Mbah, aku rindu..

Ketika akalku belum baligh. Sekitar kelas 5 SD, di bulan Agustus, di jalan raya ramai kegiatan dalam rangka memperingati kemerdekaan. Jalan di tutup untuk kendaraan, digunakan untuk lomba baris-berbaris.

Aku ingat waktu itu suasana sangat ramai oleh hiruk pikuk lomba gerak jalan. masyarakat riuh pecah memadati bahu jalan. Penjual mainan anak, makanan ringat, cilot, rambanan, balon, dll tak kalah pecahnya. Ramai sorak-sorak menyemangati setiap peloton yang lewat.

Jam pelajaran ditiadakan. Murid-murid riang berserakan, bertebaran ke halaman sekolah. Memanjat undak-undak, dan melihat keramaian dibalik pagar besi. Tak boleh ke luar ke jalan.

Aku pun demikian, senang gembira tidak ada pelajaran di kelas. Jam kosong. Horeee.. main. Namanya juga anak-anak.

Anak durhaka, ya aku ini

Di tengah sorai pesta rakyat, perhatianku terganggu. Terdengar sirine ambulans dari selatan. Tertuliskan, ”Puskesmas Tempeh”. Supir mengemudikan mobil dengan sangat garang. Memecah kerumunan dengan sangat lincah.

Pasti ada orang sakit yang akan dirujuk ke Rumah Sakit di kota, karena puskesmas tidak sanggup mengobatinya, bisa jadi karena keterbatasan alat dan dokter.

”Waduh, sirine merah. Ambulan melesat cepat. Mau modar (red: bongko atau dalam indonesia berarti mati) itu orang”, aku teriaki supir ambulan itu.

Sudah itu saja. Namanya anak-anak. Ya setelah itu, fokus dengan gerak jalan lagi. tak sedikitpun membekas di pikiran.

Tak lama kemudian, sekitar 15 menit, ambulans yang sama kembali kearah selatan. Lampunya sudah beda. Warna biru, tanpa sirine.

Belum sampai RS Lumajang, ”Sudah meninggal orang itu”.

Waktu tak terasa berlalu. Aku bosan dengan gerak jalan yang itu-itu saja. Teman-teman satu sekolahku sepertinya sudah jalan duluan. Aku mengalihkan pada kegiatan lain yang menyenangkan. Bermain bola. Capek. Kemudian ke kantin beli makan berat. Harga pecel jaman SD dulu adalah 1.000 rupiah. Sudah dapat sayur, bumbu pecel, tempe, lengkap dengan telur setengah.

Siang begitu terik. Aku menikmati makanan di pojok sekolah. Ada tempat penjual yang dilengkapi oleh atap terpal. Masih panas sih, tapi angin lumayan kencang berhembus. Bersamaan dengan debu tentunya.

Tiba-tiba, Dwi, siswi sekelas yang juga saudara denganku, menghampiriku. Tak biasa dia dengan gugup menyapaku duluan. Biasa, saudara, bawaannya malu nyapa duluan.

Tapi hari ini beda, ada berita penting yang sepertinya ingin ia sampaikan padaku, sampai-sampai harus mencariku hingga ke relung pojok sekolah paling nyempil sekalipun.

”Mbah meninggal dunia, ayo pulang, tasmu biar ditinggal di kelas”, dengan gugup ia sampaikan itu.

Aku terdiam. Makanan aku taruh tanpa sempat menghabiskan. Buru-buru aku bayar dan pulang. Ah aku dosa besar. Tak salah lagi, orang yang ada di ambulans itu adalah nenekku sendiri. Aku mengumpati diri. Meskipun tak sanggup aku meneteskan air mata.

Aku jumpai ibuku, saudara sekandung ibu, dan anak-anak mbahku yang lain berkumpul dan meluapkan tangis yang meledak-ledak. Mata memerah dan bengkak. Air matanya hampir surut dan kering kehabisan air. Rupanya sudah lama mereka sampai di rumah.

Rumah awal sekaligus pemberhentian akhir bagi generasiku. Pinggir jalan raya yang menghubungkan Lumajang-Malang via jalur selatan. Tatkala Wartel (Warung Telekomunikasi) masih menjamur jadi sarana komunikasi paling elit. Aku sering mengerjai toko-toko, lembaga pemerintah, kantor polisi, gereja, dan lembaga pendidikan atau bahkan telpon rumah orang sekalipun. Saat itu tutup, dan tergenangi oleh deru kesedihan yang membanjir.

Entah aku harus malu atau sedih.

Detik-detik akhir bersenda gurau dengan beliau

Baru kemarin rasanya. Hari minggu, aku biasanya mengunjungi nenek. Bermain bersama adik kandung dan adik keponakanku. Main petak umpet. Bersembunyi dibalik tembok pagar pekarangan orang. ”Le, tollee.. Ono ndi? Tulung pijeti mbah..”, mbah mencari-cari kami bertiga, anak-anak bandel, yang sulit untuk menuruti perintah orang tua.

Bingung dimana batang hidungnya, mbahku akhirnya masuk lagi kerumah. Sempat ketahuan aku bersin, untung tidak kelihatan. Akhirnya kami lanjut bermain. Dosa besar keduaku.

