Transformasi Kantor Pos – Wartel – Warnet – Warkop Free Wifi

History telekomunikasi di Indonesia

Based on own story

Dulu telepon genggam belum umum digunakan. Jarang. Bahkan jadi barang elit. Kisaran tahun 2000-2006 ketika jaringan telepon rumah berkabel populer digunakan. Kabel tembaga yang sebesar jari kelingking, biasanya warna abu-abu itu. Kabel itu nyambung ke seluruh dunia dan menggantikan peran yang sulit untuk Tukang Pos. Kabel telah menggeser surat-menyurat sebagai alat komunikasi

Telkom adalah perusahaan milik negara yang menjadi satu-satunya pemegang gerbang monopoli terhadap bisnis ini. Setiap rumah pasang telepon. Tak terkecuali rumahku.

Tapi, yang lebih ku suka adalah nelpon di Wartel (Warung Telekomunikasi). Disana disediakan buku telpon yang ter-update setiap tahun. Banyak daftar nomor disana, nomor lembaga pemerintah, puskesmas, rumah sakit, tempat ibadah, gereja, masjid, lembaga pendidikan, perusahaan, dan seluruh pengguna telpon rumah seluruh indonesia. Pengelompokan lembaga itu berdasarkan bidang dan orientasinya, sedangkan pengguna telepon rumah diurutkan berdasarkan abjad.

Banyak orang berbondong-bondong kesana. Menghubungi sanak famili di luar kota, di luar pulau, hingga di luar negeri baik yang naik haji atau menjadi TKI. Mereka bisa nelpon dengan durasi bermenit-menit, dengan harga yang tak murah. Demi terjalinnya komunikasi dan bisnis, mereka melakukannya. Tapi tak jarang pula yang menggunakan akses telepon di Wartel untuk menjaili orang lain. Aku dan teman-temanku adalah contohnya.

Sangat mudah menghubungi orang yang tak dikenal. Nomor kita tersebar disetiap buku telpon yang dibikin oleh Telkom, biasanya disponsori oleh Yellow pages dan banyak iklan kecil mirip koran lainnya.

Melihat satu per satu nama orang, dan lembaga-lembaga pemerintah. Nelpon di Wartel, dan menggoda jika penerimanya cewek. Sekecil itu tabiatku sudah sebobrok itu. Pulang sekolah ketika SD dulu selalu menyempatkan telpon Primagama untuk daftar kursus. Padahal intrik saja agar bisa ngobrol sama admin cewek yang suaranya merdu itu. Kok begini amat ya masa kecilku?

Pencet nomor telpon, muncul dilayar. Dan harga nelpon pun juga terpampang dilayar bebarengan dengan mulainya pembicaraan / diterimanya telpon kita. Kadang habis 500 hingga 1000 rupiah. Bergantian dengan teman-teman lain. Bisa langsung dipencet mati ketika yang harus dibayar sudah nggak cukup. Kadang hutang, penjaga Wartel tak lain adalah tanteku sendiri. Jadi tak masalah.

Secuplik kisah dulu. Mas Robi adalah lulusan peruguruan tinggi elit di Malang dengan jurusan Sastra Inggris. Dia jago komputer. Dia lah yang menjadi penggerak teknis terbangunnya jaringan Wartel di rumahku dulu. Pak dhe Imam adalah supporter dan penggerak dana di belakangnya. Dia, masku, mengubah teras rumah menjadi bilik yang tersekat oleh triplek. Dilapisi oleh karpet warna hijau. Sebuah kursi dan meja yang tersambung dengan sekat tembok. Ada satu pesawat telepon lengkap dengan monitor yang mencantumkan durasi dan harga yang harus dibayar.

Dia berkolaborasi dengan teman sejawat untuk menciptakan sistem di komputernya. Keren kan? Dengan bantuan telkom sebagai penyedia jasa tentunya.

Penghasilannya dari itu lumayan. Bersih dapat 200.000 per bulan. Masih dapat menggaji karyawan yang menjaganya sebanyak 60.000 per bulan. Uang segitu pada tahun 2000an sudah cukup mewah. Kalau lagi rame, bisa setor ke Telkom hingga 2juta per bulan. Tapi mulai tenggelam ke angka ratusan ribu ketika mulai banyak telpon rumah dan telepon genggam pada akhir tahun 2008. Fyi, Wartel di tempatku tutup sekitar tahu 2008 juga.

Lanjut mengenai kejailan yang aku lakukan di Wartel

Sungguh jail. Iuran untuk menggoda dan meneror orang lain. Terutama lawan agama. Dulu pikiranku juga hampir sama dengan warga sekitar yang menutup diri dengan fanatisme golongan. Dan itu perlahan terkikis ketika belajar di kota besar, melihat keragaman yang lebih mengena sehingga pikiran lebih terbuka.

Uang jajan ditabung, untuk nelpon di Wartel. Belum punya pacar waktu itu. Terakhir pakai sekitar menjelang kelas 2 SMP atau sekitar tahun 2008. Hingga akhirnya di rumah pun pasang telpon. Aku makin ganas meneror. Dan kelas 3 SMP aku punya pacar. Kadang tagihan akhir bulan telpon melonjak gara-gara aku telpon ke handphone cinta. Aku lah yang kena marah karena history nomor yang ditelpon dapat ditelusuri.

