak, jangan beli rumah, jangan beli motor. Kalau masih bisa jalan ya jalan, kalau nggak kuat ya beli onthel. Kalau pendapatan Cuma 8jt per bulan, ya jangan kredit perumahan atau dikavling-kavling, jangan kredit mobil. Lha mobil harganya 100jt keatas. Butuh berapa tahun untuk melunasinya?

Hanya karena tergiur sama depe yang murah dan cicilan yang terjangkau, kita mengiyakan. Pendek sekali.

Hidup oleh gengsi dan gila persepsi orang

Apalagi gengsi. Virus penyebab penyakit model apa lagi itu. Kita berusaha menjadi orang yang dipersepsikan kaya oleh tetangga. Kita mengejar penilaian orang terhadap kita. Kalau nggak nyelenggarakan resepsi nikahan, malu sama tetangga. Kalau kita bisanya syukuran seadanya, ngapain harus utang sana sini untuk bisa merayakan hari bahagia itu. ya semampunya saja. Yang terpenting kan bukan seberapa besar resepsinya, tetapi seberapa sakral prosesi akad nikahnya. Sesuai dengan ajaran islam kah?

Karena terjebak oleh kebiasaan banyak orang, kita hanya ikut saja. Orang lain pakai hape iphone, ikut. Pakai laptop ikut. Tablet ikut. Model rumah dengan kaca disudut ruangan ikut. Anak sekolah di negeri, ikut. Kuliah ikut ikutan milih jurusan yang elit. Trend naik gunung, tas eiger, outdoor lifestyle, baju, hijab, celana, kacamata disesuaikan dengan artis yang lagi hits. Model rambut,se patu, tas, dll. Semua ikut-ikutan yang lagi banyak dipakai orang. Teman merokok ikut ikutan, mabok, clubbing, cafe, dll.

Begitu dangkal kita menilai materi.

Kedalaman berpikir telah lenyap oleh iming-iming materi barang dan jasa yang menggiurkan. Sehingga kita terjebak oleh barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Di akhir tulisan, aku ingin mencoba netral dan bijak meneropong jaman. Hendaknya kita menilik kembali, jangan sampai kita do something yang hanya ikut-ikutan. Dalami, reningi, pikirkan lebih jernih lagi. Kalau memang kita butuh, ya sudah beli sesuai dengan pendapatan. Sesuaikan dengan pendapatan. Bukan pendapatan yang menyesuaikan keinginan.

Semoga bermanfaat.

 

Advertisements

30 thoughts on “Sebegitu konsumtifnya kita sebagai bangsa

  1. Luar biasa! Setuju banget saya dengan tulisan ini.
    Yang katanya Indonesia nggak sejahtera itu dimananya? Makin lama jalanan penuh berjajar mobil dan motor bagus. Mall- mall makin rame dan selalu nambah. Nggak ada ceritanya, warung tempat nongkrong sepi kalau malam minggu. Nah..
    kita menilai materi membuat kita bahagia, dilihat orang lebih wah dan bergengsi. nyatanya, semuanya semu, kebahagiaan ada didalam hati. ๐Ÿ˜€ walah, malah curhat dimari.
    salam kenal. ๐Ÿ˜€

  2. Sepakat,,, itulah mengapa aku memilih ngga punya kartu kredit, punya uang beli… ngga punya dan butuh yaaa nabung.

    Untungnya nyaris ngga punya waktu untuk nge-mall hehe

    Tulisannya keren ๐Ÿ™‚

    1. Sip, kartu kredit malah bikin kita sulit control atau balanving pendapatan dan pengeluaran. Kalo kartu debit kan, ga mungkin kita beli mobil kalo tabungan hanya 15jt. Siplah. Bijak2 mengatur dunia ๐Ÿ˜‚

  3. ekonomi indonesia itu ga kena2 krisis belakangan ini karna konsumsinya tinggi, kalau lagi membangun memang idealnya konsumsi kan tinggi, tapi masalahnya tingkat produktivitas kita rendah banget, gaji murah tenaga kerja banyak tapi kok hai’s yang diproduksi rendah, tidak produktip hehehe

    1. Haha karena kita apa apa gak bisa produksi sendiri. Tunggu aja ketika harga barang dan jasa dunia naik, negara macam kita (rajanya impor, devisit sedikit impor, ga membenahi kemandirian) ini akan segera koleps. Karena kalau ga beli dari luar, mana cukup kebutuhan dalam negeri sendiri. Semoga prediksi itu masih lama wkakaka atau kalau ga pengen membenarkan statement itu, yo cepet2 kemandirian diberbagai bidang cepet digalakkan. ๐Ÿ˜‚

  4. Betuuul, setuju sekali. Sebenernya sih jadi konsumtif nggak akan terlalu masalah kalau produk-produk yang dibeli itu produk lokal, jadi setidaknya ya memperkaya sesama kita. Tapi kalo yang dibeli produk impor atau produk kapitalis, huhu kesenjangan makin makin deh.

    Dan soal kredit dan utang, miris banget. Duh kan nggak enak ya kalo duit yang ada di dompet bukan punya kita. Atau punya barang yang masih harus dilunasi. Hidup kayak gitu bisa bangun pagi dengan rasa lega gak ya?

    1. Bangun paginya suram dan gelap kayaknya mbak. Gimana nggak suran? Lha apa yg akan dikerjakan besok (gaji bulan depan) adalah no value added karena kenikmatannya sudah dibeli hari ini. Kerja hanya jadi beban.

      1. bener banget mas,. kalau istilahnya ‘direm dulu’, karena kebanyakan pengen padahal sebenernya ngga terlalu butuh, setidaknya masih bisa ditunda. semestinya kita lebih sederhana lagi melihat hidup ini, ini hidup kita sendiri, kita yang atur, kita yang usahakan, kita juga yang tanggungjawab. insyaAllah ngga lagi ikut-ikutan, ngga lagi dengerin kata orang. bahagia itu ada di dalam hati, yang tenang, tentram dan penuh kesyukuran ๐Ÿ™‚

  5. […] Tadi soal pangan, yang lain banyak lagi. Kita belum bicara soal politik, sosial, budaya, pertahanan, dan administratif kenegaraan lainnya. Politik kita tak lagi pancasila tetapi demokrasi berkiblat pada liberalisme. Sikap sosial telah didominasi oleh attitude orang asing yang kental oleh budaya bebas tanpa boleh ada yang ikut campur. Lihat muda mudi kita yang hidup dalam pergaulan bebas tak lebih layaknya seekor binatang. Budaya kita bergerser, darah Jawa dan adat kedaerahan hanya cukup di dokumentasikan. Dijepret momennya untuk diabadikan. Tidak ada pergerakan untuk melestarikannya. Anak kita telah terbiasa bermain dunia maya daripada main egrang, kelereng, dan gerobak sodor atau bentengan. Apalagi pertahanan, alat tempur mana yang dibikin oleh BUMN sendiri. Supply pindad mungkin bagus, tetapi dibarengi pula tutupnya banyak tempat lain. PAL dalam membuat kapal laut dan kapal tempur, apakabar? Untuk pesawat terbang, hanya bisa buka bengkel. Impor pun pesawat tempur bekas yang sudar reot. (Lihat bagaimana MEA adalah salah satu pintu untuk membuka gerbang globalisasi / meleburnya masyaraka…) […]

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s