Pak dhe-ku, Pahlawanku

Tulisan kedua dalam rangka mengulas ulang ingatan tentang orang terdahulu yang pernah mampir dihidupku kemudian telah pergi dulu untuk selamanya.

Dibanding dengan mbah, aku masih nututi banyak waktu bersama pak de. Dia adalah pengasuhku ketika kecil. Kala orang tuaku sibuk dengan pekerjaan mereka sebagai Guru, pak dhe dan bu dhe lah yang menemaniku di rumah.

Pun ketika aku sudah sekolah. SD dan SMP sepulang sekolah sering mampir ke rumah bu dhe. Makan siang, ya aktivitas layaknya di rumah sendiri. Nonton TV dan main bersama teman-teman.

Juru masak

Masakan bu dhe lah dulu yang paling banyak memenuhi usus dan perutku. Beliau adalah juru masak di rumahku. Ibuku belum sangat mahir dalam urusan dapur. Tapi salutku pada ibuku adalah ketekunannya dalam menjadi ibu rumah tangga yang baik setelah menikah. Oke masih belum jago masak, tapi dia mau belajar dan sekarang jadi koki yang masakannya paling enak di lidahku.

15 tahun setelah orang tua menikah adalah saat-saat aku hadir ditengah tengah mereka. Masakan utama adalah tetap dari budhe. Ibuku hanya menyiapkan minum teh hangat dan nasi saja. Lauk pauk dan sayur sudah ditentukan berdasarkan hari. Enak-enak memang.

Setiap hari sepulang sekolah, aku mampir ke rumah budhe untuk mengambil lauk dan sayur. Rumahnya tak jauh dari rumahku. Hanya selemparan batu. Kalau lagi jalan membawa makanan, selalu ada tetangga yang ngaca-ngaca agar dihampiri dan makan bersama.

”Enake rek.. Mampir sini dulu lah”, kata ibu-ibu tetangga sebelah

Aku hanya tersenyum. Buru buru kaki melangkah pulang. Perut sudah berontak ingin makan.

Hari-hari di rumah kolon (merujuk pada rumah pakde)

Pada saat-saat itulah aku banyak ketemu dengan pak dhe. Setelah sholat dan makan siang, dengan gegap gempita aku keluar rumah. Main, kadang main bola, ketapel, egrang, gerobak sodor, thek thekan, kelereng, main karet, dan bom boman pakai gumpalan tanah dan benteng dari dedaunan dan ranting bambu. Kadang ke sungai, mandi hingga maghrib tiba. Kadang lupa sholat asyar karena nyari ular hingga ke sawah desa seberang. Ah masa kecilku.

Yang jelas jarang di rumah. Rumah utamaku sebenarnya ya rumah budhe itu. Disana aku diberi kebebasan untuk nonton TV, main komputer. Masku, yang tak lain adalah anak dari pakdeku adalah ahli komputer, jadilah aku main game lama disana. Hasrat ingin tahu dan ingin bisa komputer saat SD dulu sangat memuncak. Laptop belum banyak tersebar. Monitor dan CPU komputer begitu besar.

Selain itu di belakang rumah ada pekarangan. Pak dhe mengajakku kebelakang. Melihat sayur mayur yang ditanam di belakang rumah. Kadang kalau lagi ada musim pisang, dan ada pisang atau pepaya yang menguning, aku dan pakdhe ku lah yang memanennya.

Lahan sempit di belakang rumahnya benar-benar digarapnya. Beliau adalah pekerja keras dan kasar. Menjadi pembantu atau tukang kebon di SD-ku. Kemudian pengangkatan PNS dan ditempatkan di SD lain. Rada dilema, aku jadi jauh dengan pakdheku. Disisi lain juga menyenangkan, kalau hari minggu, dan ingin bersih-bersih, kadang aku diajak ke SD dimana ia bekerja. Sesuatu yang spesial menurutku.

Pak dhe adalah pahlawan yang hebat

Di rumah, ia tak bisa diam. Ia selalu mengerjakan apapun yang ia bisa lakukan. Dia adalah tukang bangunan yang handal. Punya perlengkapan dan perkakas untuk mebangun rumah, seperti tang, cetok, pacul, sekrop, gergaji besi, gergaji kayu, gergaji kaca, palu, thothok, paku, kunci pas, kunci L, lem, cat, kuas, arit, dan perlengkapan lainnya. Semua peralatan itu disimpan dalam suatu kotak kayu yang ergonomis dan dibuat handmade olehnya sendiri plus gembok yang reliabilitynya tinggi.