Ah itu cinta monyet. Handphone mulai familiar sekitar kelas 3 SMP. Dan telpon rumah akhirnya jarang dipakai. Kemudian habis tagihan karena penggunaan internet speedy untuk keperluan game ketika kelas 1 SMA. Ketika itu tahun 2009, kabel LAN merajai pasar. Dinasti kabel tembaga telah runtuh, meskipun belum benar-benar punah. Dan akan 100% punah ketika kabel fiber dengan kecepatan super keren itu dapat menggantikan kabel tembaga.

Dan tepat pada waktu kelas 2 SMA, telpon rumah akhirnya diputus.

Bersamaan dengan itu, Telkom mengalami kejatuhan. Kabel yang ditanam dibawah laut terputus. Di kala, handphone mulai ramai dipakai, Telkom mengalami kemerosotan derastis karena banyak faktor tersebut.

Dan aku beralih ke dunia internet dan game online di Warnet (Warung Internet). Pada tahun 2010, penggunaan internet begitu membludak. Setelah 2 tahun terakhir mengalami kemandekan perkembangan karena sinyal HPRS dan GPRS hape saat itu sangat lambat untuk digunakan untuk mejelajah dunia. Jumlah Warnet yang hadir di Kabupaten lumajang kala itu bisa dihitung dengan jari. Tak ada 5 buah pada awal 2008.

Koneksi LAN (Local Area Network) menjadi teknologi yang paling banyak digunakan. Kecepatannya lumayan, dan dapat dibagi untuk beberapa device tergantung banyak bandwidth yang dipesan. Warnet-warnet terus tumbuh. Pengunjungnya tak pernah sepi. Muda mudi, tua rempong pun datang ke Warnet. Itu terjadi pada tahun 2010.

Warnet bertahan tak lama hingga Tahun 2012. Ketika wabah smartphone meraja lela membawa teknologi jaringan internet tanpa kabel wifi. Warnet mulai turun intensitasnya. Tergantikan oleh hape. Teknologi 3G sudah elit waktu itu. Kemudian disalip oleh H+ atau 3.5G yang muncul 2014. Dan terakhir 4G pada tahun 2015 akhir.

Internet pakai hape memiliki kelemahan. Kecepatan boleh sampai 150MB/dtk tapi kalau daya beli masyarakat rendah terhadap kuota internet maka akan sama saja. Tak banyak menguntungkan para developer. Akhirnya muncul lah ide Warkop, Mall, Tempat Makan, Taman jalan berkonsep free wifi. Spot-spot area berkoneksi dengan dunia diperbanyak hingga suatu saat lagi, disemua sisi bumi telah terpasang Internet dan kita dapat terhubung dengan orang di seluruh dunia dengan sekali pencet. Dan puncaknya realtime, artinya video HD saat ini dapat disaksikan oleh orag lain di belahan lain dunia yang berbeda sekalipun dalam waktu yang sama.

Hari ini, surat menyurat adalah agenda kuno dan cerita masa lampau. Wartel telah punah ditelan jaman. Telkom terus berbenah. Speedy bertransformasi menjadi indiHome dengan serat optik andalannya yang rumornya berkecepatan melebihi semua akses wireless GSM atau sinyal handphone. Sekitar tahun 2009-2012 warnet terus menjamur memperlihatkan masif perkembangannya.

Sekarang warnet pun mulai berguguran. Warkop (Warung Kopi) dengan free wifi muncul ke permukaan menghilangkan kisah masa lalu Warnet, apalagi Wartel.

194322566_1_644x461_cari-penjaga-warkop-free-wifi-khusus-untuk-cewek-bojonegoro-kab-_rev002

Lusa, akan ada terobosan teknologi apa lagi ini?

Tak sempat aku berpikir dalam tentang sebuah teknologi, malah teknologi lain telah muncul dan berkembang pesat. Betul kata Pak Presiden Jokowi, ”Teknologi berkembang sedemikian pesat hingga kita tak sanggup bahkan untuk mempersiapkan regulasi tentang teknologi tersebut”

Kita telah jebol dan terseret banjir bandang teknologi yang begitu masif geraknya.

Selamat malam.

 

Advertisements

11 thoughts on “Transformasi Kantor Pos – Wartel – Warnet – Warkop Free Wifi

  1. sama kayak ini, mas: belum sempat kenyang dibanjiri beragam aplikasi, muncul aplikasi lain yang lebih baru dan inovatif. emang, kalo di posisi konsumen selalu merasa terbanjiri 🙂

  2. Waaah saya 2009 masih wartelan. Karena belum punya hape. Baru punya hape 2013, sebelum-sebelumnya emang belum butuh, karena komunikasi waktu itu sering via Yahoo Messenger atau twitter, jadi ngandelin wifi di rumah dan sekolah (saat itu saya rajin bawa laptop ke sekolah)

    1. Iya masih inget jamannya ym, MiRC, frienster. Aku hape dulu baru main laptop. Dulu hidup ga begitu ruwet dg merawat medsos, skrg teknologi yg kita buat malah menyusahkan kita. Hiks 😂

  3. memasukkan surat ke bis surat kala itu sebanding dengan send message kini ya. Dulu mengalami terime wesel, kini transfer bisa dimonitor dengan e-banking…

  4. Wah wah wah, kalau saya sih termasuk yang lahir tahun 1998, jadi untuk wartel masih merasakan euforianya lah, tapi sejauh ini nelfon di wartel kalau nggak salah cuman 2x doang, kwkkwk

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s