Aku dan Naruto di Dunia Nyataku

Aku benar-benar punya teman yang bertekad keras seperti Naruto. Dan juga menjadi rival untuk segala aspek dalam hidupku.

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

Ketika dulu aku duduk di SMA, aku sering basket. Sebenarnya sudah kumulai sejak SMP. Tetapi tidak semaniak waktu itu.

Dan dalam menjalani hobi yang setiap sore aku telateni itu. Aku punya teman, skill basketnya tak terlalu bagus. Orangnya kaku dan sulit untuk bergerak cepat (red: lincah). Tetapi powernya tinggi. Seperti bara rubah yang tak hentinya mengalirkan chakra untuk Naruto.

Dalam berbagai segi dan sendi-sendi bidang basket, aku lebih unggul dari dia. Dalam berbagai hal. Dribling, shooting, rebounding. Aku jauh meninggalkannya. Aku telah lebih dulu menekuni hobi ini. Sedangkan dia masih amatir.

Aku selalu sombong dengan apa yang aku punya. Aku mengejeknya, ”kamu tidak akan menang melawanku”. Berkali-kali aku tegaskan itu padanya. Tapi memang dasar tekad keras batu, dia tak menghiraukan bentuk intimidasiku.

”Tidak bisa aku menyerah begitu saja”, jelasnya.

Dia malah semakin bersemangat untuk menantang duel 1 lapangan basket. Siang-siang bolong aku ladeni dia. Sepulang sekolah, jam 2 siang, kami kobarkan perang di tengah lapangan yang terik itu. Kita bertaruh, yang kalah menggendong satu putaran lapangan. Begitu setiap harinya. Seiring berjalannya hari semakin tinggi pula taruhannya. Hingga 10 hari berturut-turut.

Di sela-sela bermain, kita terus beradu argumen. Persis dengan pertarungan Sasuke Naruto. Dimana prinsip saling diadu. Tak ada kata mengalah.

Dan tentu saja, dibanyak hal aku lebih diuntungkan. Lebih tinggi dan lebih lincah adalah modal utamaku. Permainan, strategi, dan taktik aku rencanakan matang-matang. Aku pikir terlebih dahulu kapan maju dan pura-pura lemah. Tentu kemenangan dari hari ke hari aku kantongi dengan mudah. Lha dia mainnya pakai power fisik saja, nggak pake otak.

Hingga suatu hari di hari ke tujuh dimana meja judi telah ditata. Aku kalah, aku terlempar dan terjembab di lubang yang dalam. Dan giliranku menggendong 7 kali putaran.

Tapi hingga hari ke sepuluh, aku mengulang kemenangan lagi. Dari sepuluh kali pertandingan, aku kalah 1 kali saja.

Sering juga main three poin. Kalah push up. Hingga tangan serasa putus. Dia tentu saja kalah. Dan kemampuan shooting-ku semakin baik. Kadang saking seringnya berlatih keras untuk kontes three poin, ketika main three on three, aku melepaskan tembakan 10 kali dari jarak outter three poin line, dan semua masuk. Hingga teman yang lain merasa nggumun dan aku ditinggal ngopi. Aku haus pengakuan. Meskipun sekarang sudah tak seperti itu lagi.

Tak hanya basket. Hobi lain pun demikian. Dia tak kenal lelah. Tak pernah menyerah. Bersepeda contohnya, jelas aku lebih diuntungkan lagi. Aku telah bersepeda kemana-mana. Ikut club sepeda dan latihan setiap sore menuju barat kotaku yang terkenal dengan tanjakan menuju ke Gunung tertinggi di Jawa, yaitu Semeru.

Aku ajaki dia bersepeda kemana-mana. Dan tentu saja dia kalah. Aku ejek cupu, lemah dan lain sebagainya. Sebernarnya kalimat merendahkan itu aku anggap sebagai pressure untuk mengobarkan semangatnya. Salah satu caraku untuk memotivasi orang adalah dengan membodohkan-nya. Biar dia cepat sadar bahwa dia bodoh dan berusaha menyalipku.