Angsle dan pecel untuk anak sekolah

Padahal ketika berangkat sekolah, aku kadang mampir ke Wartel untuk makan angsle gratis yang biasanya dijual untuk anak SMP (kebetulan rumahnya berhimpitan dengan SMP Negeri 1 Tempeh, sekolah favorit di Kecamatan). Harganya sangat murah seribu rupiah. Plus kalau lagi lapar pulang sekolah, makan pecel seharga dua ribu rupiah. Aku suka sekali masakan mbahku. Khas di lidah.

Di saat-saat tertentu aku mengunjunginya ketika sedang di dapur. Duduk dengan begitu sesak. Maklum ukuran tubuhnya jumbo. Beliau sedang mengelupasi kacang dengan air dan cowek atau cobek. Ah aku kangen senyumannya ketika dengan jailnya aku memakan kacang mentah itu. Kemudian di deder pakai tempeh untuk menghilangkan kotoran. Dijual sebagai kacang klontok atau tambahan bahan untuk angsle dan pecel. Semua handmade dan sangat enak. Pecel terenak dan diwariskan pada budhe-ku.

Cita-cita yang tak sampai

Masa telah berlalu. Waktu telah berganti. Silih gugur satu persatu. Aku melangkahkan kaki dengan berat menuju tempat pembaringan terakhir. Membawa bunga untuk taburan pengharum di kuburan sana.

Aku tahu di dalam sana sangat gelap dan seram. Banyak rayap dan semut. Malaikat datang menanyakan perbuatan selama di bumi. Aku sedih keluargaku menghadapinya sendiri. Tapi apa daya, aku tak banyak bisa membantu selain hanya melalui sambungan tali batin dan doa.

Satu lagi yang aku ingat tentang nenek ku pejuangku adalah tentang mengobarkan api silaturahmi. Bukan untuk membakar, tapi menyambung sehingga kehangatannya terjaga abadi. Mbahku adalah pencetus adanya haul dan reuni keluarga Bani Jamil (buyut saya).

Sekarang sudah kali ke sepuluh lebih mungkin. Mulai dari sisa 4 bersaudara dari letting Mbahku hingga kini tinggal 1 yang bertahan. Usianya mencapai 80an. Masih sehat, bugar, memimpin sholat di mushola milik sendiri. Meski tak lagi menjadi guru ngaji lagi, tapi kalau baca al-qur’an masih lancar tanpa pakai kacamata. Subhanallah..

Sayang, Allah punya rencana lain. Sebelum dia menikmati realisasi keindahan dari perkumpulan keturunan Bani Jamil hadir dalam satu terpal, beliau, nenekku, sudah dipanggil Allah. Aku yakin, beliau sudah lulus menjadi manusia, sehingga Allah kangen terhadap hambanya yang patuh dan taat pada agama untuk bersanding dihadapanya.

Keistiqomahan dan ketegaran hati dalam berjuang di jalan Allah

Beliau yang mengobrak-abrik dan menggedor-gedor pintu anak bungsunya yang sangat sulit diajak sholat shubuh. Sebelum beliau sholat, tak lupa membangunkan anak-anaknya. Dua anak yang paling akhir, belum nikah waktu itu, masih tinggal bersamanya. Setelah ia sholat, membangunkan lagi. Si anak, yang tak lain adalah omku sendiri, masih tak bangun-bangun. Malah sangat murka, memarahi mbahku. Meski keistiqomahan mbahku belum membuahkan hasil, setidaknya ia pernah berusaha keras dan tidak membiarkan anak-anaknya nyasar dan tersesat.

Di umur lebih dari 60 tahun. Aku tak tahu pastinya, dia masih tegak berdiri untuk menunaikan sholat lima waktu secara tepat waktu. Dan ketika kesehatannya menurun, ia tetap berusaha mengambil air wudhu dan sholat dengan posisi duduk. Karena berdiri saja sudah susah.

Pernah sekali waktu darah tinggi kumat, andalannya adalah daun dan buah apukat yang di jus. Apukat banyak tumbuh di gereja tepat di samping rumah nenekku itu. Jadilah tinggal mohon ijin ke penjaga gereja yang sudah akrab, kemudian ambil. Langsung sehat lagi.

Apukat kesukaan

Aku suka apukat. Baik dia dimakan sebagai buah atau pun jus. Dulu ketika anak-anak, aku sering meminta dibelikan apukat untuk langsung dikonsumsi. Tentunya ditambah dengan gula pasir. Begitu enak.

Jus juga demikian. Karena kalau tidak diberi gula, rasanya pahit.

Aku suka apukat karena gen dari nenekku ini.

Sebelum meninggal nenekku memang agak sering terkena stroke. Dan puncaknya menjelang kematiannya, jus apukat tak sempat dibuat. Dan kalau pun sempat tak mungkin mempan karena Allah telah menakdirkan itulah hari dimana ia kembali.

Argh.. banyak yang aku teladani dari beliau. Sayang, dulu aku masih kecil, tak sempat mendengarkan kisah jaman dulu yang tentu saja sangat kaya dimiliki oleh nenekku. Aku terlalu lugu dan cengengesan di waktu-waktu genting kepulangan mbahku.

Semoga Mbah tetap dalam kasih sayang Allah..

Aamiin..

Al-fatihah…

Tulisan kedua tentang pakdeku

Advertisements

2 thoughts on “Mbah, aku rindu..

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s