Sumbang Asih pada Pendidikan Negeri Ini

Hari ini (9/10/2016), bukan Hari Pendidikan Nasional. Aku lupa kapan. Tapi yang jelas, setiap hari aku berpikir tentang bagaimana pendidikan yang seharusnya. Bagaimana menjadi pribadi yang dapat memberi input positif pada pendidikan di Negeri ini. Tanpa menunggu peringatan satu hari tertentu, tanpa menunggu momentum apapun. Saat ini dan setiap hari.

Jangan patahkan harapan mereka (sumber gambar)
Untuk kejayaan pendidikan di Indonesia (sumber gambar)

Untuk dapat turut serta dalam bidang tertentu, kita harus terjun dan basah kuyup dalam bidang tersebut. Aku malah telah tenggelam dalam dunia sekolah yang identik dengan satu-satunya sarana pendidikan formal di Indonesia. Aku sekolah sudah 12 tahun lamanya. Plus merasakan menjadi seorang mahasiswa selama 3.5 tahun dengan segala beban dipundak. Boleh lah aku mengulas pengalamanku tentang itu. Aku rasa sudah cukup banyak hal yang aku dapat, aku alami dalam bingkai sekolah dan segala tetek bengeknya itu.

Pengalaman Pribadi

Oke, aku sekolah 12 tahun dan merasa belum dapat apapun yang aku pelajari. Bisa jadi aku yang tidak mengerti apa yang selama itu aku pelajari atau dari sisi yang lain bahwa yang dipelajari sama sekali tak membekas di memori.

Aku tamatan SMA unggulan di Kabupaten dimana aku tinggal. Bidangku adalah IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Nyatanya pada saat aku lulus, aku tidak tahu mengapa aku harus belajar biologi, belajar tentang klasifikasi makhluk hidup, pertumbuhan dan perkembangan hewan dan tumbuhan, organ-organ tubuh, bagaimana mekanismenya, dan eksperimen tentang fungsi bagian dalam sel, sel, jaringan, organ, sistem organ, dan organisme.

Pada prakteknya aku bingung mau apa dengan apa yang telah aku pelajari. Begitu pula kimia. Aku telah banyak belajar kimia, tetapi aku sama sekali tidak tahu reaksi kimia tertentu bermanfaat untuk apa ya? Lain dengan matematika, bahkan nilai nol tanpa ada yang bisa aku terapkan. Fisika juga demikian. Gaya gesek, torsi, beban inersia, mekanika kuantum, gelombang, cahaya.

Memberi banyak informasi tetapi minim mengasah cara berpikir. Hanya mengajarkan ini apa dan itu apa. Tanpa sedikitpun menyinggung hubungan, keterkaitan, pengaruh A terhadap B dan mengapa kalau ada A maka B bisa terbentuk. Hanya memberikan pengetahuan yang identik dengan mesin komputer untuk menjalankan roda industrialisasi. Dimana kita dicetak menjadi budak dari barang. Materialistis. Bahkan tidak sadar manusia dengan kecerdasan komples seperti ini, dalam dunia orang materialis, manusia hanyalah berperan sebagai komoditas barang, diperdagangkan, dan diperah serta diambil tenaganya seperti sapi.

Terlalu banyak informasi yang aku dapat tetapi sangat sedikit yang bisa aku terapkan. Nyatanya informasi itu tak bisa aku olah dengan baik. Daya kritisku tumpul. Aku hanya bisa banyak bicara tanpa mengerti betul apa yang aku bicarakan. Aku benar-benar kerdil dalam pengetahuanku, kemampuan menganalisaku nol. Aku hanya bisa mengutip perkataan orang tanpa bisa memberi pandangan dan sumbangan pemikiran pada dunia. Otakku tumpul tidak bisa memproduksi karya baru dan ide-ide baru. Aku hanya dicetak sebagai komentator, bukan kreator.

