Darah Mengalir Bersama dengan Keringat Dingin

Pengalaman pertama donor darah.

Yes, beberapa hari yang lalu aku donor darah. Ceritanya bukan soal sombong, telah membantu orang lain yang lebih membutuhkan. Jauh dari itu.

Gambar dari kaskus
Gambar dari kaskus

Aku malah berpikir yang sederhana. Donor darah kemarin adalah yang pertama. Tentu yang pertama-tama biasanya yang spesial dong. Yang mengena dan membekas dihati. Karena pada saat itulah rasa pertama direkam dan diingat oleh syaraf pengingat.

Kala itu, cuaca mendung untuk daerah gresik dan sekitarnya. Awan hitam pekat bergulung-gulung bergerak dari pantai utara menuju Surabaya. Aku dirundung kecemasan. Waktu itu ada trainning. Aku harus menyempatkan diri keluar sejenak, support team lain yang sedang menyelenggarakan aksi donor darah. Untuk membikin sensasi, memecahkan rekor donor darah dalam sehari diangka ribuan pendonor.

Panas dingin lah tubuhku. Selama diruangan trainning, pikiranku kacau. Kebayang jarum suntik yang sebesar suntik sapi. Ada selang bening yang menghisap darah dari lengan kiriku. Dan terasa dingin darah itu. Ih mengimajinasikan saja sudah takut.

”Kayak anak kecil aja kamu, fidh”, kata rekan kerjaku.

Persis dengan cemooh dari teman-teman kampusku dulu ketika kuliah. Aku belum berani donor darah saat itu.

Nggak tau kenapa, kalau lihat tubuh disuntik atau disakiti dengan sengaja itu ngeri sendiri. Bawaanya emoh, males, dan takut. Kalau jatuh, kecelakaan, terluka bagian tubuhnya secara tidak sengaja karena penyebab yang jelas sih nggak apa. Nggak masalah. Aku hobi kecelakaan, luka, babras, dan beberapa bagian tubuhku pernah dijahit. Tak terhitung pula berapa liter darah yang keluar dari tubuh sedari kecil.

Tapi kalau lihat orang luka, dirumah sakit, selalu tidak tega.

Kalau luka sendiri, ”ah tidak mengapa”

Mungkin gen. Ayahku juga mirip. Memiliki sifat tak jauh beda. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Dan saat itu, aku berusaha melawan rasa takutku pada jarum. Aku bergegas untuk perang. Motor ku pacu keluar. Gerimis merundung. Semakin keringat dingin mengucur.

As your information, sampai saat itu (sabtu minggu kemarin) aku belum tahu golongan darahku apa. Haha saking takutnya disuntik.

Demi tahu golongan darah.

Demi KTP yang terisi sempurna.

Demi agar menjaga nama baik.

Aku beranikan diri tes darah.

Ya golongan darahku B. Tepat perkiraanku kalau nggak B ya AB. Sesuai dengan perhitungan persilangan antara ayah dan ibu. Teorinya mengikuti asas di buku biologi SMP dulu.

Kata orang memang benar. Tes darah itu tidak sakit. Sakitnya hanya sukuran di-cokot semut. Hanya ditembak jarum kecil yang tak dalam. Menyentuh sebagian kecil kulit pada jari. Tapi darah bisa mengalir deras. Tergantung pipet dan ketangkasan petugasnya.

Dicelupkanlah kedalam larutan CuSO4. Baru tahu juga kalau ada fungsi larutan tersebut. Warnanya biru. Ketika SMA dulu, sering aku berpikir, ”buat apa sih larutan sebanyak ini” merujuk pada etalase berisi bermacam-macam jenis larutan di Laboratorium Kimia SMA dulu.

Entah yang lain ada larutan yang ditambahkan. Aku tak mengerti karena label larutan tidak kelihatan.

Dan yes. Setelah tes golongan darah, rhesus, dan hemoglobin. Aku dinyatakan lulus untuk segera tes tekanan darah dan kemudian diambil sekantong darah. Saat-saat itulah yang paling tegang. Bulu-kuduk berdiri. Menunggu silih bergantinya pasien yang telah diambil darahnya.

Mencermati sekitar malah semakin gemeteran. Kumainkan kertas hijau yang menjadi data diri dan identitas darahku. Berulang-kali buka tutup hape. Melihat notif dan membacai tulisan terbaru teman-teman blogger.

Hingga akhirnya, akupun dipanggil. Aku berusaha rileks. Bercanda dengan teman sebelah yang kelihatannya lebih ketakutan dibanding aku. Dan juga sama petugas donor darah yang ganteng itu.

Menggenggam sekuat tenaga karena tangan kiriku mulai lemas karena saking geroginya. Dan ya, aku telah melampaui semua itu. Dan darahku telah mengalir entah kemana.

Semoga sekantong darah itu berguna bagi orang lain yang lebih membutuhkan.

Terima kasih PMI Bojonegoro yang telah menyeponsori tulisan ini.

Thanks.

Dan sesaat setelah itu. Aku segera browsing tentang kepribadian golongan darah B. Akhirnya aku tidak lagi minder ketika ditanyai golongan darah dan beradu kepribadian dengan golongan darah lain.

Yes. Bagaimana ceritamu tentang tes darah dan donor darah pertama?

Advertisements

5 thoughts on “Darah Mengalir Bersama dengan Keringat Dingin

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s