Jakarta Gemerlap Dunia: Sebuah Sikap terhadap Sistem Ekonomi

Jam 20.30 WIB. Aku buka pintu kamar 211, San Francisco dengan malas. Perjalanan dari kantor ke apartemen tak jauh memang. Tapi entah apa yang menyebabkan waktu terasa melambat. Padat merayap menurunkan detak jantung.

Jakarta ketika malam hari (sumber gambar)
Jakarta ketika malam hari
(sumber gambar)

Aku melempar diri diatas sofa. Memencet tombol on pada remote untuk TV sebagai penghibur. Jiwa, raga, dan pikiran sudah letih. Saatnya rebahan.

Kebetulan ada teman tidur untuk malam ini. Dia rekan kerja di perusahaan yang sama. Jauh dari jawa timur datang ke ibukota untuk nyeles – menawarkan barang untuk dijual. Suka banget nonton TV. Acaranya berita terkini nasional. Breaking news proses pengadilan kasus kopi bersianida. Ritme menggebu dan panas. Kita berdua hanya melongo. Entah apa yang lagi dipikirkan temanku. Dia terlalu lelah mungkin.

Terbesit, “Lelah ini masih harus ditimpa lagi dengan sejuta problematika politik di indonesia” Hadeh..

Jam 21.30 WIB. Tak terasa. Hilanglah satu jam atau dua jam hanya untuk bersih diri, beribadah, dan makan malam. Kali ini waktu begitu cepat terkuras oleh gaya santai ala orang Jawa Timur yang melekat pada diri.

Malam makin menggrurita. Pukul 22.30 WIB. Jakarta tak menurunkan intensitas lalu lintasnya. Ya inilah jakarta. Tempat perputaran uang sangat tinggi. Cocok untuk mencari harta. Pekerjaan tiada habisnya. Sayang, disini sudah tak cocok untuk hidup. Kotak-kotak rumah susun, apartemen, rumah berpagar melebihi atapnya seolah menjadi pembatas dengan orang lain dipinggir kali yang tak bernasib sebaik yang lain. Sesak. Orang-orang berkompetisi untuk mendapatkan ruang bernafas yang lebih banyak.

Spekulasi para Bankir

Kesenjangan ada dimana-mana. Faktornya ada banyak, misalnya masyarakat yang kurang terdidik, niat dan motivasi hidup lebih baik tidak ada, kebijakan pemerintah tak berpihak pada rakyat kecil, dan halusinasi tentang hidup mewah penuh gemerlap hedonism dan kematerian dunia yang ditawarkan di kota-kota besar.

Satu diantara faktor riil itu adalah buah dari penciptaan uang kertas. Mereka para bankir tetap bisa hidup dan berdiri gagah dengan seolah-olah berbaik hati memberikan nilai bunga (nilai lebih) pada orang berpunya, dan memeras habis orang yang tak punya dengan metode bunga yang mencekik. Nilai bunga peminjam (hutang) selalu jauh lebih tinggi daripada bunga bagi pendeposit (tabungan). Nilai bunga tabungan dan utang itulah sebenarnya ukuran jarak yang diharapkan tercipta antara Si Kaya dan Si Miskin. Bunga bank tak lain adalah spekulasi para Bankir untuk menciptakan daya beli dari ketiadaan.

Daya Beli Masyarakat

Utang uang adalah monopoli jitu untuk menjajah kekayaan tanpa terendus oleh orang pintar sekalipun. Dengan uang pinjaman, seolah kita telah bisa membeli apa yang kita inginkan. Padahal kita lupa, kita akan mengembalikan lebih dari apa yang bisa kita beli di pasar. Sekali lagi, memang sulit memahami kesinambungan sebab akibat dari keruwetan system bank ini.

Yuk kita simulasikan! Kita bekerja di perusahaan berkapital tinggi. Dia dapat kapital dari utang ke bank. Dan untuk meningkatkan kekayaan utang terus menjerat. Dan kita karyawan akan dibayar selalu lebih rendah daripada harga barang / jasa sesungguhnya. Sedangkan karyawan terus dituntut untuk produktif, efisien, dan efektif dalam bekerja agar dapat memenuhi target produksi. Untuk itu kita beli produk dari apa yang kita produksi tadi.

Untuk mempermudah ilustrasi ini. Aku sekarang bekerja di pabrik komponen otomotif. Produkku ku jual ke perusahaan perakitan mobil. Harga jual komponen produk pabrikku pasti lebih tinggi daripada gajiku karena selisihnya dinilai sebagai laba oleh owner pabrik dimana aku bekerja. Laba itu yang digunakan untuk melunasi utang owner di bank dan sekaligus memberi pundi2 kekayaan baginya sementara saja.  Kalau perusahaan bangkrut, misalnya bensin habis, perusahaan motor mobil tutup, aku yakin owner pabrikku bisa bunuh diri karena lilitan hutang atau malah karena apa yang dia tumpuk saat ini tiada lagi berharga.

