Optimisme dan Harapan pada Nusantara

Kemarin, tulisanku dipenuhi oleh ketidaksukaan terhadap sesuatu. Kata Sasuke dalam Serial Film Episode Naruto,

Tidak banyak yang aku suka, tidak ada yang aku suka secara khusus, tapi setidaknya aku punya ambisi, ambisi mengembalikan klan dan membunuh orang yang tak pernah terkalahkan

Seolah tiada benarnya apapun yang ada sekarang. Seolah dunia akan runtuh segera. Kiamat akan datang esok hari. Dan kacau, lulu lantak, collapse, dan krisis dimana-mana. Dan kalau tak ada revolusi yang diperjuangkan, seperti yang diperjuangkan Sasuke, segera datanglah mimpi buruk itu.

Keseimbangan Berpikir

Tapi aku bukan Sasuke, aku punya pandangan lain. Aku ingin menetralkan suasana. Menyeimbangkan persepsi. Bahwa yang ada didalam pikiranku bukan hanya soal kesedihan atas ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, ketertindasan budaya dsb. Bahwa aku juga punya optimis akan masa depan.

Melihat foto ini, rasanya mustahil Indonesia akan hancur. Jayalah Indonesia-ku :) (sumber foto)
Melihat foto ini, rasanya mustahil Indonesia akan hancur. Jayalah Indonesia-ku 🙂 (sumber foto)

Optimis apa sih tentang masa depan Bangsa Indonesia ini. Lah perampokan sudah dilegalkan, penipuan atas nama rakyat dan iming-iming kenikmatan telah dilakukan terang-terangan, pencopetan, pemerasan, penganiayaan telah membikin rakyat menjadi tidak tenang.

Ya aku masih punya harapan. Indonesia pasti bangkit suatu saat. Dan sebisa mungkin aku mulai menata pondasi, merekatkannya dengan semen, menata batu bata, meskipun tembok belum berdiri.

Tentu ada hal yang membuat aku terdorong untuk melakukannya. Apa itu?

Di jalan, dimanapun aku berada, sebisa mungkin aku perhatikan sekitar. Alam, pemandangan, bangunan, instalasi listrik, gudang, pabrik, dan orang yang berkeliaran diantaranya.

Ketika pagi hari. Aku melihat sekumpulan orang. Usianya tak muda lagi. Sudah kepala empat, anak tiga, mungkin. Tapi begitu lantangnya dia menjawab aba-aba dari Sang Orator di atas panggung,

Savety dimulai dari saya

Utamakan keselamatan kerja

Utamakan kesehatan kerja

Utamakan keselamatan dan kesehatan kerja

Tangan mengepal, menonjok ke angkasa. Merobek langit-langit. Ototnya hingga kelihatan merekah ke permukaan kulitnya. Suaranya sangat lantang membuka cakrawala.

Entah dia tak sengaja. Hanya ikut-ikutan orang lain. Itu lain urusan.

Yang jelas aku melihat sekumpulan orang itu tulus dari dalam hati. Terpancar melalui matanya yang sayup-sayup mulai layu itu.

Semangatnya berkobar. Bahwa kesehatan dan keselamatan kerja adalah harga mati. Dia adalah yang utama.

Ketika latihan baris-berbaris. Dia berada digarda depan. Di bawah terik matahari pagi yang menyehatkan. Rambut dan dahinya basah oleh keringat. Seolah dengan kulit yang mulai keriput itu, inner motivation itu menggelora. Istilah jawanya greget di hati itu terefleksikan pada perbuatan.

Aku benar-benar salut pada tetua itu.

Anak Muda Jaman Sekarang

Disisi lain, aku sedih melihat keadaan. Dimana anak muda takut panas pagi. Kalau upacara hari senin di sekolah, pilih tempat yang teduh. Ngobrol sama teman. Tidak menghargai prosesi sakral itu.

Budaya malam. Hura-hura. Dan menghambur-hamburkan uang. Kemudian pagi hari tidur. Oh, pantas saja rezeki itu terbang melayang begitu saja. Lah ketika orang berebut rezeki di pagi hari, dia malah keasyikan tidur. Duh, oke maklum, pikiran kalian masih dangkal. Tapi sebisa mungkin, secepat mungkin kamu tobat ya nak..

Lihat orang tuamu yang bekerja di pabrik, sebegitu kerja kerasnya beliau. Sungguh sungguh agar bahtera keluarga masih bisa berlayar. Menahan gempuran ombak dan badai yang kian ganas.

Selamat malam.

Advertisements

2 thoughts on “Optimisme dan Harapan pada Nusantara

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s