Dia kreatif. Jika ada pekerjaan ketrampilan di sekolah, aku selalu minta saran dan masukan dari pakdhe. Kadang juga dia yang membikinkan. Misalnnya bikin aquarium ketika SMA dulu dan bikin topeng ketika SD.

Surat untuk pakdhe

Aku ingin ungkapkan sekarang pada beliau, bahwa aku tak tega membiarkanmu sendiri di alam barzah. ”Air mataku meleleh kalau ingat tentangmu, pakdhe”.

Ilmu yang aku ingat, teknik mencangkok ketika ujian ketrampilan di SD dulu. Pohon kelampok hasil cangkokan kita dulu masih ada lho pak sampai sekarang. Dia rimun dan menyuburkan makhluk disekitarnya. Buahnya lebat. Anak kecil suka manjat dan berebut kelampok hasil cangkokan kita dulu.

Kemudian nasehatmu tentang sholat tepat waktu, berjamaah di mushola juga masih kuingat. Betapa beratnya aku rasa sekarang. Engkau telah melampaui banyak hal sehingga kau mampu melangkahkan kaki menyeru pada sekitar untuk sholat di mushola. Shubuh hingga isya’. Kau adalah ta’mir mushola yang tak tergantikan. Aku yang kau kader untuk jadi penerus, gagal ditengah jalan.

Kebodohan dan dosa besarku

Ah betapa nista aku ini. Kala beliau sakit keras, aku dengan enteng bilang, ”besok pasti sembuh”. Pak de ku memang begitu. Kalau diberi nasehat untuk tidak makan daging, sate, dan kacang selalu keras kepala. Ujung-ujungnya darah tinggi, asam urat naik. Pincang dan efek samping lain kolesterol tinggi.

Pada puncaknya, dia di rawat di Rumah sakit bhayangkara. Aku ingat betul itu adalah hari kamis. Aku dengan sangat polos dan lugu ketika kalau tidak salah kelas 1 SMA dulu, mengantarkan budhe yang bergantian dengan anak-anak berjaga di rumah sakit.

Aku mengantar budhe ke rumah sakit.

”Nggak njenguk pakdhe, le?”, kata budhe.

Dengan begitu tolol dan bodohnya aku bilang, ”aku ada acara dhe, mau ke warnet”.

Padahal waktu itu aku mau main game. Dosa macam apalagi ini, ya Allah.

Main game 2 jam berlalu. Aku sangat menikmati waktu itu ada teman gamers yang menanti.

Dan keesokan harinya, hari jum’at, seusai sholat shubuh, ibuku dapat telefon dari salah satu anaknya, namanya iwan, dengan terisak tangis mengabari bahwa pak dhe telah tiada. Aku disamping ibu mbrebes mili. Mendengar kata yang keluar dari anaknya tak jelas. Telah dibalut duka yang mendalam.

Sampai saat itu aku berusaha tegar. Seolah tak percaya, aku mengangkati kursi di rumah pakde dimana aku dulu main dan bercanda dengan janggut pakde disana. Kursi itu, tempat dimana aku menginjak-injak (semacam pijat) pakdhe, yang ngeluh kakinya sakit. Kursi itu akhirnya aku singkirkan untuk menyambut kedatangan jasad pakdhe-ku, yang aku cintai itu.

Ah betapa berdosanya aku. Dan dosa itu aku tebus dengan sejumput ayat Al-qur’an bersama ledakan air mata ketika mayat pakdhe ada di depanku. Jadi, sampai saat terakhirnya aku tidak bisa melihat wajah beliau. Yang ada hanyalah tali batin, nasihat baik dari beliau yang selalu aku simpan rapat dalam ingatan.

Betapa aku kehilangan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Semoga pakdhe tenang di alam sana.

Aamiin..

Al-fatihah..

Tulisan tentang orang kedua, mbahku.

Advertisements

2 thoughts on “Pak dhe-ku, Pahlawanku

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s