Dalam bekerja, aku selalu ditekan untuk selalu lebih produktif dan efisien untuk meningkatkan untung bisnis ini. Untuk memenuhi tuntutan itu, aku harus cepat. Aku harus beli motor. Tren dan kebutuhan itu memaksaku untuk beli mobil. Barang yg secara tidak langsung aku buat. Dan daya beliku selalu lebih rendah daripada gajiku. Aku hutang, dan aku terlilit olehnya. Atau kalaupun aku terlalu kaya dan tidak hutang aku bakal tergantung oleh bensin. Sedangkan harga bensin pun dimonopoli oleh elit politik dan ekonom kelas dunia. Belum lagi rumah. Cicilannya selalu tinggi dan sangat lama. Bertahun tahun. Aku sampai tak bisa membayangkan, yakinkah aku masih hidup tatkala cicilan rumah itu selesai. Keterikatan itu mutlak, aku dituntut terus bekerja karena tak punya pilihan, karena kalau tidak rumah akan dicabut, anak istri makan batu? Lalu kapan aku bisa menikmati hasil jerih payahku?

Kita bekerja banting tulang, lupa diri untuk mengejar digit angka di bank. Digit angka yang sungguh tidak aman. Digit angka yang kita anggap bisa mengubah segalanya, menghidupi diri, dan membeli materi. Padahal nilainya ditentukan oleh bursa efek, ekspor impor, dan stabilitas negara. Digit angka yang hanya ada diangan angan. Merasa aman karena telah dijamin oleh pemegang kekuasaan. Sampai lupa bahwa pemegang kekuasaan bisa saja hancur, karena dia manusia, selicik apapun dia bakal ketahuan juga.

Konsolidasi Bankir dan Pemerintah

Mereka tak tahu kalau nilai uang diciptakan berdasarkan kesepakatan, undang-undang, dan takaran lain seperti tingkat inflasi di negara tersebut. Bank Sentral selaku Issuer di-back up oleh pemerintah selaku pembuat aturan di sebuah Negara. Mereka berdua menciptakan interest atau tipu daya yang menyatakan bahwa uang yang mereka bikin memiliki daya beli, ada cadangan emas, dan tentu saja dilindungi oleh undang-undang.

Padahal yuk kita coba telisik bagaimana bank bisa hidup dan menghidupi karyawannya. Tentu saja dengan mengambil selisih dari uang yang dipinjam dan uang yang dikembalikan. Missal ada peminjam 1 juta, mengembalikannya harus 1.1 juta. Seratus ribu itu digunakan bank untuk bisa tetap hidup.

Metode lain juga ada. Namanya Fractional Reserve Banking. Sebenarnya tak jauh beda dengan mekanisme bunga hutang. Bank memiliki ketentuan untuk menyimpan uang pendeposit sejumlah 4-20% saja. Selebihnya diputar untuk memberi pinjaman pada orang yang tidak punya uang. Jadi sederhananya, kalau semua orang di dunia tiba-tiba tidak percaya lagi pada bank dan menginginkan kekayaannya kembali, pasti bank akan memberikan cadangan emasnya plus rumah-rumah, aset, kekayaan riil dari para peminjam uang di bank.

Karena pada dasarnya bank hanya memiliki seperlima dari jumlah uang yang kita simpan. Karena itulah apa yang kita simpan di bank saat ini tak lain adalah rumah-rumah, aset-aset dari orang miskin yang tidak punya daya untuk mengembalikan uang. Kalau kita bersuka cita mengambil uang di tabungan, ada orang dibelahan bumi lain yang menangis, stroke, atau bahkan meninggal karena rumah, mobil, dan kekayaannya disita oleh bank. Sayangnya, kita tak pernah menyadari itu karena perputaran uang yang besar, seolah sistem bank saat ini adalah sistem yang sudah seimbang dan tanpa resiko apapun.

Satu lagi cara klasik yang memungkinkan bankir tetap hidup. Seigniorage nama kerennya. Mudahnya, bank hanya butuh ongkos produksi 100 rupiah untuk 1 lembar uang kertas yang bernilai 100.000 rupiah. Nilai 99.900 rupiah itu diciptakan berdasarkan omong kosong undang-undang, rekayasa ekonomi, dan cadangan emas yang ada. Nyatanya semua itu diciptakan berdasarkan analisis peredaran uang yang ada untuk menghindari inflasi.

Rakyat kita bagaimana?

Rakyat yang hanya punya gigi tumpul tidak bisa berbuat apa-apa. Lah lembaga perwakilan rakyat yang ada sama sekali tidak menampung aspirasi rakyat. Rakyat akhirnya menjadi kurus, kering, kerontang, kurang makan. Mereka lah menjadi pihak yang ter-dzalimi. Hasil panen beras dan hasil bumi lain kalah bersaing dipasaran karena kebijakan impor ekspor yang tak terkendali. Ada kata kiasan yang sarkas terlontar di masyarakat, ”harga pupuk lebih mahal daripada harga beras”. Kekonyolan apalagi ini?

