Sumbang Asih Pendidikan Part II

Karena ini bahasan yang serius, perlu lah dipecah menjadi dua bagian. Fungsinya menjaga agar apa yang aku sampaikan tetap sistematis dan dapat mengena di hati para pembaca yang budiman.

Jangan patahkan harapan mereka (sumber gambar)
Jangan patahkan harapan mereka (sumber gambar)

Mengulas kembali pada part I, bahwa jangan terlalu banyak pelajaran yang nggak perlu, jangan terlalu lama di kelas, pendidikan tentang karakter jujur bukan atas dasar parameter nilai saja. Harusnya teraplikasi dalam semua kegiatan di sekolah. Kegiatan agama jangan hanya diukur dari nilai hitam diatas putih saja. Misalnya nilai agama ditentukan oleh seberapa hafalan alqur’annya, nilai ujian agama, dan seberapa banyak ceramah agama yang ditulis pada buku bulan ramadhannya saja. Tetapi dinilai juga dari penerapannya, apakah dia suka mencontek, bagaimana kesehariannya, dll.

Pendidikan yang Seharusnya Murid Miliki

Sebaliknya, pendidikan harus bisa membangkitkan kesadaran kita sebagai manusia. Pendidikan yang digapai bukan semata-mata untuk meningkatkan strata sosial dan untuk menggapai pekerjaan yang layak. Tetapi benar-benar pemurnian tentang derajat ilmu yang memang tinggi. Belajar yang benar-benar mencari cahaya dari ilmu dan manisnya hikmah. Bukan memaknai pendidikan sebagai jalan menggapai materi, uang, kekayaan, hidup yang nyaman.

Pendidikan sudah selayaknya menjadi penghantar yang mengantarkan kita lebih paham dan mengerti posisi diri, mengenal karakteristik dan prilaku sebagai individu. Bagaimana menempatkan dan menyikapi sesuatu. Bagaimana mengolah informasi melalui budaya ilmiah, sistematik, dan kritis. Tidak hanya tahu apa tetapi bagaimana dan mengapa itu bisa terjadi.

Pendidikan yang mengantarkan pada kreasi dan pengembangan bakat dan minat secara koheren. Pendidikan yang membuat siswa paham dan kenal pada diri sendiri. Punya kelebihan dan kekurangan. Paham atas keterbatasan. Penghambaan dan kebergantungan diri dengan Allah.

Karena perbedaan ini menurut saya adalah cara Allah menunjukkan bahwa hamba-hambanya butuh saling melengkapi.

Pendidikan yang baik atau pintar? Sekarang yang dikejar hanyalah skill pintar dan pengetahuan terhadap sesuatu yang dangkal. Yang detail hanya dikuasai barat. Sehingga orang kita hanya berbangga menjadi babu di perusahaan-perusahaan.

Kebaikan itu nomor kesekian. Yang penting kemampuan sudah standar yang diharapkan pabrik, sudah cukup. Akhlaq telah terpisah dengan ilmu. Agama beda dengan pendidikan. Agama tidak sama dengan politik. Semua tersekularisasi. Rahmat dan ruh Allah telah tiada dalam segala bidang dan aspek kehidupan. Kita semua telah tumpul dan tertutup oleh materi duniawi.

Tentang cara menilai.

Anak yang hobi basket tetapi kurang dalam kemampuan matematik harusnya mendapatkan nilai yang bagus dan tetap naik kelas asalkan basic matematiknya masih ada. Orang yang gagap berbicara di depan umum, tidak harus mendapatkan nilai E dalam mata kuliah bahasa Indonesia. Bisa jadi dia jago menulis, menyanyi, atau menggambar.

Sekarang malah terbalik-balik. Parameter nilai itu saklek. Kalau tidak bisa mengerjakan soal ujian mata pelajaran, yasudah nilai jelek atau bahkan tidak naik kelas. Bakat minat lain tidak berkembang. Kalaupun dia juara PON olahraga renang, kalau tidak bisa perkalian bisa tidak naik kelas.

Mungkin faktor itu yang bikin dia terkekang dan berusaha semaksimal mungkin untuk menghalalkan segala cara.

Wahai Bapak Ibu Guru

Ada banyak hal yang harus diperbaiki. Tentang fungsi dan peran seorang guru yang sebatas fasilitator pendidikan. Student learn centered, bukan teacher centered. Sekarang memang sudah digaungkan, tetapi aktualnya tak berjalan lancar. Siswa masih takut angkat tangan untuk bertanya. Guru masih menjadi pusat pemberi materi. Kalaupun sudah ada tool semacam presentasi, siswa yang menyajikan di depan kelas tidak paham dengan apa yang disampaikan. Akhirnya kegagalan total pendidikan yang terjadi, dimana guru tetap melanjutkan presentasi tidak berkualitas itu, dan semua murid tidak mengerti dan tidak mendapatkan apapun.

Guru sudah selayaknya jadi teladan bagi muridnya. Guru tidak hanya patuh pada atasan saja. Guru tidak hanya menuntaskan kewajiban sebagai pegawai yang dibayar oleh negara tanpa memberi masukan apapun pada pemangku kebijakan pendidikan bahwa penerapan pendidikan era kini tidak berjalan dengan baik. Guru harusnya punya niatan yang agung untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Memberikan effort lebih hingga banting tulang menemukan terobosan agar para murid bisa pandai dan berakhlaq baik. Tidak hanya berangkat kerja, mengajar seadanya, pulang mendapatkan gaji. Sudah.

Guru selayaknya aktif dan progresif, tak hanya diam menelan mentah kurikulum yang ada. Mencontohkan semangat pada murid untuk belajar. Menjadi teladan yang baik bagi muridnya.

Kan nggak lucu kalau guru bilang, “Murid dilarang merokok, dirinya sendiri merokok di kelas”.

Tak hanya soal ilmu eksak tetapi juga bagaimana menyikapi problem hidup dan terun di masyarakat. Guru sudah selayaknya menjadi kuping yang baik bagi muridnya. Bukan malah menanam doktrin bahwa guru selalu benar dan murid selalu salah (doktrin bahwa yang muda harus mengikuti yang tua). Apabila ada murid yang agresif, guru akan mengarahkan pada yang baik-baik. Guru sudah selayaknya mengakomodasi potensi yang ada untuk dikembangkan menjadi prestasi. Tanpa harus gengsi takut tersaingi. Tanpa mencari imbalan dan tanda jasa, pangkat, atau kehormatan lain.

Semoga pendidikan negeri ini semakin maju.

Aamiin..

Sekian..

Advertisements

3 thoughts on “Sumbang Asih Pendidikan Part II

  1. Reblogged this on Bukan Logbook Biasa ! and commented:
    Hello gaes, kalian masih inget post yang gue post waktu hari pendidikan kemaren kan ? Soal buruknya pendidikan di Endonesa gitu loh

    Kalo temen-temen butuh referensi, bisa juga baca post ini. I hope it helps you more about education in Indonesia (which is really horrible)

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s