Menurutku, waktu 12 tahun terlalu lama kalau hanya untuk mempelajari itu semua. Cukup 6 tahun mempelajari dasar dari ilmu, cara berhitung, perkalian, aljabar praktis, trigonometri, geometri, peluang, dan aplikasinya. Kimia cukup teori atom, reaksi kimia, ikatan, termokimia, elektrokimia, dan stoikiometri aplikasi. Biologi tentang awal makhluk hidup, bagian terkecil hingga penyusunnya, bagaimana bergerak, mekanisme dapat hidup, dan keterkaitannya dengan ruang yang lebih luas. Fisika ya tentang mekanika, kuantum, dan relativitas. Yang lain lain itu nggak perlu lah ya. Bikin kurikulum yang ramping biar praktisi, guru, dan murid tidak bingung.

Padat dan cukup selama 6 tahun saja. Ibaratnya, 6 tahun awal itu adalah bekal dasar dan umum bagi seorang manusia yang akan terjun ke masyarakat. Cukup tahu agar tidak mudah dibohongi. Selebihnya digunakan untuk memperdalam ilmu yang diminati. Bisa belajar dari alam, masyarakat, dan lingkungan luar. Tidak melulu di kelas. Dan juga pemahaman terhadap agama dan akhlaq secara komprehensif. Pasti akan menghasilkan cikal bakal orang-orang sukses yang tak hanya dalam dalam berpikir tapi juga baik dalam bertindak.

Aktual lulusan kita

Sekarang coba lihat. Lulusan SMA hanya jadi pelayan di toko, pegawai kasar di pabrik, karyawan adiministrasi di perusahaan yang jauh beda dengan apa yang dipelajari di sekolah. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka linglung, tidak tahu bisa apa dengan apa yang telah dipelajari.

Bekerja tidak inline dengan bidang yang dipelajari adalah hal yang sangat bodoh, menurutku. Buat apa susah-susah belajar 12 tahun kalau hanya akan menjadi pelayan / pramusaji di warung martabak? Kenapa nggak cukup 6 tahun saja belajar dasar ilmu, kemudian mendalami bagaimana cara bisnis martabak, menemukan resep baru yang unik dan kreatif, dan mendirikan usaha dengan baik, pasti ketika pada umur yang sama dia sudah menjadi pengusaha martabak yang sukses.

Mindset orang kita

Uang dan waktu dihabiskan untuk mendalami bidang yang disuka. Bukan untuk mengejar yang tak pasti, angan-angan palsu yang ditawarkan pendidikan formal saat ini bahwa semakin tinggi kelas pendidikan seseorang akan menjamin kesuksesan.

Oh tidak begitu. Lihat saja berapa sarjana yang setelah wisuda malah menganggur dan hancur terlindas roda jaman yang begitu cepat. Mereka mahasiswa dengan segala idealisme di kampus, kini mati tertelan kenyataaan hidup yang pahit. Mereka memilih menjadi cukong-cukong yang mendukung pendudukan asing terhadap tanah air Indonesia.

Adanya SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) adalah angin segar bagiku dan bagi pendidikan di Indonesia. Bagaimana pemerintah sangat bersemangat menjadikan SDM yang siap pakai dan dapat bekerja serta dapat menerapkan ilmu yang didapat kedalam dunia nyata dan di lapangan kerja. Sayang penerapannya menyeleweng. Tetap saja lulusan SMK tidak paham apa yang ia pelajari karena dia terpaksa masuk SMK. Dia terpaksa belajar ilmu perkayuan di SMK karena tidak diterima di SMA. Akhirnya lulus tak dapat apa-apa. Atau kalau dia benar-benar sekolah di SMK dengan baik, malah pemerintah mendatangkan investor asing agar lulusan SMK siap pakai untuk kebutuhan industrialisasi dan kapitalisme global.

Tetap saja. Anak muda yang menggelandang di jalan. Mengeluh mencari pekerjaan begitu sulit.

Kasian sebenernya lihat yang seperti itu. Andai mereka tidak gengsi dan bersungguh-sungguh dalam belajar di sekolah dulu serta mengembangkan minat dan bakat yang dipunya, aku yakin jumlah pengangguran akan minim. Mindset-nya tidak lagi njagani orang lain (pemilik modal) untuk menjadi karyawan. Tetapi bagaimana cara membikin lapangan pekerjaan. Mindset orang kita banyak yang hidup mencari rasa aman. Woi, dimana pun kita hidup, tidak ada tempat yang aman tau?