Klise, ”kebaikan yang sendiri kalah dengan kejahatan terorganisir”. Ya konglomerasi telah nyata. Bagaimana perusahaan, pemilik modal yang lebih besar mencaplok sektor usaha yang kecil-kecil. Tujuannya tak lain adalah memperluas bidang usaha, menciptakan konglomerasi tingkat dewa, dan merajai semua aspek kehidupan. Akuisisi Nokia oleh Microsoft, Pembelian Nissan oleh Renoult, TV 7 oleh Aburizal Bakrie, dll. Mereka bahkan memiliki bank sendiri yang berkonsorsium dengan elit pemegang bank nasional agar efektivitas dana yang mengalir dapat segera berputar dan melakukan ekpansi lain yang lebih berdampak.

Inflasi dan Kondisi tak Aman

Adapun nilai inflasi sampai kapanpun tidak akan menurun karena ketidak-seimbangan jumlah uang dan barang atau jasa di lapangan. Tentu saja penyebabnya adalah pencetakan uang yang tak terkendali dan nilai bunga bank.

Lebih jauh lagi. Penetapan kurs uang terhadap mata uang asing tak lepas dari proses ekspor-impor. Jika kita ekspor lebih banyak maka uang kita lebih dihargai di mata asing. Sebaliknya demikian.

Tapi ekspor berlimpah juga tak aman. Seandainya item andalan ekspor sedang down, seperti di venezuela yang hidup masyarakatnya tergantung pada minyak, ketika harga minyak anjlok hancurlah sudah tatanan ekonomi yang dibangun sejak lama. Sekolah, bensin, transportasi, fasilitas publik tak lagi bisa disubsidi pemerintah, pemerintah tak punya cukup harta untuk melakukannya.

Ingat tentang inflasi di Hongaria? Uang dibakar dijalan jalan karena saking tak berharganya? Zimbabwe juga. Beli tempe harus membawa sekoper uang.

Pembohongan Besar

Lingkaran sistem ribawi ini juga telah menelusup sampai labirin terjauh dalam ruang ekonomi masyarakat. Sehingga mereka tak lagi mencium bau kebohongannya, karena telah biasa dan menganggap itu baik saja. Mereka tak lagi menganggap bank adalah setan, karena doktrin yang bertahap dalam waktu lama telah terpatri dalam hati manusia, bahwa bank adalah malaikatku dan uang adalah tuhanku.

Kekhawatiranku

Kredit, denda, jatuh tempo, dan nilai bunga yang makin besar setiap bulannya juga sama saja. Sama mencekiknya. Dan selama uang kertas dan koin yang tak ada harganya itu masih kita pegang, dunia akan mengalami kegelapan sampai waktu yg tak ditentukan.

Itu semua adalah sikap dan opini. Boleh anda tidak setuju. Yang jelas sejauh ini, itu yang aku pikirkan.

Ditulis di penghujung Juni.

Di sebuah kotak apartemen.

Dan dikembangkan pada Minggu, 9 Oktober 2016.

Dengan ditemani gerimis yang manis.

Advertisements

5 thoughts on “Jakarta Gemerlap Dunia: Sebuah Sikap terhadap Sistem Ekonomi

    1. Karena dimana2 banyak pendangkalan, kita harus memulai dg ulasan yg dalam2, biar kebiasaan berpikir terus diasah. Nggak kayak berita skrg yg diulas kulitnya saja terus hilang ketutup berita lain. Begitu seterusnya. Semangat. 🙋

  1. mau pindah ke emas ? emas juga hasil konsensus hahaha, mana supply nya dikit, ga mudah ditransfer dan seterusnya, yang sangat menakutkan bahkan bagi yang faham dunia finansial itu derivatif, bank Deutsche yg lagi goyang itu punya 47 triliun us dollar (panjang banget kalo dirupiahkan), orang2 di dunia finansial itu terlalu kompetitif jadi tiap saat bikin produk finansial baru yang belum kena aturan padahal high risk

    1. Nggak kok, pake apa saja yg penting harga cabe di pasar jangan tiba2 naik tajam dan suatu waktu ga ada harganya. Tomat juga kadang 1kg 30rb. Kadang dijual 1kg 2rb pun ga ada yg mau. Beras apalagi, “pupuk lbh mahal drpd beras” pertanda buruk. petani yg kerja keras begitu ga bisa hdup sedangkan para spekulator (pemain saham dan valas) tinggal diam uang mengalir.

    2. Mau pake daun, kertas, emas, apa saja yg penting keadilan terwujud dan ketimpangan sosial tidak terjadi. Hahaha yg kerja keras ya harus dapet hasil keringatnya. Yg ga berkeringat ya harusnya ga dapet apa2. Dan jangan ada yg ngira jadi petani adalah pekerjaan rendah. Tanya anak skrg, mana ada yg cita2nya jd petani? Mana ada sarjana pertanian mau pulang setelah wisuda, ambil cangkul ke sawah dan menerapkan apa yg ia pelajari selama di kampus? Tapi biar lah sudah, sampai datang suatu masa dimana orang kecele karena yg mereka tumpuk selama ini ternyata ga bisa dimakan hahah.. makan itu properti, bangunan, mobil, motor, uang kertas.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s