Gereja di depan gang rumahku

Masih seputar rumah dan keluarga di sekitarnya. Aku akan bercerita tentang gang di rumahku. Tempeh kecamatannya, Tempeh Lor desananya, dan Jalan Imam Bonjol nama gangnya.

Nama pahlawan memang lazim dipakai untuk jalan raya dan gang di Indonesia. Salah satu cara pemerintah agar mempopulerkan nama pahlawan, dan agar masyarakat tak lupa dengan sejarah mereka merdeka. Tak lain ada jasa pahlawan disana.

Tapi di gang rumahku, ada sedikit ganjalan. Posisi gereja menutupi wajah gang secara keseluruhan. Orang yang turun di gang rumahku juga jarang bilang pada supir angkot, ”kiri di gang imam bonjol”, supir bakal bingung. Tapi kalau bilang, ”Gang gerejo cak”, semua orang paham tentang itu.

Lebih terlabeli dengan cap gereja. Padahal di sekelilingnya tak ada umat nasrani. Jama’ah gerejanya adalah orang jauh. Entah darimana saja.

Orang di dusunku adalah orang pedesaan yang kolot. Pikirannya cenderung tebelakang. Sedikit diantaranya terpelajar.

Mereka selalu risih dengan keberadaan gereja. Apa-apa yang dekat gereja berarti jelek, musyrik dan kafir. Ketika natal, anak kecil dijaga jauh dari gereja, dilarang menonton acara TV yang berbau ajaran agama lain.

Baik, dari segi pendidikan. Tapi untuk toleransi sesama manusianya mana? Term itu sengaja ditanggalkan. Rata-rata pengikut buta islam. Super fanatik pada aliran tertentu, dan menganggap jelek aliran lain. Ya semacam concern NU-Muhammadiyah lah.

Bahkan orang desa menganggap buah yang muncul dari tanah milik gereja adalah haram untuk dimakan. Hukum apa lagi ini? Aku bukan islam liberal yang menganggap semua agama benar sehingga kita tidak apa terjun basah bahkan mengikuti ajaran agama tertentu dalam waktu tertentu, dan di lain waktu boleh ikut agama lain. Bukan. Aku bukan demikian.

dari muslim.or.id
dari muslim.or.id

Tapi apakah islam mengajarkan kita untuk memusuhi non-islam. Islam tumbuh pesat karena menghargai perbedaan. Islam disegani karena toleransi dan peduli. Islam penuh kedamaian dan kasih sayang. Bukan saling curiga dan saling menyalahkan.

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta.

Selamat malam

Advertisements

4 thoughts on “Gereja di depan gang rumahku

  1. Memang masih banyak kesulitan menyikapi perbedaan, apapun, entah itu agama, etnis, atau bahkan status sosial. Jaman gini, masih banyak juga orangtua yang nyuruh (bahkan kadang mengarahkan, memaksa) anaknya memilih teman dengan melarang berteman dengan orang-orang yang dianggap kelas sosialnya di bawah mereka. Banyak etnis tertentu yang memandang sinis etnis lainnya. Agama cuman salah satu aspek, di luar itu, macam-macam.

    Mungkin, masyarakat kita harus sering piknik agar sering liat yang beda-beda.

    1. Haha sering2 piknik ya boleh juga. Agar pori2 dipikiran jadi terbuka, dan bertekad untuk baik disemua sisi lehidupan. Menyirami semua kegiatan dan aktivitas dg islam. Biar seger dan ga sekularis. Masak iya islam identik ritual semacam sholat dan dzikir di masjid, selain itu bukan islam. Ya sholat itu esensi islam, tapi lingkupnya ya sesempit itu. Masak di dapur, sepak bola, bekerja kan juga bisa jadi ibadah toh? Ya kan?

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s