Dia tak menyerah juga. Prinsipnya, ”Allah tidak akan menguji umatnya melebihi kemampuan umatnya”

Dalam dunia pendidikan juga. Aku lebih cerdas (licik) dari dia. Tetapi dia tidak mau berhenti belajar. Meskipun selalu aku marahi ketika dia tanya kepadaku tentang fisika misalnya. Lah dia yang kuliah fisika kok tanya ke aku yang kuliah besi. Harusnya dia yang menceramahiku tentang teori kuantum, ya kan?

Kita memang rival. Tetapi dalam hati yang terdalam aku masih punya rasa yang tidak tega padanya. Dia seorang piatu. Dia hidup atas kemauan sendiri. Keluarga pas-pasan, tidak ada dukungan. Aku selalu menguatkan langkahnya, memberikan input-an positif. Dan sesekali menantang untuk adu hebat, adu kuat, dan adu mental.

Kita sama-sama gila. Tetapi menurutku lebih gila dia. Dia Naruto Dunia Nyataku dengan segela kegoblokan dan kegilaanya. Aku rada gila tapi sok cool dan sok keren (jaga image). Dan seperti Sasuke, aku selalu memarahinya, mengejeknya, menyalahkannya. Aku kasar padanya. Aku kadang merasa jengkel karena ”kenapa kamu nggak menyerah saja, dan mengakui bahwa aku lebih hebat darimu”

”Aku tak bisa melakukan itu”, terangnya lagi.

Dia memperlakukanku sebagai teman baik. Meskipun ia tau, aku tak menganggapnya apa-apa. Bahkan ketika touring kemana-mana, aku sering kali meninggalkannya sendirian, menggoblok-kannya, dan meninggalkan dalam kesulitan sekalipun karena saking kesalnya aku kepadanya.

Bedanya, aku tidak berniat untuk membunuh Naruto. Dalam setiap kompetisi dan perlombaan, kita saling melaju dengan jujur dan sportif. Dan kita saling memahami posisi masing-masing. Dan bergerak dalam ruang yang saling mengisi.

Kita memang jarang ketemu, tetapi sekali ketemu Chemistry langsung menyatu. Tanpa perlu rencana ini itu. Langsung klop, ketemu dan ngobrol. Kadang bisa ngobrol dari sore hingga malam. Malam hingga pagi. Tak terasa saking nyamannya. Ketika bermain basket dalam satu team, kita bekerja sama dengan sangat kompak. Mengoper bola dengan sangat rapi. Terkesan sering bersama dan mengerti kelebihan kekurangan masing masing. Kebiasaan bagaimana dan lain sebagainya. Meskipun ketika menjadi lawan dalam team atau duel basket, kita tetap membara untuk saling menumpas satu dengan yang lain.

Tetapi yang jelas, meskipun kita bukan saudara, aku menganggapnya lebih dari teman. Dia sahabatku satu-satunya. Meskipun aku tahu, dia memiliki sahabat yang lain di luar. Aku tak punya teman selain dia. Sedangkan dia dikerumuni banyak teman. Hidupnya adalah temannya itu sendiri. Dalam ruang hatinya hanya ada orang lain. Bagaimana bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan di dalam hatiku, ada kekuatan dan kemampuanku sendiri. Sampai aku merasa telah banyak mendzalimi diri sendiri dengan berpegang teguh pada diri. Sampai menganggap diri sendiri lah yang mengeluarkan daya. Aku telah banyak menuhankan diri sendiri. Naudzubillah. Semoga Allah memberikan kekuatan untuk mengembalikan aku di jalan yang benar.

Bahwa laa haula wa laa kuwwata illa billah.

Tiada daya selain dari Allah. Apapun yang telah, sedang, atau akan terjadi adalah rencana Allah. Tidak ada kekuatan dari diri kita untuk merubah ketentuan itu. Kita hanya bisa meminjam kekuatan dari Allah untuk berusaha agar kedepan lebih baik, meskipun Allah sudah tahu bahwa kita akan baik atau buruk.

Sekian

Terima kasih

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s