Kasihan juga pada orang tua. Membiayai pendidikan sebegitu sulitnya, hasilnya hanya akan menjadi buruh di pabrik. Anak yang gengsi, hura-hura, beli motor untuk mejeng disana sini. Pikirnya, ”aku lho punya uang sendiri, aku bebas merokok, bebas makan, bebas beli motor, trek-trekan atau touring”

”Woi, ingat, yang bikin kamu bisa sukses seperti sekarang siapa?” Orang tuamu yang memberikan pendidikan diwaktu kecil.

Nilai sebagai Hal Yang Saklek Atau Dinamis?

Lihat juga, para elit penguasa. Mereka berdasi rapi, tapi mentalnya korup. Ini juga buah karakter pendidikan yang tidak dipupuk sejak dini. Kalaupun ada pendidikan karakter yang sekarang digembor-gemborkan, itu setidaknya hanya menjadi omong kosong belaka. Karena teknis penyusunannya keliru, mereka menganggap bahwa semua parameter itu dapat disajikan menjadi nilai yang terwujud dalam rapor dan selembar ijasah. Akhirnya semua siswa berlomba-lomba mendapatkan nilai yang baik dan keluar ijasah untuk melamar pekerjaan. Perlombaan itu menghalalkan segala cara.

Yang dapat nilai jelek adalah yang tidak bisa mengerjakan soal ujian. Harusnya malah guru harus menggembleng siswa agar bisa. Bukan malah memberikan nilai jelek saja tanpa corrective and preventive action. Nilai hanya parameter ukur kemampuan, bukan goal yang harus dicapai.

Yang mendapatkan ranking tinggi harusnya bukan siswa pandai, tapi siswa yang punya tekad untuk belajar tinggi. Yang mendapatkan ranking paling bawah atau bahkan tidak naik kelas harusnya adalah siswa yang curang dalam ujian, menyontek, copy paste homework, dan membuka catatan ketika ujian. Ranking jelek bukan milik murid yang tidak bisa mengerjakan soal ujian.

Gengsi, Image, dan Citra Sekolah Perusak Segalanya

Nah sekarang malah kebalik-balik. Guru malah mengajarkan muridnya untuk mengisi jawaban yang benar ketika ujian. Dalihnya takut siswanya tidak lulus. Takut dimarahi kepala sekolah. Takut image sekolah jelek. Kalau jelek tidak ada murid yang daftar ke sekolah itu. Kalau tidak ada murid baru, sekolah tutup, guru jadi gembel. Bupati marah dan akan jadi trending topik, “Satu angkatan di sekolah A tidak lulus ujian nasional”.

Menghalalkan membawa hape, menyontek, kerja sama setika ujian. Jawaban pun mengalir dengan mudah. Atau cara yang paling halus, lembut, dan sulit ditelaah adalah bagamana metode katrol nilai yang dilakukan guru dan kesatuan sistem di sekolah. Menjadi dosa bersama jika sebenarnya anak tersebut tidak naik kelas karena kemampuannya kurang, tetapi untuk menjaga image sekolah, guru menaikkan saja. Takut kalau satu kelas tidak naik kelas, malah masyarakat nge-jugje sekolahan bobrok tidak bisa membikin anak pinter, malah tidak naik kelas, dan membuat beban semakin berat pada orang tua. Padahal memang kemampuan murid belum sesuai dengan kriteria minimal.

Di semua lini pendidikan, Citra sekolah adalah yang nomor satu. Kejujuran adalah yang kesekian.

Bersambung..

 disini

Advertisements

5 thoughts on “Sumbang Asih pada Pendidikan Negeri Ini

  1. Susah untuk merubah semua sistem pendidik yang sekarang ada. Dari jaman ibuku, sampái adik2ku sekarang, framenya mirip2 aja. Berapa banyak ilmu yang dulu saya hapal, cuma agar bisa dapât ranking, yang sekarang gak kepakai, sama sekali.

    Anyway, great saran ditulisanmu ini, nice post 🙂

    1. Yes kerangkanya ya mirip-mirip meskipun beberapa bentuknya bisa jadi berberda. Sippo, thanks sudah mampir. Semoga membuka labirin dan pori-pori pikiran kita supaya lebih kritis dalam menyikapi pendidikan di Indonesia ini. Syukur kalau bisa nyumpang perbaikan. Semangat dan tetap optimis ya kak… 😀

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s